Cerita bisnis dan pelayanan pengusaha teh Sri Lanka

single-image

teh sri lanka

Jakarta (Metrobali.com)-

Merrill J Fernando teringat saat berusia empat tahun, ia selalu minum teh setelah bangun tidur di pagi hari.

“Saya suka bau tanaman teh,” kata pendiri Dilmah, merk teh asal Sri Lanka, saat meresmikan t-Lounge by Dilmah di Jakarta.
Suatu hari, saat liburan, Fernando remaja berkunjung ke kebun teh milik seorang temannya. Ia suka menghabiskan waktu di sana
Saat itu, laki-laki kelahiran Pallansena tahun 1930 ini begitu terkesan dengan kerja keras dan dedikasi para pemetik teh.
“Saya sangat terkesan, masih tersimpan di benak saya,” kata dia.
Usai bersekolah di Sri Lanka, ia berkesempatan untuk mengenyam pendidikan tentang teh di Mincing Lane, London, Inggris Raya. 
Di sana, ia belajar bagaimana mencampur dan memasarkan teh. Pendidikannya di sana membuka matanya tentang industri teh di negaranya.
Saat itu, ia melihat teh di Sri Lanka dijual sebagai bahan mentah dan tidak dapat menghidupi petani.
“Indahnya kalau saya punya sebuah merk teh terbaik Ceylon (Sri Lanka),” kata dia.
Ia pun memutuskan untuk mendirikan Dilmah, yang diambil dari nama kedua anaknya Dilhan dan Malik, pada tahun 1988.
Kini, produk buatannya telah dijual di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bagi Merrill J Fernando, bisnis juga berarti pelayanan terhadap sesama manusia.
Membuat orang lain merasa bahagia melalui bisnis yang ia jalani untuk mendapat berkat dari Tuhan, begitu menurut dia.
“Saya datang ke dunia tidak bawa apa-apa. Bagikan apa yang kita punya ke orang lain. Buat dunia ini jadi lebih baik saat kita pergi.”
Dilhan C Fernando pun bergabung dengan sang ayah untuk menjalankan bisnis keluarganya.

Senada dengan sang ayah, Dilhan yang menjabat sebagai Direktur Pemasaran ini juga berpendapat bisnis bukan hanya semata menghasilkan uang, tetapi juga berkontribusi bagi lingkungan maupun manusia.

“Banyak yang tidak sadar kalau bisnis bisa menguntungkan sekaligus bermanfaat bagi manusia dan lingkungan,” kata Dilhan C Fernando.
Misalnya, ia melihat salah satu masalah di negaranya adalah kemiskinan. 
Sri Lanka pernah diduduki oleh Portugis dan Belanda sebelum akhirnya merdeka dari Britania Raya pada 1948.
Perang yang pernah melanda Sri Lanka berdampak pada kesejahteraan penduduk negara tersebut.
Agar bermanfaat, Dilhan mengatakan mereka mendirikan sebuah sekolah masak agar dapat memberi kehidupan baru pada orang-orang yang belajar di sana.
“Bisnis untuk membuat perubahan,” kata Dilhan C Fernando.
Kecintaan keluarga Fernando pada teh ditunjukan dengan berusaha selalu berinovasi untuk memperkenalkan teh.
Ia mencontohkan ketika memperkenalkan salah satu produk teh langka mereka, “Seasonal Flush”, agak sulit karena banyak yang belum mengerti.
Produk tersebut hanya dipanen sekitar setahun sekali dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.
Tetapi, ia memutuskan untuk jalan terus karena meyakini melakukan hal yang benar.
“Teh adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dikerjakan,” kata Dilhan C Fernando. AN-MB 
Bagikan :
Baca Juga :
Women In Russian Culture And Society, 1700

Leave a Comment

Your email address will not be published.

xnxxhd xxx18 hdxxxx xnxx hd