Denpasar(Metrobali.com) Pedagang kerajinan tradisional rupanya makin cemas dengan keberadaan ritel modern yang menjual produk serupa secara terpusat. Ini dirasakan pedagang di Pasar Kumbasari. Sebagian besar dari mereka mengeluh akibat maraknya ritel modern. Apa dampaknya?

LAHAN parkir, lokasi yang mulai tidak strategis, serta ritel kerajinan modern yang terus bermunculan membuat para pedagang di Pasar Kumbasari galau.

Hingga sekarang, jumlah kunjungan ke pasar di sebelah barat Tukad badung tersebut tak pernah membaik.

Kegalauan hati pedagang pun tak pernah terobati, malah makin memburuk setelah segmen pasar makin direbut ritel modern. Lahan parkir yang sulit diakses kendaraan besar adalah keluhan lama para pedagang.

Budiartha pedagang lukisan di lantai dua pasar mengatakan, hingga sekarang lahan parkir yang kurang mengkhusus bagi wisatawan adalah salah satu faktor lesunya kunjungan. “Lahan parkir hanya untuk pedagang dan konsumen lokal di Pasar Badung. Kendaraan wisata yang parkir bahkan sering diusir karena memenuhi tempat,” ujarnya sembari mengeluhkan minimnya porsi bagi kendaraan wisata di areal parkir depan Pasar Badung, Jumat (5/8) kemarin.

Harapan terbesarnya tentu saja, terwujudnya akses kendaraan besar seperti bus yang direncanakan akan berlokasi di sebelah timur lahan parkir yang sekarang atau di lahan parkir sepeda motor di pinggiran Jalan Sulawesi. “Kami harap itu bukan sekadar wacana, karena hingga sekarang belum terealisasi,” ujar dia.

Selain lahan parkir, lokasi Pasar Kumbasari yang mulai kurang strategis karena bertempat di tengah kota dan di jalur lalu lintas padat juga memurungkan raut muka pedagang. Jalanan yang makin padat, membuat angkutan wisata lebih beralih ke ritel lain yang lebih mudah dikases.

”Kelebihan ritel modern adalah pemilihan lokasi usaha. Ritel modern biasanya berlokasi di jalur-jalur vital seperti jalur by pass, tentu saja sangat gampang diakses,” ujar Padmiari, pedagang suvenir lainnya.

Baca Juga :
Sosialisasikan Kebijakan Stimulus OJK, Rai Wirajaya bersama JIWATERA Bakar Semangat “Warga Gumi Lahar” Karangasem Bangkit dari Pandemi

Keberadaan ritel kerajinan modern yang mulai menyaingi Pasar Kumbasari juga dibenarkan AA Ketut Kartika selaku Kepala Unit Pasar Kumbasari. Menurutnya, makin maraknya ritel modern serta teknik promosi yang jauh lebih baik, makin memecah segmen pasar di perkotaan yang sebelumnya dimiliki oleh Pasar Kumbasari. “Saat masa kejayaannya di tahun 80-90-an, Pasar Kumbasari adalah satu-satunya ritel tradisinal di Kota Denpasar yang paling dicari wisatawan. Namun kini kondisi jauh berbeda, maraknya ritel modern membuat murung wajah pedagang di sini (Pasar Kumbasari-red),” ujar Kartika.

Kontribusi Pemerintah Kota terhadap nasib pedagang pun, sebut Kartika, tidak sedikit. Perluasan lahan parkir adalah salah satu usaha untuk memperbaiki nasib pedagang di Pasar Badung dan pasar Kumbasari. Namun, karena konsumen di Pasar Badung lebih mendominasi, mau tak mau porsi parkir untuk pengunjung Pasar Kumbasari lebih sedikit.

Menjawab persaingan ritel modern dan ritel dalam skala lokal tradisional, Ketua DPD Aprindo Bali, Drs. I Gusti Made Dhordy mengatakan, peritel besar berskala modern sebaiknya jangan melemahkan peritel kecil berskala tradisional. Sebaliknya harus merangkul dan bersama-sama membangun perekonomian daerah.

Dhordy mengimbau kepada pengusaha retail modern supaya mampu bersinergi dengan retail tradisional agar tidak ada dikotomi antara kedua level retail tersebut. “Jangan ada dikotomi antara ritel modern dengan ritel lokal yang bersifat tradisional. Ritel modern justru harus mendukung ritel tradisional untuk berkembang bukan malah saling menjatuhkan,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu sinergi yang bisa dilakukan ritel besar dengan ritel kecil adalah menyerap lebih besar lagi produk UMKM yang dikelola ritel kecil. Bagi Dhordy, sudah seharusnya ritel kecil dirangkul dan dijadikan mitra ritel besar sekelas hypermart.

Harapannya adalah agar ritel modern ikut memberikan dorongan kepada usaha retail lokal tradisonal untuk bersama-sama saling mendukung dan berkembang, sehingga dapat bersaing di pasar global. “Setiap anggota Aprindo akan diajak untuk merangkul ritel di level tradisional dan bersama-sama menjadikan usaha ritel sebagai lokomotif perekonomian daerah dan nasional,” pungkas Dhordy.