Arsip – Gumpalan asap mengepul dari serangan Rusia selama gencatan senjata 36 jam untuk Natal Ortodoks yang diumumkan Presiden Rusia Vladimir Putin, saat serangan Rusia terhadap Ukraina berlanjut, dari garis depan Kota Bakhmut di Donbas, Ukraina, 7 Januari 2023. (ANTARA/REUTERS/Clodagh Kilcoyne/as

Moskow/Kiev , (Metrobali.com)

Rusia pada Minggu (8/9) mengklaim telah menewaskan 600 tentara Ukraina lewat ‘operasi balasan’.

Pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia menyebutkan bahwa operasi tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan rudal Ukraina terhadap posisi sementara pasukan Rusia di Kota Makeyevka di wilayah Donetsk awal tahun ini.

Dituliskan pula bahwa selama 24 jam terakhir badan intelijen Rusia mendeteksi titik penempatan sementara Angkatan Bersenjata Ukraina di Kota Kramatorsk di wilayah Donetsk. Kabar ini dibenarkan oleh sejumlah saluran independen.

“Terdapat 700 lebih tentara Ukraina di asrama No28 dan 600 lebih tentara di asrama No47,” tulis pernyataan tersebut.

“Lebih dari 600 tentara Ukraina tewas akibat serangan rudal besar-besaran di lokasi penempatan sementara unit AFU (Angkatan Bersenjata Ukraina),” katanya.

Sementara itu, kepala militer wilayah Dontesk Ukraina mengatakan di Telegram bahwa militer Rusia menembakkan tujuh rudal ke kota Kramatorsk dan tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.

“Setelah tengah malam, musuh meluncurkan tujuh serangan roket ke Kota Kramatorsk dan dua ke Kota Kostyantynivka. Satu lembaga pendidikan, satu pabrik industri dan satu bengkel di Kramatorsk serta kawasan industri di Kostyantynivka hancur. Untungnya, tidak ada korban jiwa,” katanya.

Menurut Kirilenko, pasukan Rusia juga menggempur Kota Horlivka di kawasan tersebut dan seorang warga sipil tewas.

Donetsk, yang berbatasan dengan Rusia, merupakan wilayah Ukraina yang dilanda konflik dengan separatis dukungan Rusia sejak 2014. Pada September Moskow mengatakan pihaknya menguasai wilayah tersebut, sebuah langkah yang ditolak sebagian besar komunitas internasional.

Sumber: Anadolu