Semarapura (Metrobali.com)-

Di tengah minimnya jumlah pelukis seni klasik Bali, ada keinginan dari kalangan pelukis agar seni klasik itu sebaiknya diajarkan di sekolah-sekolah sebagaimana halnya tari-tarian Bali. Di Bali, keberadaan pelukis seni klasik ini tidak ditemukan merata di seluruh Bali. Salah desa yang dikenal sebagai ‘kantong’ pelukis seni  klasik Bali adalah Desa Kamasan Kabupaten Klungkung, dan hanya satu dua orang saja masih ditemukan di Desa Kerambitan Kabupaten Tabanan, serta di kawasan Bali Utara Kabupaten Buleleng.

Menurut salah seorang pelukis seni klasik Bali asal Desa Kamasan Kabupaten Klungkung, Mangku Muriati, 45, saat ini jumlah pelukis seni klasik di desanya hanya puluhan orang saja, dan itu pun hanya mengambil peran sepotong-sepotong, misalnya hanya sebatas mewarnai. Sedangkan pelukis yang ‘utuh’ (yang mengerjakan dari  proses awal sampai akhir) jumlahnya kurang dari sepuluh orang.

Terkait kondisi tersebut, Mangku Muriati berharap pemerintah ikut berperan dalam mengembangan seni lukis klasik dengan cara memasukkan materi seni lukis klasik ini untuk diajarkan di sekolah-sekolah, sama seperti tari-tarian Bali yang diajarkan di sekolah. “Saya berharap seni lukis klasik Bali ini diajarkan di sekolah-sekolah sebagaimana halnya tarian-tarian,” harap Mangku Muriati di Museum Gunarsa, KLungkung, Bali, Kamis (24/11). Dengan demikian penyebarluasan dan proses pewarisan keterampilan seni lukis klasik kepada kalangan  generasi muda bisa dipercepat dan lebih memasyarakat. Selama ini, kata Muriati, pihaknya malah menerima sejumlah kelompok pelajar dari Jakarta yang ingin belajar melukis seni klasik Bali.

Terkait akan digelarnya Festival Seni Lukis KLasik Bali oleh Museum Gunarsa, Muriati sangat mengapresiasi. “Saya senang dan menyambut baik akan digelarnya festival ini. Padahal mestinya peran ini datang dari pemerintah,”  ujar Muriati yang alumnus Program Studi Seni Rupa dan Desain (PSSRD) Universitas Udayana (kini sudah gabung dengan Institut Seni Indonesia) Denpasar.

Baca Juga :
40 Sineas Muda, Unjuk Gigi Film "Urbanis Apartement" di Ajang Balinale Film Festival ke-8

Selain menyoroti perhatian pemerintah yang minim terhadap upaya pelestarian dan pengembangan seni lukis klasik, Muriati juga mengaku menghadapi sejumlah kendala mulai dari kesulitan mendapatkan bahan baku hingga pemasaran.

Meski demikian, Muriati yang mengaku sudah merampungkan seratusan karya seni lukis klasik itu sudah terjual ke berbagai negara seperti Jepang,  Eropa, Australia dan Amerika. “Saya juga sering menerima pesanan tema tertentu pembauatan lukisan seni klasik Bali,” ujarnya.

Untuk tema disesuaikan dengan tempat pemajangan, seperti untuk rumah atau hotel biasanya bertema Ramayana, sementara  untuk Pura temanya tentang tewa-dewi. Sedangkan untuk pewarnaan tetap dia yang menetukannya.(rus)