Para Sisya Berikan Penghormatan di Puncak Pertiwaan Ida Pedanda Gede Made Buruan, Dikenang sebagai Sosok yang Rajin Menulis Lontar

single-image

Foto: Prosesi iring-iringan upacara palebon atau pertiwaan Ida Pedanda Gede Made Buruan dari Geria Ulon, Banjar/Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Selasa (7/12/2012).

Karangasem (Metrobali.com)-

Ida Pedanda Gede Made Buruan dari Geria Ulon, Banjar/Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem yang saat walaka bernama Ida Bagus Made Dereda, telah berpulang. Jenazah/puspa pendeta Hindu yang dikenal banyak punya sisya/siswa spiritual ini telah diupacai dalam puncak upacara palebon atau pertiwaan pada Selasa (7/12/2012) yang berlangsung di Griya Ulon Jungutan, Karangasem. Puncak acara ini berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat dengan jumlah peserta yang hadir dibatasi.

Kepergiaan Ida Pedanda Gede Made Buruan meninggalkan kenangan mendalam di kalangan pendeta, keluarga, sisya, umat dan masyarakat pada umumnya yang mengenal sosok pendeta yang saat walaka berprofesi sebagai guru dan sempat dikaryakan mengabdi selama tiga periode menjadi anggota DPRD Karangasem dari Fraksi Golkar.

Bahkan sebagai bentuk penghormatan yang sangat mendalam kepada Ida Pedanda Gede Made Buruan, pada tanggal 5 Desember 2021 lalu Persatuan Pedanda se-Nusantara yang bernama Perkumpulan Dharma Upadesa Pusat Nusantara hadir untuk memberikan doa dan puja agar sang pendeta diberkan jalan, tempat yang utama menyatu dengan sang pencipta.

“Pada tanggal 5 Desember 2021 lalu Persatuan Pedanda se-Nusantara hadir disini, kurang lebih ada 40 pendeta yang hadir disini ikut mendoakan ida bhatara lebar agar mendapatkan jalan yang utama di atas sana,” ungkap Ida Bagus Made Gunawan, putra kedua Ida Pedanda Gede Made Buruan yang sekaligus merupakan manggala karya upacara pertiwaan (ketua panitia upacara) ditemui di sela-sela puncak upacara, Selasa (7/12/2012).

Untuk diketahui Ida Pedanda Gede Made Buruan lebar (meninggal dunia) pada 21 November 2021 bersamaan dengan acara penyinepan (penutupan) pujawali di Pura Besakih. Almarhum Ida Pedanda Gede Made Buruan lebar meninggalkan 6 anak dan 13 cucu, sedangkan istrinya Ida Pedanda Rai Pemayun telah lebar pada tahun 2018 lalu.  Ida Pedanda Gede Made Buruan dari Geria Ulon, juga merupakan ayahanda dari salah satu politisi senior Bali Ida Bagus Oka Gunastawa atau yang akrab disapa Gus Oka dimana Gus Oka pernah menjabat Ketua DPW Partai NasDem Bali dua periode.

Baca Juga :
Walikota-Kadis LH Jakarta Pusat dicopot akibat kerumunan Rizieq

Semasa hidup dan menjalani jalan pengabdian spiritual sebagai pendeta Hindu, Ida Pedanda Gede Made Buruan dikenal sebagai sosok pendeta yang rajin menulis lontar baik tentang wedha, adat istiadat, budaya, seni seperti seni suara kakawin dan lainnya. “Tulisan-tulisan beliu diwariskan kepada kami anak cucu dan generasi penerus,” ujar Gunawan.

Tidak hanya aktif menulis lontas, Ida Pedanda Gede Made Buruan juga dikenal sebagai pemahat topeng, pelukis dan sutradara drama gong. Almarhum pensiun sebagai guru tahun 1997 dan lanjut mediksa sebagai sulinggih.

Selama perjalanan hidupnya di jalan dharma, spiritual dan melayani umat bagai pendeta Hindu, Ida Pedanda Gede Made Buruan juga merupakan pendeta Bawa Sisya yang artinya pendeta Hindu yang sudah punya banyak putra/anak spiritual yang menjadi pendeta (pendeta yang melahirkan banyak pendeta baru secara spiritual melalui proses mediksa) dimana secara keseluruhan Ida Pedanda Gede Made Buruan punya 11 putra /anak spiritual.

Karenanya dari 14 pendeta Hindu yang memimpin (muput) puncak upacara pertiwaan atau palebon pada Selasa (7/12/2021) ini 8 diantaranya merupakan putra/anak spiritual (yang bernabe/berguru/mediksa ke Ida Pedanda Gede Made Buruan). Lewat puja saat memuput puncak acara, para putra/anak spiritual memberikan penghormatan terakhir kepada sang nabe. Para sisya (kerabat, warga sekitar, umat yang dilayani dll) Ida Pedanda Gede Made Buruan juga turut hadir ngayah dalam puncak acara ini.

“Jadi para sisya beliau menghaturkan ngayah (memberikan pengabdian dan penghormatan) sebagai bentuk penghormatan kepada Ida Bhatara lebar,” tutur Gunawan.

Gunawan menjelaskan ada perbedaan dalam upacara pertiwaan atau pelebon Ida Pedanda Gede Made Buruan dengan upacara pelebon/ngaben pada umumnya. “Ada sedikit perbedaan dari upacara pertiwaan ini karena beliau adalah pendeta Hindu dari golongan Brahmana. Misalnya alat-alat puspa atau uparangga (sarana ucapara untuk mengantarkan puspa/jenazah ke tempat pembakaran) itu berbeda. Contohnya pengantar pengusung puspa (jenazah) memakai lembu bukan banteng, secara warna juga berbeda dengan memakai lembu putih,” urainya.

Baca Juga :
BKKKS dan KKKS Harap Tetap jaga Sinergi Atasi Masalah Kesejahteraan Sosial

Kenapa menggunakan simbol lembu putih? Gunawan menjelaskan karena pendeta Hindu itu disetarakan dengan Bhatara (Dewa) Siwa dimana lembu merupakan kendaraan Dewa Siwa. Hal ini berbeda dengan yang Walaka (mereka yang belum di-dwijati menjadi pendeta Hindu.)

Lalu tempat pengusungan puspa atau jenazah dinamakan padma karena itu juga merupakan stana (tempat) Bhatara (Dewa) Siwa. Di belakangnya ada simbol-simbol angsa, empas (sejenis kura-kura), naga. Padmanya berwarna putih dan ada keperakan sebagai lambang kesucian. Jadi namanya bukan bade atau wadah seperti yang diperuntukkan bagi mereka yang masih walaka.

Gunawan menjelaskan upacara pelebon atau pertiwaan ini merupakan upacara yang bertujuan untuk menyatukan unsur-unsur Panca Maha Butha kepada alam. Panca Maha Butha ini merupakan 5 elemen dasar pembentuk alam, baik itu alam makrokosmos atau tubuh manusia maupun mikrokosmos atau alam semesta. Panca Maha Butha ini terdiri atas Akasa (unsur zat ether), Bayu (unsur zat gas), Teja (unsur zat panas/cahaya), Apah (unsur zat cair) dan Perthiwi (unsur zat padat).

“Jadi dalam pelebon atau pertiwaan ini kenapa puspa/jenazah dibakar bukan dikubur karena proses pembakaran itu lebih cepat mengembalikan unsur-unsur Panca Maha Butha penyusun tubuh ini kepada alam,” terang Gunawan.

Dikatakan setelah upacara pertiwaan ini tentu ada rangkaian upacara selanjutnya seperti baligia tapi tentunya tidak dilakukan bersamaan. “Itu kita lakukan nanti pada waktu tertentu, baligia itu untuk menyucikan atman supaya lebih cepat menyatu kembali kepada Siwa, kepada Sang Pencipta,” pungkas Gunawan. (wid)

Bagikan :
style="display:inline-block;width:728px;height:90px" data-ad-client="ca-pub-1781044259527275" data-ad-slot="9355733890">

Leave a Comment

Your email address will not be published.

style="display:inline-block;width:728px;height:90px" data-ad-client="ca-pub-1781044259527275" data-ad-slot="9355733890">
style="display:inline-block;width:728px;height:90px" data-ad-client="ca-pub-1781044259527275" data-ad-slot="9355733890">