Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Menpar Arief Yahya Kunjungi Ekowisata Mangrove Jakut

Metro Bali
single-image

arief yahya

Jakarta (Metrobali.com)-

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya akan mengunjungi ekowisata mangrove di Jakarta Utara setelah sehari sebelumnya melakukan kunjungan kerja ke kawasan Kota Tua, Jakarta.

Menpar Arief Yahya berdasarkan agenda kerjanya di Jakarta, Kamis (30/10) siang ini, akan melakukan kunjungan ke ekowisata yang lokasinya dekat dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta tersebut pada sekitar pukul 13.30 WIB.

Humas Kementerian Pariwisata sendiri sudah menyebarkan undangan kepada sejumlah media untuk meliput kunjungan kerja menteri tersebut.

Arief Yahya yang mantan Dirut PT Telkom itu sehari sebelumnya berkunjung ke lokasi wisata sejarah dan budaya Kota Tua Jakarta.

Kota Tua itulah yang menjadi lokasi sidak pertamanya sejak dilantik menjadi Menpar menggantikan Mari Elka Pangestu.

Arief sempat menjajal sepeda onthel di kawasan wisata itu dan berharap sepeda semacam itu akan tetap lestari sebagai ciri khas Kota Tua Jakarta.

Ia sendiri menyatakan akan bertekad untuk mengembangkan dan memprioritaskan revitalisasi Kota Tua Jakarta menjadi salah satu destinasi andalan di ibukota yang mampu mendatangkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Sementara di ekowisata mangrove, Arief Yahya baru akan mencari tahu persoalan yang menghambat perkembangan destinasi tersebut.

Kawasan Ekowisata Mangrove merupakan kawasan hutan yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.

Kawasan ini dikelola oleh Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta sebagai salah satu kegiatan wisata terbatas yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Pada mulanya kawasan hutan mangrove Angke Kapuk dikukuhkan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1939 seluas 1.114 ha pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Pada masa itu kawasan ini sudah dirancang sebagai daerah penyangga lahan basah untuk menampung masa air pada saat pasang besar dan banjir.

Namun dalam perkembangannya kawasan mangrove Angke Kapuk banyak dikonversi menjadi peruntukan lain seperti, pemukiman, tambak terbuka, jalur jalan tol Cengkareng dan lapangan golf pantai indah kapuk.

Salah satu kegiatan pemuliahan tersebut adalah merehabilitasi kawasan mangrove dengan melibatkan peran serta para pihak baik itu pemerintah, institusi, swasta, LSM dan masyarakat sekitar pesisir. AN-MB 

Bagikan :
Baca Juga :
Ini "Jurus" UKM Naik Kelas dan Juara Menurut Ketua UKM IKM Bali R.A Helmi Ginanti

Leave a Comment

Your email address will not be published.