Jembrana  (Metrobali.com)-
Nasib I Kadek Gita Pradewi (2tahun) bocah malang  penderita kanker mata di Banjar Dewasana, Kelurahan Pendem-Jembrana kini terlantar.  Bagaimana tidak, orangtuanya yang hidup berkecukupan  sudah tidak sanggup  membiayai pengobatan kanker mata anaknya karena beban biaya yang sangat mahal.
Sebelumnya Kadek pernah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Sanglah,namun tidak mendapat perawatan yang maksimal lantaran Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM)  tidak menjamin biaya pengobatan penyakit kanker mata anaknya karena JKBM hanya penangani penyakit dasar.
Ketut Putra Yadna (30) ayah Kadek yang kesehariannya hanya bekerja sebagai pekerja serabutan ini mengatakan kalau anak mulai ada  gejala kanker mata sejak 12 Maret 2012. Sebelumnya hanya dikira sakit biasa, mata anaknya terus berair namun  dirinya mencoba membawanya ke Puskesmas dan sudah diberikan salep.  Sempat membaik berkat obat tersebut, namun setelah beberapa hari mata Kadek kembali berair seperti sebelum diobatin salep. “Sudah sempat sembuh berkat salep itu, tapi entah kenapa gejala itu muncul lagi, tanggal 19 Juli 2012, mata anak saya sudah  mulai membengkak. Saya panik dan saya kembali  membawanya ke Puseksmas terdekat,” jelasnya.
Setelah upaya pengobatan melalui Puskesmas tidak berhasil Yadna bersama dengan istrinya Ni Luh Wiantari akhirnya  membawa Kadek  ke RSU Negara. Penyakit Kadek yang harus mendapat perawatan yang maksimal akhirnya Kadek dirujuk ke RSU Sanglah. Namun setelah sempat mendapat pemeriksaan Laboratorium secara gratis, ternyata ketika akan dilakukan pemeriksaan CT Scan, pihak rumah sakit ternyata  meminta orangtua Kadek agar membayar lantaran  JKBM tidak menjamin pembelian obat untuk penyakit kanker dan CT Scan.
Mengetahui hal tersebut Yadna berserta istrinya akhirnya memputuskan untukmembawa anaknya pulang ke Jembrana dan bersaha mengurus Jamkesmas. Tidak ada lain harapan Yadna agar anaknya bisa segera dioperasi dan mendapat perawatan medis yang memadai pasca operasi.
Ia memang mendapat rekomendasi dari Pemkab Jembrana untuk menggunakan Jamkesmas guna mendapatkan perawatan yang memadai di RS Sanglah. Namun harapan tersebut kandas lantaran setelah tanggal 1 Agustus 2012 lalu dilakukan pembatasan penggunaan dana Jamkesmas. “Setelah penggunaan dana Jamkesmas dibatasi,  saya tidak bisa lagi mendapatkan fasilitas Jamkesmas untuk anak saya. Kalau menggunakan dana pribadi, saya tidak punya apa-apa ljangankan untuk baya biaya yangs angat mahal untuk makan saja kami masih merasa kekurangan,” katanya.
Menurut Kadis Kesehatan Jembrana, dr. Putu Suasta Rabu (3/10),  kalau JKBM tidak bisa menjamin pengobatan penyakit kanker. “JKBM hanya melayani penyakit dasar. Sebetulnya warga kurang mampu masih bisa dibantu dengan Jamkesmas, tetapi hal itu tidak bisa dilakukan karena sudah dilakukan pembatasan sejak 1 Agustus 2012 lalu,” jelas Suasta.
Dikatakan Suasta sebetulnya Pemkab Jembrana bisa membantu, namun tidak bisa menggunakan APBD. Karena bakal kesulitan dalam menentukan posting anggaran. Jadi, yang paling mungkin saat ini hanya mengharapkan bantuan dari masyarakat yang peduli terhadap penderita penyakit kanker seperti yang dialami Kadek. Yadna berharap ada uluran tangan yang tentu mau membantu meringkan biaya pengobatan anaknya. DEW-MB

Baca Juga :
Survei: 71,2 persen responden tolak penundaan Pemilu 2024