Buleleng (Metrobali.com)-

Gede Cakra (32) berasal dari Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng merasa tergerak hatinya untuk mengabdikan diri sebagai penyuluh Agama Hindu.

Berangkat dari keinginannya itu, iapun melamar pekerjaan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng. Upayanya itu berhasil dan diterima pada Tahun 2018 lalu. Bak gayung bersambut, Gede Cakra diberdayakan sebagai penyuluh Agama Hindu non PNS.

Selanjutnya dengan bermodalkan perjanjian kerja dan pengetahuannya, maka dirinya itu memberanikan diri hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan pembinaan terkait ajaran Agama Hindu.

Keinginan Gede Cakra mengabdikan dirinya sebagai penyuluh agama, bukannya tanpa alasan. Mengingat seiring berjalannya waktu dengan perkembangan arus globalisasi, masalah pengetahuan mendalam terhadap ajaran Agama Hindu bagi kaum milenial sekarang ini, sudah tidak lagi sekental dahulu. Dimana dalam hal ini, terkesan telah terkikis oleh perkembangan jaman era globalisasi. Seperti tampak dan tak jarang terlihat jelas generasi muda di Bali pada umumnya dan Buleleng pada khususnya sudah tidak begitu memperhatikan pakem-pakem berbusana adat ke pura.

Artinya, di tengah-tengah gempuran perkembangan jaman terkhusus fashion busana adat, dibutuhkan edukasi berupa siraman rokhani kepada masyarakat yang kurang paham tentang pengetahuan Agama Hindu, misalnya untuk bersembahyang ke pura.

Tekadnya Gede Cakra untuk melestarikan adat, seni dan budaya Agama Hindu mengukir berbagai kisah suka duka yang menjadikan dirinya menjadi pribadi dengan kualitas yang lebih baik dan matang.

Berawal dari ceritanya via telepon, Gede Cakra mengaku pertama kali hadir di tengah-tengah masyarakat dalam acara keagamaan di Pura Desa Pacung. Disana ia merasa sangat gugup, karena semua mata tertuju padanya. Namun, berkat rahmat Tuhan, penyampaian edukasi yang keluar dari mulutnya mendapat respon positif dan apresiasi masyarakat sekitar.

Baca Juga :
Wapres minta menko perketat koordinasi

Gede Cakra membawakan materi tentang peran wanita sebagai benteng tradisi Hindu di Bali.

“Kita diterima oleh masyarakat Desa Adat Bangkah, Desa Pacung dengan baik dan penuh rasa kekeluargaan dalam memberikan berbagai pengetahuan terkait pembinaan ajaran Agama Hindu. Hal ini adalah tugas berat bagi Saya dan teman-teman penyuluh,” ungkapnya.

Menurut Gede Cakra, menjadi tenaga penyuluh Agama Hindu itu tidaklah mudah, harus memiliki jiwa yang mulia dan juga menjadi tauladan di tengah-tengah masyarakat yang berbeda karakter. Dalam hal ini, modal sebagai penyuluh dalam kesehariannya memang cukup berat, mulai dari menyiapkan materi, penguasaan materi, hingga pada ketekunan sikap yang baik untuk menebar kebaikan.

“Hingga kini, selain bertugas di Desa Adat Bangkah, Saya juga memberikan penyuluhan di tempat lain, seperti di panti asuhan, panti jompo, dan beberapa yayasan yang menjalin kerjasama dengan Kantor Kementerian Agama Buleleng,” terangnya.

Tidak hanya fokus pada tugasnya di wilayah binaan, Gede Cakra juga “Ngayah” di desanya bilamana dibutuhkan untuk memberikan pembinaan. Ia tidak pernah ragu sedikit pun, karena dirinya itu telah berkomitmen bahwa menjadi penyuluh Agama Hindu harus selalu siap dan pekerjaannya adalah tugas mulia.

Lantas seperti apa kesejahteraan seorang penyuluh agama.

Merunut dari sudut penghasilannya, Gede Cakra selaku tenaga penyuluh Agama Hindu non PNS memang terbilang kecil untuk memenuhi kebutuhan bersama keluarganya. Namun demikian, ia tidak pernah goyah untuk memberikan pembinaan dan mewujudkan generasi muda Buleleng yang patuh akan “Sradha dan Bhakti” sebagai pemeluk Agama Hindu.

Untuk pemenuhan kebutuhan hidup, Ayah dua anak dari satu orang istri ini mengaku beternak babi kecil-kecilan di rumahnya. Ia mengakui penghasilannya sebagai pegawai non PNS belum mencukupi untuk kebutuhan keluarga, maka dari itu ia secara bertahap mengumpulkan modal untuk beternak babi.

Baca Juga :
Bupati Candra Tanam Perdana Padi Sistem SRI

“Astungkara, dengan dukungan orang tua dan istri, Saya bisa beternak babi hitam. Yaaaa untuk membantu ekonomi keluarga. Semoga usaha jual beli babi yang saya tekuni, bisa lancar terus,” tutupnya.

 

Sumber : Gus Sadarsana