Jpeg

Penampilan Drama Tari Anak-Anak Sanggar Alit Sundari
Denpasar (Metrobali.com)-
Masyarakat mulai pukul 16:30 Wita sudah mulai memadati kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya, Art Center-Denpasar untuk menyaksikan Drama Tari Anak-Anak yang dibawakan oleh Sanggar Alit Sundari, asal Banjar Budaireng, Batuyang, Batubulan Kangin, Sukawati duta kabupaten Gianyar pada Senin (04/7).

Mengawali pementasan dengan mempersembahkan Tabuh Tegak Bebarongan “Wiraga Nyungsang”, sanggar dibawah pimpinanI Nyoman Sunarta ini, sejak awal sudah sukses memukau penonton yang hadir menyaksikan dengan beberapa atraksi tetabuhannya.

Gelak tawa penonton pecah ketika dipentaskan Tari Lepas Cilinaya dan Tari Kembang Kirang. Ternyata, penarinya semua laki-laki. Gerakan dan gemulainya mereka menari membuat penonton memberikan upplause cukup tinggi sembari tertawa. Menurut Nyoman Sunarta, selaku pembina sanggar mengungkapkan jika penari Tari Lepas tersebut selain menari, biasanya mereka sebagai penabuh.

“Mereka sebenarnya penabuh, tapi kami meminta kepada mereka untuk belajar juga menari untuk bisa menampilkan pementasan yang berbeda. Dulu sebenarnya penari-penari kebanyakn memang laki-laki, dengan ini kita ingin sampaikan jika laki-laki juga bisa menari yang biadanya ditarikan oleh perempuan. Karena sekarang memang, laki-laki dan perempuan derajatnya kan sama,” ungkap Sunarta disela-sela pementasan.

Tak sampai disitu, penampilan Arja Cilik yang dalam kenampilannya membawakan cerita “Mula Nyuh, Mupu Daksina” tersebut kembali sukses menghibur penonton dengan guyonan-guyonan khas anak-anak ditambah banyolan-banyolan sehari-hari yang dengan mudah dimengerti. Mula Nyuh, Mupu Daksina tersebut bercerita tentang seorang kakek bernama Pekak Rungu.

Dia merupakan seniman didesanya yang kesehariannya berkebun dengan menanam pohon kelapa diatas tanah miliknya, dengan harapan suatu saat akan bermanfaat bagi orang banyak. Darah senimannya ia tularkan ke anak cucunya termasuk pohon-pohon kelapa yang dimilikinya.

Iapun berpesan agar apa yang dimilikinya bisa terus dilanjutkan oleh keturunannya kelak. Singkat cerita, akhirnya pohon kelapa tersebut bermanfaat sebagai sarana upacara dan sebagainya. Selain itu, didirikan pula sanggar seni sebagai wujud pelestarian seni dan budaya.

“Tema PKB tahun ini kan Karang Awak, mencintai tanah kelahiran. Dengan cerita ini dapat kita sampaikan bahka apa yang diwariskan oleh Pekak Rungu dapat kita lanjutkan pelestariannya termasuk juga pohon kelapa tersebut yang hingga kini selalu menjadi sarana upacara umat Hindu di Bali,” imbuhnya.

Penampilan duta kabupaten Gianyar tersebut ditutup dengan ditampilkannya Drama Tari Dolanan berjudul Ngakuin Tain Kebo. AD-MB