Menanti Tradisi “Manis” Pergantian Presiden

single-image

mantan presiden ri

Jakarta(Metrobali.com)-

Sejarah mencatat, hampir dalam setiap peralihan kekuasaan di negeri ini, pelantikan seorang presiden masih meninggalkan sejumlah luka dari pendahulunya.

Sejak jaman Orde Lama ke Orde Baru, hingga Orde Reformasi, peralihan dilaksanakan dalam suasana yang tidak mengenakan.

Soekarno ditolak pertanggungjawabannya oleh MPRS pada 1967 terkait pengkhianatan G30 S PKI, sementara Soeharto akhirnya memilih ‘lengser keprabon’ setelah huru-hara kerusuhan dan tekanan dari masyarakat luas pada Mei 1998.

Wakil Presiden BJ Habibie kemudian menggantikan Soeharto. Sebagai presiden di masa transisi, Habibie diminta menyelengarakan pemilu. Ditolaknya pertanggungjawaban Habibie oleh MPR pada 1999 membuat dia tidak bisa maju. Habibie menjadi Presiden sejak 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999.

Dalam pemilihan presiden di MPR baru pasca reformasi, Abdurrahman Wahid terpilih menjadi Presiden dan kemudian menggandeng Megawati yang sebelumnya rival, menjadi Wakil Presidennya.

Namun Gus Dur, demikian ia disapa, tak bertahan lama menjadi presiden (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001). Gus Dur kemudian dilengserkan oleh MPR karena sejumlah kebijakan yang dianggap kontroversial.

Megawati Soekarnoputri, yang menjabat sebagai Wakil Presiden kala itu, kemudian naik menjadi Presiden, meneruskan sisa masa jabatannya hingga 2014.

Di jaman Megawati inilah perubahan besar terjadi. Presiden yang semula dipilih oleh MPR berubah menjadi dipilih langsung oleh rakyat.

Pemilihan presiden langsung digelar pada 2004. Susilo Bambang Yudhoyono yang menggandeng Jusuf Kalla memenangi pemilihan presiden secara langsung pertama tersebut.

SBY-JK mengalahkan Megawati Soekarnoputri yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi.

Meski pemilihan langsung berjalan dengan lancar dan aman, namun sayangnya masih menyisakan ‘ganjalan’ politik antara Megawati sebagai petahana kala itu dengan SBY yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di Kabinetnya.

Ganjalan politik pasca pemilihan presidenpun tidak cair. Komunikasi keduanya tak lancar.

Alhasil, Megawati tidak hadir dalam pelantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004.

Saat pemilihan presiden 2009 digelar, kembali SBY maju untuk kedua kalinya, dan Megawati juga ikut berkompetisi. Kali ini SBY menggandeng Boediono sebagai calon wakil presidennya sementara Megawati menggandeng Prabowo Subianto.

Pemilihan Presiden yang kedua kalinya ini kembali dimenangkan oleh SBY. SBY menang dalam satu putaran dengan perolehan lebih dari 60 persen suara.

Lagi-lagi, kebekuan terjadi antara SBY dan Megawati. Rivalitas antar keduanya di pemilihan presiden tidak juga cair.

Lagi-lagi Megawati Soekarnoputri sebagai mantan presiden tidak menghadiri pelantikan SBY yang kedua kalinya.

Tradisi Politik Kebekuan dalam tradisi pergantian pucuk pimpinan negeri ini perlu untuk dirubah. Persaingan dalam politik sedianya tidak meninggalkan kesan perpecahan.

Perpecahan di tingkat elit tentunya bukan contoh yang baik bagi masyarakat Indonesia. Apalagi masyarakat Indonesia yang majemuk.

Presiden Susilo Bambang jauh-jauh hari dan dalam berbagai kesempatan menyatakan ingin membuat tradisi politik yang baru, tidak lagi dipenuhi ganjalan politik dalam setiap pelantikan Presiden.

Kebekuan antara presiden lama dengan presiden baru yang seringkali menjadi ganjalan komunikasi antara dua pemimpin.

Guna mewujudkan hal itu, Presiden Yudhoyono siap merancang agar presiden baru disambut dengan upacara militer saat memasuki Istana Kepresidenan.

“Saya merancang sebuah tradisi baru, pada 20 Oktober, setelah sama-sama hadiri sidang MPR, saya akan bersiap di Istana untuk sambut presiden yang baru, dengan upacara militer yang baik,” kata Presiden Yudhoyono dihadapan para perwira tinggi TNI di Jakarta pada 2 Juni 2014 lalu, sebelum pemilihan presiden digelar.

Antara Presiden yang baru dan yang yang lama bertemu dalam seremoni untuk menghormati presiden baru yang dipilih rakyat.

Gelaran itu kinipun telah menjadi agenda. Setelah SBY dan Presiden Terpilih Joko Widodo (Jokowi) yang akan dilantik Senin 20 Oktober 2014 sepakat.

Rencananya keduanya akan melakukan upacara itu seusai pelantikan, sekitar pukul 14.00 WIB.

Mencairkan Kebekuan Politik Sementara itu, upaya memulai tradisi politik yang lebih menyejukan tidak akan lengkap tanpa menghilangkan residu atas pemilihan presiden pada 2014.

Persaingan yang keras di antara dua kandidat Jokowi-JK dan Prabowo Subianto-Hatta, menyisakan sejumlah residu yang tentunya dapat menjadi ganjalan politik di masa depan.

Usai pemilihan presiden yang dimenangkan Jokowi, ternyata tak membuat panasnya suhu politik menurun.

Komunikasi Jokowi dan Prabowo mengalami kebekuan. Sengitnya penentuan Pimpinan DPR dan MPR seperti menjadi manifestasi dari persaingan Jokowi dan Prabowo.

Entah dari mana datangnya, isu tentang akan dihambatnya pelantikan Jokowi juga mengemuka. Media terus memberitakan kemungkinan diganjalnya Jokowi untuk dilantik menjadi Presiden.

Prabowo dengan Koalisi Merah Putihnya digambarkan akan terus melakukan perlawanan terhadap Jokowi yang didukung Koalisi Indonesia Hebat.

Inisiatif Presiden Terpilih Jokowi untuk bertemu dengan Prabowo secara langsung diikuti dengan niat tulus Prabowo yang bersedia bertemu pada Jumat, 17 Oktober 2014, di Rumah Kertanegara IV, Jakarta, telah mencairkan suasana.

Meski hanya 15 menit bertemu di rumah mendiang ayah Prabowo, Begawan Ekonomi Sumitro Djojohadikusumo, dua elit politik itu telah membuat wajah muram menjadi ceria. Layaknya hujan di musim kemarau.

Pertemuan itu sekaligus memupus prasangka akan dendam politik yang selama ini selalu menjadi hantu dalam setiap pergantian presiden.

Prabowo berjanji akan datang dalam pelantikan Jokowi bila urusannya di luar negeri dapat selesai pada Minggu (19/10) ini.

Prabowo juga menyerukan pendukungnya untuk turut mendukung pemerintahan Jokowi menjadi Presiden meski siap untuk melakukan kritik dan koreksi kepada pemerintah.

“Saya sampaikan partai yang saya pimpin, teman-teman saya yang mendukung saya, saya minta untuk mendukung Joko Widodo. Apabila ada hal-hal yang kami nilai tidak menguntungkan rakyat kami tidak segan-segan menyampaikan kritik dan koreksi,” kata Prabowo kepada pers bersama Joko Widodo.

Tak ayal pertemuan tersebut di sambut positif berbagai pihak. “Pertemuan itu menjadi pertemuan bersejarah bagi kita. Dua peserta pemilu telah selesai berkompetisi, bisa bertemu dengan suasana cair,” kata Ketua KPU Husni Kamil Manik.

Kini penantian sekian tahun menjadikan tradisi pergantian kepemimpinan yang sejuk dan manis telah di depan pintu gerbang.

Jokowi-JK akan dilantik oleh MPR pada hari Senin, 20 Oktober 2014 mendatang. AN-MB 

Bagikan :
Baca Juga :
Pemerintah dan DPR masih bahas revisi UU ITE

Leave a Comment

Your email address will not be published.

xnxxhd xxx18 hdxxxx xnxx hd