Denpasar (Metro Bali)-
Guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof Dr Drs I Nyoman Artayasa, M.Kes menegaskan, konsep menjadi suatu keharusan dalam desain interior, sehingga mampu menciptakan rancang bangun yang memiliki karakter dan sanggup memecahkan masalah.”Konsep itu lebih menekankan pada estetika dalam menciptakan keindahan, dan elemen-elemen dasar mampu menciptakan keamanan dan kenyamanan,” kata Prof Dr I Nyoman Artayasa, guru besar tetap pertama pada Program Studi Desain Interior Jurusan Desain Fakultas Seni Rupa dan Desain FSRD ISI di Denpasar, Kamis.

Pada acara pengukuhan dan pengenalan guru besar dalam orasi ilmiah berjudul “Konsep, estetika dan teknis dalam bingkai ergonomi total pada desain interior”, ia mengatakan, semua itu pada akhirnya akan mampu meningkatkan produktivitas pemakainya.

Semua penerapan itu melalui tahapan-tahapan yang ada pada sistem perencanaan mulai dari kajian ergonomi hingga proses akhir yang dihasilkan. Dalam pembentukan konsep desain, unsur pemilik, pengunjung dan pengguna harus mendapat perhatian dalam bidang aktivitas, pengorganisasian serta lingkungan.

Demikian juga perhatian terhadap civitas dalam membentuk konsep harus berdasarkan pada kelebihan, batasan serta kekurangan, sehingga dalam pengimplementasiannya, konsep benar-benar berdasarkan teknologi tepat guna.

Prof Artayasa menambahkan, dalam menyusun konsep harus disesuaikan dengan lingkungan fisik, sosial, serta peraturan pemerintah setempat.

Dalam mengelola unsur-unsur pembentukan estetika lebih menekankan pada titik, garis, bidang, bentuk dan tekstur itu dalam suatu keseimbangan, harmoni, irama dan komposisi sehingga mampu mewujudkan suatu pembangunan untuk lingkungan kerja yang aman dan nyaman.

Dengan demikian unsur teknis peranan ergonomi sangat mudah dirasakan keberadaannya, karena batasan dan kekurangan manusia dalam  penyesuaian terhadap aktivitas cukup mudah diaplikasikan.

Upaya tersebut mampu mewujudkan hubungan dan sirkulasi antar ruangan dalam menciptakan keamanan dan kenyamanan dalam beraktivitas, ujar Prof Artayasa.(*)

Baca Juga :
Bahasa Daerah Bali Tidak Boleh Hilang