Abidjan, (Metrobali.com) –

Liberia berencana mengakhiri pemberlakuan jam malam yang diterapkan sejak enam bulan lalu dan membuka kembali perbatasan yang ditutup sehubungan wabah Ebola, setelah serangan penyakit itu mereda, kata presiden, Jumat.

Liberia sempat menjadi pusat wabah Ebola yang telah menyebabkan 9.000 warga Afrika Barat meningal, namun penularan baru sudah turun dengan cepat dalam beberapa bulan terakhir.

Sekolah-sekolah juga sudah dibuka kembali pada pekan ini, sehingga menjadi penanda kehidupan normal sudah pulih kembali.

“Presiden Ellen Johnson Sirleaf sudah memerintahkan penghentian jam malam yang diterapkan secara nasional. Penghentian jam malam mulai dilakukan pada Minggu 22 Februari 2015,” demikian isi siaran dalam situs kepresidenan.

Tanggal pembukaan jalur perbatasan juga sudah diberikan.

Suatu jam malam mulai pukul sembilan hingga pukul enam pagi diberlakukan sejak 20 Agustus, tetapi kemudian diubah menjadi mulai tengah malam hingga pagi.

Sejumlah daerah menutup perbatasan dengan negara-negara tetangga, menghentikan penerbangan dan larangan mengunjungi Liberia, Guinea dan Sierra Leone, sementara Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa larangan seperti itu akan lebih menyulitkan ketimbang menjadi lebih baik.

(Ant) –

 

Baca Juga :
Perundingan Suriah di Astana pada 23 Januari