Denpasar (Metrobali.com)-

Bagi banyak orang potongan-potongan kayu sisa produksi furnitur tak lebih dari onggokan limbah yang tak begitu bernilai. Paling banter kayu-kayu itu diolah menjadi arang atau kayu bakar. Tapi di tangan Merry Porajouw limbah kayu berupa potongan, serpihan, balok, dan reng itu menjadi produk baru berkualitas unggul untuk komoditi ekspor.

Bersama seorang kolega Merry kumpulkan limbah-limbah kayu dari berbagai perusahaan furnitur lalu mengolahnya menjadi panel-panel artistik. Panel-panel tersebut dapat digunakan sebagai dekorasi dinding rumah.

Lalu, di bawah bendera PT. Woodart Center Bali Merry mengupayakan produk tersebut terjual ke mancanegara dengan harga relatif menggiurkan.

Sejak 2020 Merry mulai mengumpulkan limbah kayu dari beberapa tempat di daerah Bali. Jenis kayu-kayu tersebut antara lain Dolken (Melalueca Cajuputi), Kayu Besi (Eusideroxylon Zwageri), Kamper (Cinnamomum Champora), Balau Kuning, Kayu Flare, dan Jati.
Setelah mengumpulkan limbah kayu itu, Merry melakukan beberapa tahapan proses yakni memilah, memotong-motongnya dalam ukuran tertentu, kemudian menyusunnya menjadi produk dalam beberapa bentuk desain. Setalah jadi, produk tersebut diberi sentuhan akhir dengan membalurinya anti jamur dan pewarna natural. Alhasil, produk tersebut terlihat menarik dan bernilai ekonomis.

Di luar bisnis, langkah Merry mengubah limbah kayu menjadi produk-produk bernilai ekonomis, turut mengurangi penebangan pohon sebagai bahan rumah. Jika berkembang dan menjadi kesadaran banyak orang, hal ini akan berdampak langsung bagi pelestarian hutan dan lingkungan hidup. Apalagi beberapa jenis kayu yang kerap dijadikan sebagai bahan bangunan, semisal Kayu Ulin, tidak mudah tumbuh, sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menjaga kesinambungannya.

“Jadi, selain sebagai bisinis, usaha kami ini juga merupakan gerakan peduli lingkungan. Dengan mengolah limbah kayu menjadi produk berkualitas tinggi kami mengajak siapa saja untuk turut menjaga bumi dengan mengurangi penebangan pohon,” papar Merry.

Baca Juga :
Bupati Tjok Agung Pimpin Evaluasi Pemerintah Desa Nusa Penida

Di sisi lain, usaha yang dilakukan Merry merupakan kerjasama yang mutualistis. Bagi pengusaha furnitur, apa yang dilakukan Merry membantu mereka mengurangi limbah yang menumpuk di tempat usaha mereka. Bagi Merry sendiri, limbah itu adalah bahan baku murah bahkan cuma-cuma untuk produk bisnis berkualitas tinggi.
“Di luar itu, melalui upaya untuk memberi nilai tambah pada bahan yang semula tak berguna ini, kami ingin berpartisipasi membuka lapangan pekerjaan seluas mungkin,” imbuh Merry.