Indonesia-Australia dorong stabilitas Indo-Pasifik

single-image

Perdana Menteri Laos Thongloun Sisoulith, Presiden Indonesia Joko Widodo, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, Sultan dan Perdana Menteri Brunei Sultan Bolkiah, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-O-Cha, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Puc, Menteri Luar Negeri Filipina Alan Peter Cayetano, Dewan Negara Myanmar Aung San Suu Kyi dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak berdiri bersama saat Leaders Welcome and Familiy Photo di satu kali pertemuan tingkat tinggi 10 anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) di Sydney, Australia, Sabtu (17/3/2018). (REUTERS/David Gray)
Sydne (Metrobali.com)-
Indonesia dan Australia sama-sama mendorong stabilitas kawasan Indo-Pasifik dalam pertemuan kedua negara pada sela-sela ASEAN-Australia Special Summit 2018 di Sydney.

“Pada pertemuan bilateral tadi, kedua pemimpin menyambut baik dan berharap `plan of action` kerja sama maritim segera diimpelemtasikan dan berharap agar pembahasan komunikasi dan konsultasi dalam konsep Indo-pasifik tercapai demi stabilitas di Indo-pasifik,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat memberikan keterangan resmi di Sydney, Sabtu.

Pertemuan bilateral itu sekaligus menjadi kesimpulan dari pertemuan 2+2 antara menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara yang sudah dilangsungkan pada Jumat (16/3).

“Selain itu ada pembicaraan megnenai Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang walau hampir semua selesai, pembicaraan sudah lebih dari 90 persen tapi masih ada bebarapa hal yang harus dibahas kembali dengan Australia,” tambah Retno.

Perundingan antara menteri perdagangan selanjutnya akan dilakukan pada bulan depan.

“Dari laporan Pak menteri perdagangan, pada April akan bertemu kembali untuk menyelesaikan sisa yang ada dari pembicaraan tadi, mudah-mudahan pada akhir tahun ini sudah dapat dicapai kesepakatan,” tambah Retno.

Baca Juga :
Bupati Gianyar Inisiasi KURDA GAS sebagai Program Prioritas Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kabupaten Gianyar

Dalam pembicaraan tersebut, menurut Retno prinsip yang disepakati adalah harus menguntungkan kedua belah pihak.

“Prinsip yang harus disetujui pertama adalah kerja sama CEPA harus menguntungkan kedua belah pihak. Prinsip kedua, dalam CEPA bukan saja `comercial project` tapi yang ditekankan `partnership` dan `cooperation`, jadi kalau ada suatu titik negara kurang mendapat keuntungan tapi di titik lain akan mendapat keuntungan sehingga kalau ditotal menguntungkan kedua belah pihak,” jelas Retno.

Pembahasan ketiga dalam pertemuan bilateral adalah mengenai kerja sama digital Indonesia-Australia.

“Yang ditindaklanjuti untuk peningkatan kerja sama UKM start-up (usaha rintisan) dalam mengembangkan inovasi digital, peningkatan `digital litercy`, dan `smart government` untuk meningkatkan pelayanan publik dan ekonomi kreatif,” ungkap Retno.

Ekonomi digital itu juga menjadi topik yang dibawa Indonesia ketika mendapat jatah memimpin forum MIKTA yang terdiri atas lima negara.

“Ekonomi digital kita jadikan salah satu topik keketuaan Indonesia di Mikta yang terdiri dari Meksiko, Korea, Turki, Indonesia dan Australia dan saat ini Indoensia menjadi ketuanya,” ungkap Retno.

Pada Minggu (18/3) Presiden dijadwalkan menghadiri pertemuan pleno yang membicarakan tiga topik yaitu keterlibatan Australia di ASEAN, kerja sama ekonomi dan penanggulangan terorisme.

Selanjutnya ada juga sesi “ret-reat” yang membahas mengenai kawasan dan isu dunia. Presiden pada sore harinya langsung terbang ke Wellington, Selandia Baru untuk melakukan kunjungan kenegaraan. Sumber : Antara

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.