Kasus Covid-19 Ibarat Puncak Gunung Es, AHY: Perlu Tindakan Testing Masif

single-image

Foto: Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Jakarta (Metrobali.com)-

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan harus diakui bahwa Indonesia masih memiliki permasalahan tentang validitas dan transparansi data kasus akibat Covid-19. Ini bisa saja layaknya puncak gunung es “just the tip of the iceberg”.

Hal ini tercermin dari jumlah kasus positif yang ditemukan, per jumlah tes di Indonesia, yang masih 14%. Angka ini, masih jauh di atas standar WHO, sebesar 5%.

“Juga tingkat kemampuan tes kita masih rendah dan tidak merata,” kata AHY “Pesan Kepada Para Kader Demokrat: Bersama Kita Kuat, Bersama Kita Bangkit” Dalam Rangka Memperingati HUT ke-19 Partai Demokrat.

Agar pemerintah makin berhasil, kata AHY perlu kebijakan, dan tindakan “testing”, secara lebih masif. Keebijakan “testing” lengkap itu, meliputi; testing, tracing, treating, isolating, and containing.

Kebijakan testing secara masif ini, sangat mungkin, meningkatkan kasus positif Covid-19, di masyarakat.

“Namun, kita semua tidak perlu panik. Hasil testing yang menyeluruh ini, menjadi jalan menuju kesuksesan, di dalam mengatasi krisis Covid-19, sebagaimana pengalaman negara lain, yang dinilai sukses, dalam memerangi pandemi,” ujar AHY.

AHY menyampaikan ajakan yang tulus untuk memperkuat barisan, bahu-membahu, dan tolong menolong.

Motto besar yang perlu kita angkat tinggi-tinggi, kata AHY, adalah: “Bersama kita kuat, Bersatu kita bangkit”; disertai tekad, dan semboyan kita Bersama: “Masa Kini, Krisis Teratasi; Masa Depan, Kehidupan Bangsa Aman”.

“Kebersamaan adalah kunci menghadapi Covid-19. Sebagaimana orang bijak mengatakan kalau ingin cepat, lakukan sendiri. Tetapi kalau ingin sukses, lakukan bersama-sama,” kata AHY.

AHY kembali mengingatkan bahwa musibah yang kita hadapi ini, nyata. Siapapun, bisa menjadi korbannya. Kita perlu saling berbagi rasa, dan empati. Krisis besar yang melanda negeri ini, juga serius. Karenanya, kita harus lebih bersatu untuk mengatasinya.

Baca Juga :
Bupati Tamba Lantik I Made Budiasa sebagai Sekda Definitif

“Jangan biarkan, satu pun di antara kita, dan juga rakyat, menanggung bebannya sendiri. Dengan negara dan pemerintah, sebagai pemimpin kita harus bisa, menemukan solusi yang tepat dan bisa mengakhiri pandemi corona, dan krisis ekonomi, dewasa ini,” papar AHY.

Lebih lanjut dikatakan untuk menghadapi krisis, dan ujian sejarah ini perlu solusi, kerja keras, dan langkah nyata.  Juga perlu upaya lanjutan dan langkah efektif untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini agar bisa segera menghentikan sebarannya sehingga, lebih banyak jiwa manusia, yang bisa selamat.

Jika ancaman Covid-19, dapat sepenuhnya kita hentikan, kehidupan ekonomi dan sosial, akan dapat dipulihkan. Jika ini terjadi, rakyat Indonesia akan kembali, memiliki harapan dan keyakinan, bahwa masa depannya, tidak gelap.

Dampak langsung dari krisis kesehatan ini, telah membuat ekonomi kita terpukul. Terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, sekitar 8 persen, dari yang semula 2,97 persen di kuartal I, menjadi minus 5,32 persen di kuartal II.

Sementara, pada kuartal III ini, kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi, masih negatif. Ini berarti, kita berada di tepi jurang resesi. Hampir semua sektor utama, yang berkontribusi besar, terhadap Produk Domestik Bruto, mengalami kontraksi; seperti sektor industri, perdagangan, konstruksi, pertambangan, dan sektor lainnya.

Ini semua berdampak langsung, pada meningkatnya angka pengangguran. Diprediksi, terjadi gelombang pengangguran baru, sebesar 5 juta jiwa; menambah angka pengangguran, hingga 12,7 juta jiwa.

“Situasi ini, juga akan berimplikasi, pada meningkatnya angka kemiskinan, dan juga ketimpangan sosial, di tengah masyarakat kita,” kata AHY.

AHY ingin mengingatkan, sebuah fakta sejarah, 12 tahun lalu. Meski ada perbedaan, dari segi penyebab krisisnya dimana krisis tahun 2008 terjadi akibat financial crash  di Amerika Serikat. Sedangkan krisis saat ini disebabkan oleh Covid-19 di Tiongkok. Tetapi keduanya memiliki dampak yang sama yakni terjadinya krisis ekonomi global.

Baca Juga :
PMKRI Dukung Revisi UU Perimbangan Keuangan

“Alhamdulillah, saat itu, krisis ekonomi global tersebut, tidak sampai melumpuhkan ekonomi Indonesia, dan menyengsarakan kehidupan rakyat kita,” kata AHY.

“Di bawah kepemimpinan Presiden SBY dan Partai Demokrat sebagai the ruling party, kita bersama-sama bisa keluar dari krisis itu. Saya meyakini, keluarnya Indonesia dari krisis ekonomi global ttahun 2008, adalah karena bersatunya kita untuk mengatasi krisis itu bersama-sama,” papar AHY.

Menurut saat itu ada kesatuan komando, dan kerja sama yang baik, mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, para ekonom, para pelaku dunia usaha; baik besar maupun kalangan UMKM, serta dukungan seluruh masyarakat.

“Melalui Keep Buying Strategy, kita bisa menahan, jatuh bebasnya “demand”, sehingga bisnis tetap bisa bergerak,” ungkap AHY.

Golongan miskin, dan kurang mampu dibantu melalui BLT, Bantuan Langsung Tunai, sehingga masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dunia usaha, juga dibantu, untuk mencegah gelombang PHK besar-besaran.

Kebijakan stimulus fiskal, juga mampu menjaga kepercayaan pasar, di Indonesia. “Saya yakin, bahwa sekarang pun, kita bisa melakukan hal yang sama,” kata AHY optimis.

Untuk itu, guna mengatasi tekanan ekonomi, akibat pandemi ini, diperlukan upaya yang konseptual, sistematis, dan nyata, untuk memulihkan perekonomian kita.

Kelumpuhan ekonomi yang kita rasakan hari ini, harus segera dihidupkan kembali; agar ancaman resesi yang dalam, dan berkepanjangan, dapat dicegah.

Pertumbuhan dapat ditingkatkan lagi, lapangan pekerjaan dapat diciptakan lebih banyak, kemiskinan dapat dicegah, untuk tidak makin memburuk; serta dunia usaha, termasuk UMKM dapat digerakkan kembali.

Selain memberikan tekanan terhadap dunia usaha, pandemi ini juga berdampak, terhadap kehidupan masyarakat. Karena itu, masyarakat yang tengah mengalami kesulitan hidup yang serius, wajib mendapatkan bantuan dari negara, pemerintah, dan masyarakat, yang lebih mampu.

Baca Juga :
Budayawan : Pemerintah Harus Bisa Menjaga Kepercayaan Publik

Bantuan ini meliputi bantuan untuk menjamin kelangsungan hidup rumah tangga, yang mengalami kesulitan, karena hilangnya mata pencaharian, bantuan nyata sebagai konsekuensi dilakukannya pembatasan sosial yang ketat, serta bantuan kepada rumah tangga, agar lebih bisa memproteksi diri, dari kemungkinan tertular Covid-19.

“Selain itu, kita juga perlu, memperhatikan persoalan pendidikan yang mengancam kualitas
generasi bangsa ke depan. Saat ini, anak-anak kita terpaksa harus menjalani proses Pembelajaran Jarak Jauh, atau PJJ yang membutuhkan jaringan internet, dan perangkat digital yang memadai,” papar AHY.

“Kita tahu, banyak masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan perangkat tersebut. Saya memahami tidak mudah untuk mengatasi persoalan Covid-19 ini. Tapi Insya Allah, jika kita melakukannya bersama-sama kita bisa mengatasinya lebih baik lagi,” papar AHY.

Selain itu, langkah-langkah untuk mengatasi krisis besar ini, umumnya telah dilakukan pemerintah. Namun, melihat perkembangan situasi, dan hasil nyata yang ada saat ini, upaya itu masih harus dilanjutkan, dan ditingkatkan.

“Kami optimis, jika kita bersatu, dan bekerja bersama dalam menghadapi pandemi ini, maka dua-duanya bisa kita selamatkan. Baik manusianya, maupun ekonominya. Jangan ada yang dikorbankan. Jangan sampai, krisis ini menyengsarakan rakyat kita, lebih dalam lagi.

Untuk itu, AHY mengajak seluruh kader Demokrat, bersama semua elemen bangsa dan masyarakat luas, untuk ikut menyukseskan berbagai upaya, yang telah dilakukan oleh negara dan pemerintah, hingga saat ini.

“Melihat besarnya krisis yang kita hadapi, disertai dengan pengalaman sejarah masa lalu, kita harus sadari bahwa tanpa kebersamaan, dan dukungan semua elemen bangsa serta masyarakat luas, tidak mungkin krisis saat ini akan dapat kita atasi,” pungkas AHY. (wid)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.

xnxxhd xxx18 hdxxxx xnxx hd