Obral bebas visa efektifkah menjaring wisman?

single-image

visa

Jakarta  (Metrobali.com)-

Kebijakan bebas visa menjadi salah satu jurus andalan Pemerintahan Jokowi-JK untuk menggairahkan sektor pariwisata di Tanah Air.

Faktanya memang banyak negara lain yang menerapkan kebijakan bebas visa kepada lebih banyak negara, kunjungan wisatawannya otomatis meningkat.

Sejak bertahun-tahun lalu, Indonesia hanya memberikan bebas visa kepada 15 negara karena menganut sistem resiprokalatau timbal balik yang berpegang teguh pada prinsip “saling”.

Namun, sejak 9 Juni 2015 Indonesia resmi mengubah strategi dan membuka bebas visa kepada 30 negara yang diharapkan mampu mendongkrak kunjungan 20 juta wisman pada 2020.

Tidak cukup dengan itu, tahun depan pemerintah akan menambah kebijakan bebas visa pada 30 negara yang belum masuk daftar atau list 30 negara tahun ini di antaranya India dan Arab Saudi.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yakin kebijakan bebas visa menjadi terobosan paling efektif untuk mendongkrak kunjungan wisman ke Indonesia.

“Saya yakin kebijakan bebas visa bagi 30 negara tahun ini akan menambah kedatangan satu juta wisman ke Indonesia,” katanya.

Jadi meskipun Indonesia kehilangan pendapatan negara dari visa, devisa pariwisata yang dijaring justru lebih besar.

Selain itu, ia menambahkan, negara-negara tetangga memiliki kerja sama bebas visa yang lebih banyak ketimbang Indonesia karena mereka berani memulai untuk membuka keran bebas visa tersebut kepada negara lain.

“Asas resiprokal itu akan seiring berjalannya waktu, seperti ayam dan telor. Dan dari sisi keamanan kita bersinergi dengan banyak kementerian dan lembaga lain yang terkait. Jadi tidak ada masalah,” katanya.

Industri siap
Merespon kebijakan bebas visa, para pelaku industri menyambut baik namun mendorong implementasi yang baik di lapangan.

Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia atau ASITA Chapter DIY Edwin Ismedi Himna mengatakan kebijakan bebas visa akan sangat membantu para pelaku industri pariwisata.

Baca Juga :
Pramuka Klungkung Rapatkan Barisan, Tekan Salah Pergaulan Pada Anak Didik

“Tapi harus dipastikan pelaksanaannya di lapangan benar-benar didukung dan diimplementasikan dengan baik oleh petugas. Jangan sampai berbeda antara yang di kertas dan di lapangan,” kata Edwin Ismedi.

Menurut dia, kebijakan bebas visa secara teori akan juga mempermudah petugas di bagian imigrasi karena tak perlu memvalidasi halaman visa lagi.

Oleh karena itu, Edwin menekankan pentingnya pengawasan dalam implementasi agar layanan bebas visa benar-benar bisa diterapkan dengan baik dan minim penyimpangan.

Sementara itu Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Yanti Sukamdani mengatakan bebas visa bisa menjadi salah satu daya tarik bagi wisman untuk berkunjung ke Indonesia.

“Bagi kami, juga akan lebih mudah untuk mempromosikan pariwisata kita terutama di negara-negara yang sudah bebas visa masuk ke Indonesia. Ini suatu insentif dan terobosan yang baik,” katanya.

Yanti bahkan sangat yakin kebijakan itu akan sanggup mewujudkan kunjungan lebih dari 10 juta wisman sampai tutup tahun ini.

Pihaknya sendiri berjanji pascabebas visa diterapkan bagi 45 negara mulai tahun ini maka akan lebih banyak program promosi digencarkan di negara-negara yang selama ini belum tersentuh promosi wisata Indonesia.

Presiden yakin

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan kebijakan bebas visa yang baru saja ditambah 30 negara tahun ini akan memberikan dampak yang positif bagi industri pariwisata di Indonesia.

“Saya kira beberapa minggu lalu sudah saya tanda tangani bebas visa untuk 30 negara. Saya kira itu akan memberikan dampak yang baik bagi industri pariwisata,” kata Jokowi.

Namun, menurut Presiden, masih perlu terobosan-terobosan lagi agar betul-betul ada lonjakan dalam industri pariwisata.

“Tapi, menurut saya, masih perlu terobosan-terobosan lagi agar betul ada lonjakan-lonjakan pariwisata dan bisa mendatangkan fresh money bagi negara,” katanya.

Baca Juga :
Patrice Rio Capella Diperiksa Sebagai Tersangka

Maka sejumlah terobosan pun diambil di samping bebas visa di antaranya melalui metode quick win, medium term, dan long term.

Pembentukan convention biro dan border tourism dilakukan sebagai bentuk program percepatan, sementara pembangunan destinasi dengan sarana dan prasarana pendukung menjadi pekerjaan rumah pada tahap menengah.

Pada tahap jangka panjang segera dilakukan pembangunan infrastruktur pendukung termasuk kawasan ekonomi khusus pariwisata karena dalam beberapa tahun terakhir empat KEK yang akan fokus dikembangkan yakni Mandalika, Tanjung Lesung, Sei Mangkei, dan Morotai.

Dan jika semua terobosan telah dilakukan maka Indonesia segera menjelang puluhan juta wisman yang akan membanjiri destinasi-destinasi di seluruh pelosok Tanah Air.

Apalagi bebas visa pun telah diberikan kepada masyarakat di lebih banyak negara untuk datang. Maka bersiaplah menyambut era baru pariwisata Indonesia.  AN-MB

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.