Foto: dari kiri ke kanan- Presiden Mahasiswa BEM-PM UNDIKNAS Gusti Agung Ayu Bintang Maharani Putri, Wakil Rektor II UNDIKNAS Dr. AAA Ngurah Sri Rahayu Gorda, Wakil Rektor III UNDIKNAS Dr. Made Wirya Darma, Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan Pekerja dan TPPO Kementerian PPPA Priyadi Santoso dan Kepala Pusat Studi UNDIKNAS Dr. Gung Tini Gorda.

Denpasar (Metrobali.com)-

Sinergi kolaborasi yang super keren terwujud nyata melalui Seminar Internasional dengan tema “Bersama Lindungi Perempuan, Wujudkan Kesetaraan Gender” di Auditorium Dwi Tunggal UNDIKNAS Denpasar dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day yang jatuh pada 8 Maret 2023 ini.

Seminar internasional ini terselengara atas sinergi kolaborasi antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa (BEM-PM) UNDIKNAS Denpasar, Pusat Studi Undiknas, Perempuan Pemimpin Indonesia, dan Rotary Club Of Bali Bersinar. Seminar juga dirangkaian dengan penyerahan penghargan oleh Lembaga Prestasi Indonesia Dunia atau LEPRID atas inisiasi gerakan “2023 HARAPAN UNTUK PEREMPUAN DUNIA” yang menjadi program dari BEM-PM UNDIKNAS 2023.

Sebagai keynote speaker dalam Seminar Internasional ini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia Ibu Bintang Puspayoga yang diwakili oleh Staf Ahli Menteri Bidang Penanggulangan Kemiskinan Titi Eko Rahayu. Acara dibuka Rektor UNDIKNAS yang diwakili Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Doktor Made Wirya Darma.

Seminar internasional digelar secara offline dan online yang diikuti juga mahasiswa dari berbagai negara secara daring serta sejumlah organisasi internasional di bidang perempuan. Secara offline dihadiri pula Dinas yang menangani urusan pemerintah bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali.

Panel Talkshow dalam Seminar Internasional melibatkan sejumlah narasumber dan materi menarik dengan dipandu moderator Anak Agung Mia Intentilia yang juga Kepala Pusat Kajian ASEAN dan Internasional UNDIKNAS Denpasar.

Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa (BEM-PM) UNDIKNAS Denpasar Gusti Agung Ayu Bintang Maharani Putri dalam laporannya menyoroti Provinsi Bali menjadi provinsi terendah dengan keterlibatan perempuan menjadi seorang pemimpin, yakni 3 persen.

“Kami berharap setelah seminar internasional ini berakhir para peserta bisa membuka pikiran dan benar-benar menjadi seorang perempuan yang bisa mengambil sikap, mengambil kesempatan untuk memilih, mengambil kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin,” kata mahasiswi yang akrab disapa Gung Ayu ini.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan RI Anak Ibu Bintang Puspayoga yang diwakili oleh Staf Ahli Menteri Bidang Penanggulangan Kemiskinan Titi Eko Rahayu berharap seminar internasional ini dapat menyebarluaskan semangat kepedulian untuk mengakhiri diskriminasi, stereotipe, subordinasi, beban ganda dan kekerasan terhadap perempuan untuk mewujudkan kesetaraan gender.

Serta mendiseminasikan urgensi kepemimpinan perempuan di sektor publik untuk penyusunan kebijakan responsif gender dan layanan yang lebih berkualitas. Termasuk kebijakan dan layanan terkait dengan kekerasan dalam rumah tangga, ruang publik, situasi darurat, dan kondisi khusus,” harap Titi Eko Rahayu.

“Melalui seminar ini saya berharap kita menyadari betapa pentingnya memperjuangkan kesetaraan gender untuk perempuan. Karena kalau perempuan punya akses lebih luas dan mampu ikut menentukan arah pembangunan maka perempuan akan mendapatkan hak yang setara

Sementara itu Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Doktor Made Wirya Darma berharap dengan seminar internasional ini bisa menguatkan upaya mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. Ia juga mengutip salah satu sloka yang menyebutkan dimana wanita dihormati di sana para dewa merasa senang, dimana wanita tidak dihargai, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.

Menurutnya wanita sudah mendapatkan tempat yang spesial jauh sebelum peradaban ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya istilah yang mewakili perempuan seperti ibu pertiwi, kemudian istilah ibu kota hingga ibu jari. “Jadi artinya kaum perempuan sudah mendapatkan tempat yang spesial sejak dulu,” tegasnya.

Selanjutnya Panel Talkshow dalam Seminar Internasional melibatkan sejumlah narasumber dengan dipandu moderator Anak Agung Mia Intentilia yang juga Kepala Pusat Kajian ASEAN dan Internasional UNDIKNAS Denpasar berlangsung sangat menarik dan disimak dengan seksama para peserta.

Priyadi Santoso selaku Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan Pekerja dan Tindak Pidana Perdagangan Orang Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjelaskan lima isu prioritas yang menjadi fokus pembangunan PPPA berdasarkan arahan Presiden RI. Pertama, peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan. Kedua, peningkatan peran ibu dalam pendidikan anak. Ketiga, penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Keempat, penurunan pekerja anak. Kelima, pencegahan perkawinan anak.

Narasumber selanjutnya Niken Hardiani selaku Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri menyebutkan beberapa tokoh perempuan Indonesia yang memiliki kinerja dan karya hingga diakui dunia. Tokoh-tokoh perempuan tersebut mulai dari menteri hingga yang berprestasi di bidang olahraga dan animator. “Dari inspirasi itu kami mendorong kaum wanita untuk selalu menggunakan passion dalam berkarya sehingga nantinya bisa dikenal oleh dunia internasional,” katanya.

Pembicara internasional yang bergabung secara daring yakni Doktor Sylwia Wiśniewska selaku Assistant professor Cracow University of Economics Poland membawakan materi Work-life balance in Poland. Dia memaparkan pentingnya elemen-elemen keseimbangan dalam kehidupan kerja, seperti keseimbangan waktu, keseimbangan kepuasan, dan keseimbangan komitmen.

Sementara Pomi Ayalew Moges selaku Policy Analyst for UN Women menyajikan materi “Strategi Global dalam Meningkatkan Keterwakilan Perempuan sebagai Pemimpin”. Ia menyebutkan sasaran dari program tersebut adalah kaum Perempuan dan anak perempuan di Indonesia, termasuk yang paling terpinggirkan, untuk sepenuhnya menikmati hak-haknya dan mewujudkan potensinya dalam masyarakat yang adil, sejahtera, dan setara gender.

Narasumber selanjutnya Kepala Pusat Studi UNDIKNAS Dr. Gung Tini Gorda mengatakan kaum perempuan sudah diberikan peluang, namun kesetaraan gender tersebut belum bisa dirasakan hingga saat ini. Terutama persaingan di dunia politik. Tokoh perempuan dengan segudang prestasi dan aktif di bantak organisasi perempuan ini lantas menyebutkan ada lima peran perguruan tinggi dalam menyiapkan talenta perempuan pemimpin masa depan.

Pertama, sebagai agen transformasi sosial dan ekonomi bangsa. Kedua, perguruan tinggi harus dapat menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan bakat kemampuan, dan keahliannya.

Ketiga perguruan tinggi dapat membentuk pemimpin- pemimpin masa depan yang dapat menguasai IPTEK juga memiliki iman dan taqwa. Keempat, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang paham teori, tetapi punya juga kapasitas problem solving.

Kelima, perguruan tinggi sebagai lembaga yang mengembangkan talenta mahasiswa dan mampu menciptakan ekosistem yang ideal bagi tumbuhnya bibit-bibit talenta nasional.

“Jadi dari pengembangan tri dharma ada peran strategis dari perguruan tinggi melalui lima peran tersebut,” kata tokoh perempuan yang juga pimpinan sejumlah organisasi perempuan seperti Ketua DPD Perempuan Pemimpin Indonesia (Perpina) Provinsi Bali, Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi Bali, Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Provinsi Bali dan Ketua Koperasi Perempuan Ramah Keluarga Pang Pede Payu Provinsi. Gung Tini Gorda juga aktif di Rotary sebagai President Rotary Club of Bali Bersinar.

Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa (BEM-PM) UNDIKNAS Denpasar Gusti Agung Ayu Bintang Maharani Putri yang juga menjadi pembicara memaparkan bagaimana wanita bisa menjadi pemimpi atau pemimpin. Mahasisiwa yang akrab disapa Gung Ayu ini juga menekankan pentingnya melakukan berbagai persiapan ataupun langkah-langkah demi mewujudkan mimpi tersebut menjadi seorang pemimpin.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Pusat Kajian ASEAN dan Internasional UNDIKNAS Anak Agung Mia Intentilia menekankan pentingnya kolaborasi  dan kerjasama antara satu sama lain untuk melindungi kaum perempuan. Jadi kolaborasi merupakan pilihan yang sangat penting baik itu dari level mahasiswa, perguruan tinggi, tingkat nasional, regional. “Selain itu melalui kolaborasi dari berbagai pihak juga bisa menyiapkan generasi penerus bangsa ke depan,” tegasnya.

Usai panel talkshow, dilanjutkan dengan penyerahan penghargaaan oleh Lembaga Prestasi Indonesia Dunia atau LEPRID atas inisiasi gerakan “2023 HARAPAN UNTUK PEREMPUAN DUNIA” yang menjadi program dari BEM-PM UNDIKNAS 2023.

Paulus Pangka selaku Direktur LEPRID yakin ide dari acara seminar internasional ini tidak sekedar untuk mendapatkan penghargaan dari lEPRID, namun lebih dari itu yakni untuk menggerakkan segenap eleman bangsa Indonesia untuk menguatkan upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.

Apa yang dilakukan Gung Ayu bersama BEM-PM UDIKNAS sangat luar biasa menginspirasi kita semua. Harapannya juga agar Kementerian PPPA menyebarluaskan ide kreatif ini,” kata Paulus Pangka.

Terkait penghargaan dari LEPRID ini, Ketua Panitia Seminar Internasional ini Ketut Indira Maha Padmi mengungkapkan 2023 harapan perempuan ini dikumpulkan dan hasil dari itu kemudian dikoordinasikan dengan LEPRID yang mana ide tersebut diterima dengan baik sehingga BEM-PM UNDIKNAS mendapatkan penghargaan dari LEPRID.

“Kami mengumpulkan 2023 harapan perempuan Indonesia untuk perempuan dunia ini dengan harapan agar bisa menjadi kekuatan bagi kaum perempuan di dunia untuk menjalani hidup merekan sehingga terwujud keadilan dan kesetaraan karena adil belum tentu setara,” ungkap Indira.

Seminar internasional ini juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak Rotary Club of Bali Bersinar. Rotarian Tiwi yang juga pengurus di Rotary Club of Bali Bersinar mengungkapkan apa yang dilakukan BEM-PM UNDIKNAS dan Pusat Studi UNDIKNA INI sejalan juga dengan 7 fokus area Rotary Club of Bali Bersinar, dimana salah satunya mengenai menyelematkan ibu dan anak.

Dukungan dan apresiasi juga disampaikan Ketua DPC Perempuan Pemimpin Indonesia (Perpina) Kabupatan Gianyar Ida Ayu Rusmarini dan Ketua DPC Perpina Denpasar Ni Nyoman Murtini. Mereka mengapresiasi pelaksanaan seminar internasional karena sudah mewadahi para perempuan hebat Indonesia.

“Perempuan itu harus maju, tidak hanya ke urusan adat saja, mengingat di Bali tantangannya di adat sehingga kaum perempuan khususnya di Bali harus bisa mengatur waktu. Dan apapun yang dikerjakan harus bisa bersinergi satu sama yang lain,” harap Ida Ayu Rusmarini.

“Kami harapkan juga kedepannya agar lebih banyak lagi kolaborasi yang dibangun melalui acara yang dilaksanakan oleh Perpina dan kalangan universitas,” ujar Murtini yang akrab disapa Manik.

Di sisi lain, serangkaian acara seminar internasional ini juga digelar pameran kreatif produk UMKM dari perempuan perempuan hebat yang penuh semangat perjuangan pantang menyerah. Terdapat 10 stand UMKM dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia dan Lapas Perempuan Kerobokan Kelas IIA Denpasar.

Kepala Pusat Studi UNDIKNAS Doktor Gung Tini Gorda mengungkapkan pameran ini sebagai bentuk dukungan pihaknya dalam gerakan kemandirian ekonomi bagi perempuan dan juga memberikan binaan untuk peningkatan kualitas produk dan semangat untuk tetap berkarya tiada batas.

Di sisi lain digelar juga Rakerda DPD Perempuan Perempuan Pemimpin Indonesia (Perpina) Provinsi Bali bersama para DPC Perpina Kabupaten/Kota di Pusat Studi Undiknas Denpasar dengan mengangkat tema “Penguatan Organisasi Langkah Awal Sukses Berorganisasi.”

Melalui Rakerda ini Perpina menguatkan implementasi program yang sudah berjalan seperti pendampingan Desa Wisata Ramah Keluarga Bersinar di Desa Kenderan, Gianyar hingga yang terbaru program Pembelajaran Program Kompetensi Merdeka Jegeg Warga Binaan Lapas Perempuan Kerobokan “Pengembangan Sociopreneur Berkarakter” bagi warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan, Badung yang dilaksanakan bersinergi dengan Pusat Studi Undiknas.

Sementara itu akhir seminar internasional ini juga dimeriahkan dengan flash mob sahabat perempuan dan anak serta sejumlah hiburan dari mahasiswa. (wid)