Denpasar (Metrobali.com)-

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika berharap agar Bali memiliki transportasi murah yang bisa menjangkau seluruh destinasi pariwisata yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Pulau Dewata. Sistem transportasi yang dinilai cocok dengan iklim pariwisata Bali adalah kereta api monorel.

Dengan kereta api monorel wisatawan bisa melakukan perjalanan keliling Bali selama sehari hanya dengan satu transportasi saja. “Kita merancang sistem monorel karena pertimbangan iklim pariwisata yang ada di Bali. Turis bisa keliling sehari, tidak macet, lebih cepat, ekonomis dan sebagainya,” kata Pastika di Denpasar, Rabu 20 Maret 2013.

Menurut dia, kereta api monorel juga dalam kerangka menghemat lahan dan mempertimbangkan efektivitas lalu lintas. Dengan kereta api monorel, Pastika meyakini beberapa titik destinasi pariwisata yang selama ini sulit dijangkat akan lebih mudah diakses baik oleh wisatawan maupun oleh masyarakat umum. Biayanya pun akan lebih murah.

Pemprov Bali sendiri pada tahun lalu telah menandatangi MoU untuk pengerjaan monorel tersebut. Adalah PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) yang menyatakan kesediannya untuk mewujudkan impian Pastika itu.
Hanya saja, katanya, dari hasil studi kelayakan yang telah rampung biayanya sangat mahal, sehingga PT KAI berpikir ulang untuk mewujudkan impian Pastika itu.

“Setelah dihitung dana yang diperlukan sebesar Rp17 triliun. Karena dianggap terlalu mahal, maka mereka membatalkan pengerjaannya,” kata mantan Kapolda Bali itu. Pastika tak putus asa. Ia mencari investor swasta dari berbagai negara. Setelah melalui penjajakan, investor asal China yang paling serius menggarap proyek prestisius tersebut. Investor asal China yang belum disebutkan namanya itu, sambung Pastika, sudah melakukan studi kelayakan.

Namun belum ada keputusan apakah mereka bersedia membangun atau tidak. “Yang jelas pembangunan monorel sangat penting untuk transportasi massal di Bali pada masa yang akan datang,” tegas Pastika. BOB-MB

Baca Juga :
"Bali Beyond Travel Fair" Diluncurkan Di Jakarta