Pandemi Covid-19, Tantangan Peradaban

Metro Bali
single-image
Oleh: I Gde Sudibya
Pandemi Covid-19 sejak pertama dilaporkan dari Wuhan, Tiongkok, 31 Desember 2019 sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Jumlah orang terpapar di seluruh dunia sudah lebih dari 80 juta orang, dengan korban kematian di atas 1,7 juta orang, menyebar di sekitar 220 negara di dunia.
Dampaknya ke kehidupan manusia sangat luar biasa, dari sisi kesehatan, ekonomi, politik dan kebudayaan. Dampaknya dari sisi kesehatan, ekonomi sudah banyak diulas. Dari sisi proses politik dan
pengembangan demokrasi yang lebih substantif, oleh sejumlah pengamat dinilai telah terjadi kemerosotan proses demokrasi selama pandemi, sebagai akibat dari tuntutan pengambilan keputusan publik yang harus dilakukan cepat, dan atau sejumlah elite di banyak negara menggunakan kesempatan dalam ” kesempitan ” ( akibat pandemi ), untuk memaksakan agenda politiknya, menyimpang dari agenda yang telah disepakati sebelumnya.
Dari perspektif kebudayaan, protokol kesehatan untuk menjaga jarak fisik, yang kemudian berdampak menjadi jarak sosial, dalam masyarakat yang yang inti dasarnya adalah mahluk sosial, sudah tentu akan berdampak sangat serius dalam proses berkebudayaan masyarakatnya. Teknologi komunikasi banyak membantu dan memberikan pilihan solusi, namun demikian banyak makna dan pemaknaan kehidupan yang hilang akibat pembatasan sosial.
Tantangan peradaban.
Banyak pengamat berpendapat bahwa: pandemi Covid-19 dengan dampak luas dan substansial yang dibawakannya, merupakan batu uji terhadap insan manusia secara personal, komunitas dan bahkan negara bangsa. Batu uji terhadap peradaban ini, dalam artian kemampuan untuk bertahan, pulih dan kemudian bangkit, dan atau mengalami krisis berkepanjangan, dan kemudian kemerosotan peradaban.
Dalam konteks tulisan ini, dapat disebabkan oleh paling tidak tiga faktor strategis: pertama, merujuk ke pemikiran ekonom pemenang hadiah Nobel tahun 1974 berkebangsaan Swedia: Gunnar Myrdal: negara bangsa lunak dan keras ( soft and strong the natian state ) akan sangat ditentukan oleh sistem nilai yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan, salah satu di antaranya tingkat disiplin di level negara bangsa.
Menurut Myrdal: negara bangsa kuat, yang antara lain dicirikan oleh tingkat disiplin masyarakatnya, akan lebih mampu bertahan dan bersaing dalam merespons perubahan.
Kedua, merujuk ke pemikiran ilmuwan ternama Charles Darwin penemu teori evolusi, bisa ditafsirkan, kemampuan bertahan individu insan-insan manusia, komunitas dan bahkan negara bangsa, tidak ditentukan oleh : kekuatan fisik ( survival of the fittest ) dan intelek, tetapi ditentukan oleh kemampuan dan kecerdasannya dalam merespons perubahan.
Ketiga, tingkat keadaban publik ( civility ), yang berhubungan dengan kualitas kepemimpinan dalam menjalankan amanah publik, modal sosial yang berupa kepercayaan/trust kepada lembaga pemegang amanah publik, kepercayaan antar warga, hal-hal yang berhubungan dengan transparansi dan tanggung jawab sosial.
Kualififikasi ini: disipilin, kecerdasan merespons perubahan, tingkat keadaban publik, akan sangat menentukan: apakah sebuah negara bangsa akan mampu bertahan dan kemudian bangkit melawan pandemi, atau sebaliknya mengalami krisis berkepanjangan, gagal dan kemudian surut dalam percaturan peradaban.
Tentang Penulis
I Gde Sudibya, ekonom, pengamat kecendrungan masa depan ( trend watcher ).
Bagikan :
Baca Juga :
Gubernur Ajak Masyarakat Jaga Kedamaian Rayakan Nyepi

Leave a Comment

Your email address will not be published.

xnxxhd xxx18 hdxxxx xnxx hd