Foto: Politisi muda PSI yang juga Sekretaris DPW PSI Provinsi Bali Cokorda Dwi Satria Wibawa.

Denpasar (Metrobali.com)-

Anak-anak muda semakin menempati posisi dan peran yang strategis dalam panggung politik baik sebagai subjek maupun objek.

Maksudnya ada anak-anak muda yang terlibat aktif menyampakan pandangan dan sikap politiknya serta bergabung ke partai politik dan terjun ke politik praktis. Di sisi lain ada anak-anak muda yang hanya memberikan suaranya saat pemilu dan menjadi objek rebutan suara dari peserta pemilu tiap hajatan pemilu.

Namun tidak jarang juga anak-anak muda yang terjun aktif di politik masih menerima nada-nada miring, mereka masih ada yang diremehken, di-under estimate, dianggap anak bawang dalam panggung politik dan sebagian harus tertunduk dalam paradigma junior-senior.

Bagi tokoh muda yang juga politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Cokorda Dwi Satria Wibawa pandangan negatif terhadap anak-anak muda tersebut sebenarnya tidak relevan. Sebab jangan lupa sejarah lahirnya bangsa Indonesia ini tidak lepas dari peran anak-anak muda yang berani mengambil sikap politik melawan penjajah dan bergabung dalam perjuangan merebut kemerdekaan yang salah satu tonggaknya dengan lahirnya Sumpah Pemuda.

Jadi jangan lagi ada anggapan anak-anak muda yang berani menyampaikan pandangan dan sikap politiknya hingga yang berani bergabung ke partai politik dianggap tidak punya kemampuan, jangan dianggap “anak bawang atau anak ingusan, ataupun anak kemarin sore”.

“Jangan pernah under estimate terhadap gerakan anak muda di politik. Jangan lagi anak muda diremehkan di politik,” tegas politisi muda yang akrab disapa Cok Dwi ini saat berbincang dengan wartawan Metro Bali, Jumat (28/1/2022) saat ditanya pandangannya tentang masih ada anak-anak muda yang diremehkan saat berani tampil di panggung politik.

Baca Juga :
BMKG catat 28 gempa susulan pascagempa Magnitudo 7,1 di Malut

Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi ini menegaskan anak muda punya energi lebih melakukan gerakan-gerakan termasuk gerakan politik karena mereka masih punya energi dan semangat yang membara. “Tapi kalau orang-orang tua kan sudah tidak ada energi, semangatnya tidak berkobar seperti anak muda. Kalau anak muda bilang ayo kita bergerak ya mereka semangat bergerak,” ujar Cok Dwi.

Dikatakan PSI merupakan partai yang identik dengan anak-anak muda dan mengambil salah satu positioning sebagai partainya anak muda serta menjadi pioner dan pelopor partai politik (parpol) yang sangat serius merangkul dan memberikan kesempatan kepada anak-anak muda tampil di panggung politik.

Langkah PSI ini belakangan mulai diikuti partai politik lain yang juga memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan anak-anak muda serta mengakomodir mereka menjadi bagian anggota parpol maupun di level pimpinan.

“Parpol mulai sadar bahwa anak muda adalah pasar yang harus digarap sebagai pasar yang potensial, apalagi untuk Pemilu 2024 jumlah pemilih dari kalangan anak muda cukup besar dan punya pengaruh juga. Pemilih di 2024 rata-rata dari generasi milenial, generasi Z dan generasi Alpha. Jadi elit parpol sudah menggarap anak-anak muda dan memberikan ruang besar kepada anak-anak muda,” terang Cok Dwi.

Politisi muda PSI kelahiran Singaraja, 5 Agustus 1987 ini lantas menegaskan walaupun belakang banyak parpol mulai sadar menggarap anak-anak muda namun tetap PSI yang jauh-jauh sebelumnya sudah menjadi pelopor dan motor penggeraknya untuk menggerakkan anak-anak muda Indonesia.

“Jadi kalau mereka (parpol) baru menggarap anak-anak muda saya bisa bilang sudah seperti terlambat karena anak mudahnya sudah melekat di PSI. Jadi kalau mereka mau membranding partainya sebagai partai anak muda ya tetap saja partai anak muda sudah melekat di PSI,” urai Cok Dwi.

Baca Juga :
Bali Raup 5,66 Juta Dolar dari Patung

“Tidak mungkin partai anak muda partai yang lain. Brandnya sudah kami dapat. Kalau mereka mau pakai anak muda pun kita sudah tidak masalah, tidak merasa terancam karena brandnya anak muda ya PSI,”sambung tokoh muda yang pernah aktif di berbagai organisasi seperti BEM Universitas Udayana, GMNI, dan Pemahi Bali ini.

Di sisi lain Cok Dwi juga mengajak anak-anak muda punya perspektif baru melihat dunia politik bahwa politik itu bukanlah sesuatu yang menyeramkan atau dunia yang kejam penuh trik dan intrik. Politik itu adalah sesuatu yang mulia, sebagai sebuah jalan perjuangan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan sarana mensejahterakan rakyat.

“Saya mengajak anak muda melihat politik tidak serem. Seperti kami di PSI, berpartai itu rileks, tidak tegang,” tuturnya.

Bagi Cok Dwi PSI yang telah begabung di PSI sejak tahun 2017 dengan langsung dipercaya sebagai Wakil Ketua DPW PSI Provinsi Bali dan kini menjabat sebagai Sekretaris DPW PSI Provinsi Bali, PSI juga partai yang sangat cair dan tidak ada sosok bos di partai ini yang bisa main atur dan perintah seenaknya.

“Tidak ada yang namanya bos disini gitu lho.  Dengan Bro Ketum (Plt Ketua Umum PSI Giring Ganesha) pun kita biasa, kita ngobrol chatting, atau duduk ngopi bareng itu hal yang biasa. Bahkan kami bondingnya bukan sebagai pengurus, tapi bondingnya sebagai keluarga, ngobrol-ngobrol, seru lah pokoknya kalau di PSI itu,”pungkas Cok Dwi. (dan)