Mangupura (Metrobali.com)-

          Festival Budaya Pertanian akan segera digelar pertengahan Juli 2012 di Badung Utara, tepatnya di areal Jembatan Tukad Bangkung, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Latar belakang penyelenggaraan kegiatan ini tidak terlepas dari keinginan untuk menciptakan keseimbangan sebaran fisik dan dampak pembangunan antara Badung Utara dan Badung Selatan yang selalu menjadi aspirasi dan apresiasi publik. Sebagai kawasan penyangga, Badung Utara sudah memberikan dampak ekologis yang luar biasa kepada kawasan Badung Selatan dalam bentuk tata air dan udara yang mengalir secara alami. Membangun respon dan partisipasi masyarakat adalah salah satu kunci untuk menentukan keberhasilan penyelenggaraan event, seperti Fesival Budaya Pertanian yang nantinya diharapkan akan dapat menyentuh spirit dan emosi seni masyarakat / petani, serta budaya pertanian ini bisa memperkuat ”taksu”dari kegiatan festival.
Hal tersebut terungkap pada acara diskusi tentang upacara Ngebek Widhi dan Ngebek Temukuran yang dilaksanakan di Jaba Tengah Pura Penataran Puncak Mangu, Senin (6/2). Acara dihadiri oleh Kadis Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan (Kadistanhutbun) Kabupaten Badung I.G.A.Kt. Sudaratmaja, Ketua PHDI Kabupaten Badung Drs. I Nyoman Sukada  selaku narasumber, Camat Petang, Kepala Desa Pelaga, tokoh adat, budaya, agama, kelian Subak Abian yang ada disekitar Desa Pelaga serta beberapa petugas pertanian.
Kadistanhutbun Sudaratmaja mengatakan, di masyarakat pegunungan sangat akrab dengan tradisi yang bercirikan ”linggayat” yaitu tradisi ritual yang memanfaatkan keberadaan lingga yoni sebagai sarana pemujaan dengan orientasi kesuburan dan kemakmuran. Ciri inilah yang tercermin dalam upacara Ngebek Widhi dan Ngebek Temukuran yang masing – masing  merupakan aktivitas masyarakat pengempon Pura Pucak Mangu dan Pucak Bon.
Ditambahkan, Ngebek Widhi oleh masyarakat pengempon Pura Pucak Mangu dilaksanakan setiap Purnama sasih kewulu. Upacara ini dilaksanakan dengan sarana upacara khusus (banten kuno) yaitu pelupuhan babi yang terdiri dari nasi sasahan yang disajikan diatas daun telujungan, yang dipersembahkan kepada Dewa Wisnu lambang kesuburan dan kemakmuran. Sehari setelah Ngebek Widhi, masyarakat pengempon mendapatkan tirta yang sebelumnya dipakai membasuh lingga. Tirta inilah kemudian dipercikkan disawah atau tegalan dengan harapan hasil panen sawah dan tegalan akan berlimpah.
Pada waktu bersamaan masyarakat disekitar Pura Pucak Bon juga melaksanakan ritual Ngebek Temukuran yang mirip dengan Ngebek Widhi. Sarana upacara yang digunakan adalah banten Sok Temukuran yaitu banten menggunakan alas daun telujungan dimana yang menengadah diletakkan nasi (simbul pradhana) dan yang telungkup diisi jajan ( simbul purusa) yang dipersembahkan kepada Bhatara Sri Amerta yaitu manifestasi Tuhan memberikan kesuburan. Sehari setelah selesai upacara, masyarakat pengempon juga mendapatkan tirta yang sebelumnya dipakai membasuh lingga yang kemudian dipercikkan disawah atau tegalan dengan harapan hasil panen sawah dan tegalan akan berlimpah.
Lebih lanjut Sudaratmaja menjelaskan, Festival Budaya Pertanian secara garis besar mengandung dimensi spirit budaya pertanian, konservasi ekologi dan juga regulasi ekonomi. Dengan adanya tradisi ini diharapkan akan menjadi spirit dan taksu dari kegiatan festival, serta diharapkan pula nantinya masing – masing kecamatan  bisa menggali potensi budaya khas yang ada didaerahnya untuk diusung sebagai tema festival, sehingga Festival Budaya Pertanian akan mampu tampil bertabur khasanah budaya pertanian adhi luhung yang berasal dari seluruh wilayah Badung. MB1

 

Baca Juga :
Korsel serukan kehati-hatian dalam penanganan masalah semenanjung Korea