Denpasar (Metrobali.com)-

Dalam rangka menggali keraifan budaya lokal sekaligus memeriahkan Hut Kota Denpasar Ke 20. Pemkot Denpasar melalui Dinas Kebudayaan bekerjasama dengan Forum Pekaseh Semaya Mathika Sanur Kauh Densel menggelar lomba Lelakut. Sunari dan Pindekan antar Subak Se-Kota Denpasar. Lomba yang dibuka langsung  Walikota Denpasar IB Rai D. Mantra ditandai dengan membunyikan kepuakan. Hadir pula mendampingi Sekkot Rai Iswara, DPRD Kota Agung Widiada dan A.A. Kompyang Raka, Kadis Kebudayaan Md. Mudra, Kadis Pertanian Ambara, Camat Densel, Kades/Lurah dan undangan lainnya, Senin (20/2) di Subak Intaran Barat dan Timur Desa Sanur Kauh.

Jelantik Ketua Panitia Lomba dalam laporannya mengatakan, lomba yang diikuti oleh seluruh subak Se-Kota Denpasar ini didasari atas keinginan Pemerintah Kota Denpasar untuk mendorong kreatifitas petani sekaligus mengingatkan generasi muda tentang makna sesungguhnya dari lelakut, sunari maupun pindekan. Hal ini bertujuan agar kearifan budaya lokal ini tidak hilang termakan jaman bahkan sebaliknya bisa eksis ditengah-tengah gempuran peradaban modern.

Dikatakan pula masing-masing subak yang dikelompokkan per-Kecamatan akan mengeluarkan 2 paket diantaranya lelakut berpasangan laki-perempuan, sunari dan pindekan. Dan harus memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan seperti; bahan, proses, kreatifitas, rancang bangun dan aci-aci. Untuk semua jenis yang dilombakan diantaranya Lelakut, sunari dan pindekan, sudah dipasang di sawah atau lokasi lomba sejak 19 Pebruari dengan lokasi sesuai nomor peserta dan puncak penilaian dilakukan pada tanggal 20 Pebruari 2012 mulai pukul 09.00 pagi.

Bagi pemenang panitia menyediakan hadiah berupa uang, piala dan piagam untuk juara I, II dan III. Yang besarannya diatur sebagai berikut, juara I untuk semua jenis lomba seperti lelakut, sunari dan pidekan akan menerima hadiah uang sebesar Rp. 2.500.000,  juara II Rp. 2 juta rupiah, juara III Rp. 1.500.000 dan juara IV menerima 1 juta rupiah.

Usai membuka resmi acara lomba Walikota IB Rai D. Mantra beserta undangan lainnya berkesempatan meninjau ke lokasi sambil sesekali melakukan bincang-bincang dengan para petani. Pada prinsipnya Walikota berharap budaya yang mengandung kearfifan lokal yang merupakan identitas dari sebuah kegiatan nenek moyang kita terdahulu harus mampu digali, dikembangkan dan dilestarikan, ujarnya. (Sdn.Hms.Dps.).     

Baca Juga :
Komoditas pisang jadi unggulan petani Lebak