Sosialisasi Pasar Diboikot : Ratusan Kursi Kosong

Metro Bali
single-image

Peserta sosialisasi, ratusan kursi kosong

Jembrana (Metrobali.com)-

Sosialisasi Dinas Perindagkop Jembrana terkait revitalisasi Pasar Umum Negara dan relokasi ratusan pedagang di Wantilan Pura Jagatnatha, Kamis (13/3) diboikot sejumlah pedagang, Pasalnya dari 258 pedagang di Pasar Umum Negara, hanya 7 orang pedagang saja yang hadir. Padahal sosialisasi tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Kadis Perindagkop Jembrana, perwakilan PolresJembrana, perwakilan Kodim 1617 Jembrana dan Direktur Perusda Jembrana.

Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan mengaku tidak mempermasalahkan kehadiran pedagang yang hanya tujuh orang itu. “Satu orang pun yang hadir, sosialisasi ini tetap harus berjalan. Karena kami menghargai orang yang datang. Kami akan sosialisasi terus sampai program ini jalan” ujar Kembang.

Menurut Kembang, revitalisasi tersebut merupakan program Pemkab Jembrana yang sudah disepakati DPRD. “Kami hanya komit dengan perda No 8 tahun 2010, sehingga UMKM di Jembrana berkembang dengan baik” ujarnya.

Kembang sangat menyayangkan lemahnya pemahaman para pedagang, sehingga mudah diprovokasi oleh oknum anggota DPRD Jembrana berinisial JR. “Saya mendengar oknum dewan ini ingin menggagalkan anggaran revitalisasi. Berarti, saat sidang dewan ini tidur dan tidak mengerti fungsinya sebagai anggota dewan, padahal anggaran itu sudah disepakati dewan” tandas Kembang.

Dari proyek itu, Kembang membantah kalau dirinya mendapatkan fee dari proyek yang nilainya mencapai Rp.14 miliar.  “Jujur, kami tidak mencari fee dari proyek ini. Saya bicara ini di depan Pura Jagatnatha. Tujuan kami murni agar pasar bisa lebih bagus, sehingga pedagang bisa lebih nyaman untuk berdagang” ungkapnya.

Sementara, Ketua Peguyuban Pedagang Pasar Umum Negara, Gusti Putu Adnyana dikonfirmasi lewat ponsel mengaku mendapat undangan, namun pihaknya tidak tidak bisa hadir. “Di tempek saya ada warga yang meninggal, jadi saya tidak bisa ikut hadir” ujar Adnyana.

Baca Juga :
Indonesia Miliki Payung Hukum Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Menurutnya undangan yang diterimanya itu bukan ditujukan sebagai Ketua Peguyuban Pedagang, namun sebagai pribadi, sehingga dirinya tidak bisa melakukan koordinasi atau memberitahukan kepada pedagang lainnya. “Teman-teman pedagang bilang, yang mendapat undangan hanya pedagang yang berlokasi di los buah ke barat, sedangkan di los buah timur tidak mendapat undangan” ujarnya.

Asmuni, salah seorang pedagang mengimbau agar Pemkab Jembrana lebih melakukan pendekatan kepada pedagang terutama kepada tokoh pedagang. “Kami disini bukan mewakili pedagang. Lebih baik Pemkab Jembrana segera melakukan pendekatan dengan tokoh pedagang. Jika sudah berkumpul, kami yakin akan mendapatkan solusi” ujarnya.

Dewa Made Darsana, yang istrinya berdagang pedagang di Pasar Umum Negara meminta agar sosialisasi dilakukan di tempat yang dekat dengan pasar. Selain itu, ia juga meminta agar Pemkab ikut memikirkan nasib pedagang saat direlokasi. Pasalnya saat dilakukan relokasi, diyakini pedagang akan mengalami stagnasi penghasilan.

Sementara, terkait banyaknya pedagang yang tidak mendapat undangan, dibantah Direktur Perusda Jembrana Wayan Wasa. “Semuanya sudah kami undang, ini buktinya” ujar Wasa, sembari menunjukkan bukti tanda tangan para pedagang. MT-MB

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.