Karangasem (Metrobali.com) – Ratusan warga menyemut berebut air bersih pada dua sumur galian sedalam tiga hingga lima meter di lereng perbukitan Dusun Kalangsari, Desa Datah, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem.

Dengan membawa ember dan kaleng bekas, warga silih berganti menimba air pada permukaan sumur bergaris tengah sekitar dua meter itu.

I Gede Warsa (41), salah seorang warga setempat menuturkan, sedikitnya 1.200 kepala keluarga (KK) yang berasal dari enam dusun di Desa Datah, kebutuhan airnya kini hanya bertumpu pada dua sumur purba tersebut.

“Hanya dua sumur peninggalan leluhur kami itu saja yang kini masih mengeluarkan air, selebihnya kering kerontang,” katanya menuturkan.

Senada dengan Gede Warsa, beberapa warga lain mengungkapkan, sumur tua tersebut nyaris tak pernah kering meski kemarau berlangsung cukup panjang.

Anehnya, kata Ketut Srini (34) menimpali, pada musim penghujan tiba, betapa pun lebatnya, permukaan air sumur tetap seperti sedia kala.

“Permukaan air baik pada musin hujan maupun kemarau, tetap segitu-gitu aja, yakni sekitar tiga meter di bawah permukaan tanah,” katanya.

Sehubungan dengan terbatasnya sumber air, sejak kemarau muncul belakangan ini, dua sumur purba tersebut menjadi ramai oleh warga yang datang dari enam dusun di kawasan Desa Datah yang tofografi wilayahnya berkemiringan antara 15 sampai 45 derajat.

Warga yang datang tidak hanya untuk kepentingan mengambil air dibawa pulang, tetapi juga mencuci dan mandi di areal tersebut.

Akibatnya, puluhan warga yang sore itu menunggu giliran untuk menimba air, tampak antre di luar areal sumur yang dibatasi dinding terbuat dari susunan bebatuan itu.

Sementara situasi alam di areal sumur, terlihat daerah semak-semaknya telah dihiasi dedaunan yang menguning dan kecoklat-coklatan, serta yang telah rontok dari ranting dan dahan.

Baca Juga :
Samsung Galaxy Note 8 akan dibekali kamera ganda 13MP?

Hanya beberapa tanaman keras seperti jambu mete yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat, serta bambu dan pisang, yang masih tampak cukup hijau.

Ni Luh Saba (60), sesepuh Desa Datah, menyebutkan bahwa air yang diambil dari sumur selain untuk kebutuhan minum, memasak, cuci pakaian, dan mandi, juga untuk mencukupi kebutuhan ternak babi dan sapi.

“Masyarakat umumnya menggunakan air secara hemat karena persediaan air pada bak penampungan air hujan di rumah tangga masing-masing sudah habis, sementara hujan yang ditunggu-tungu belum turun dari langit,” ujar Ni Luh Saba.

Tidak hanya di Desa Datah, namun kekeringan juga melanda sejumlah desa lain di Kecamatan Kubu dan Kecamatan Seraya, di ujung timur Pulau Dewata itu.

Untuk menanggulangi kesulitan warga, Gubernur Bali Made Mangku Pastika menginstruksikan Kepala Dinas PU dan Kepala Dinas Sosial di jajarannya untuk mengerahkan mobil tangki guna memberikan pelayanan air bersih di daerah kekeringan.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng mengatakan, Dinas PU Bali mulai hari ini mengerahkan satu unit mobil guna memasok air bersih kepada penduduk di beberapa desa di Kubu, yang daerahnya tergolong paling parah mengalami kekeringan.

Bersamaan dengan upaya pemasok air bersih, sebuah mobil yang dikerahkan untuk pertama kalinya itu juga sekaligus ditugaskan untuk melakukan pemantauan terhadap daerah mana saja yang mendesak butuh air bersih.

Selain itu, mobil yang dioperasikan perdana itu juga mendapat tugas memantau kondisi daerah yang memungkinkan untuk dilalui kendaraan roda empat pengangkut air.

“Jika kondisi di lapangan sudah jelas, tentu kami akan menambah armada yang harus dikerahkan ke wilayah Bali bagian timur itu,” ucap Ketut Teneng.

Baca Juga :
Gerakkan Transaksi UMKM, RAMERAME.CO.ID Sebar Voucher Tebus Murah

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali Ketut Susrama mengaku bahwa pihaknya susdah melalukan koordinasi dengan Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mengenai teknis penanganan bencana kekeringan di daerah itu.

“Kami sudah sepakat untuk mengerahkan empat mobil tangki yang akan memasok air bersih kepada sejumlah desa di Kecamatan Seraya,” katanya.

Mengenai kemungkinan kekeringan kali ini masuk dalam kategori kasus luas biasa (KLB), Ketut Teneng mengatakan bahwa pihaknya belum dapat menentukan itu.

“Kami belum dapat tentukan, tergantung hasil survei yang dilakukan tim pendahulu dengan sebuah mobil yang dikerahkan ke lapangan,” ujarnya.

Menurut dia, jika nantinya ditemukan petunjuk bahwa kekeringan di Karangasem dalam kategori KLB, tentu upaya penanganan akan dilakukan dengan lebih seksama dan tuntas melibatkan unsur-unsur terkait.

“Kami akan terus lakukan pemantauan dan pengakajian di lapangan guna menggetahui kejadian yang sebenarnya. Mudah-mudahan tidak sampai KLB,” kata Teneng (ant)