Denpasar, Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara tidak disadari telah membawa perubahan lingkungan secara cepat dan komplek. Perubahan tersebut berpengaruh pada persepsi, wawasan, sikap masyarakat, serta kesadaran dan kecintaan terhadap budaya termasuk bahasa daerahnya. Demikian dikatakan Drs. Made Mudra,M.Si Kadis Kebudayaan Kota Denpasar saat membuka Seminar Bahasa Bali Dan Kaligrafi, Selasa (18/10) di Ruang Baladewa Shala Kampus UNHI Denpasar. Hadir pula dalam acara tersebut SKPD terkait, Para Instruktur, Nara Sumber dan Ka. UPT Kecamatan Se-Kota Denpasar.

Dikatakan, kegiatan ini diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari. Ia menambahkan dewasa ini semakin nampak adanya gejala dijauhinya bahasa Bali dalam kancah pergaulan keseharian masyarakat Bali. ”Gejala seperti ini mestinya diantisipasi dengan cepat melalui karya nyata bila tidak ingin bahasa Bali semakin terpinggirkan”, ucapnya. Seminar yang berlangsung selama tiga hari melibatkan guru-guru agama Hindu dan guru Baha Bali Se-Kota Denpasar nantinya diharapkan mampu memperdalam kemampuan para guru dalam menunjang upaya pelestarian bahasa Bali terutama dikalangan para siswa sekolah.

Melalui berbagai kegiatan seperti; lomba niastra, puisi, cerpen, lomba mesatua, pidato bahasa Bali, Utsawa Dharma Gita, lomba lagu dan lain-lain. Disamping itu kegiatan ini juga digunakan untuk menyusun suatu rumusan yang komprehensif mengenai kebijakan, strategi serta penyusunan program pembinaan dan pengembangan bahasa, aksara dan sastra Bali secara berkelanjutan. Dalam pelestarian bahasa Bali selain peran Pemerintah, peran keluarga juga sangat menentukan. Untuk itu Mudra berharap agar bahasa Bali yang merupakan bahasa Ibu harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam situasi keluarga maupun dalam situasi resmi seperti; rapat, pelantikan dan lain-lain.

Baca Juga :
Koster : Partai Telah Memberi Peluang Kader dan Non Kader Daftar Cagub Bali

Mudra juga menjelaskan disasarnya para guru agama maupun bahasa dalam seminar ini mengingat sekolah merupakan pusat budaya untuk itu seyogyanyalah sekolah menjadi ujung tombak dalam upaya pelestarian budaya ini. Maka dari itu kegiatan ini amat penting artinya dalam rangka untuk memperkuat basis budaya serta memperkuat jati diri bangsa disamping sebagai upaya dalam mewujudkan Denpasar Sebagai Kota Berbasis Budaya. Sementara Gede Nala Antara salah seorang narasumber mengatakan, kegiatan ini amat penting artinya dalam melestarikan bahasa Bali agar tidak punah. Dan berbahasa Bali harus dibiasakan dalam setiap kesempatan dan diwariskan kepada anak-anak sejak usia dini.