Foto : Penampilan Sekehe Wayang Wong Griya Jelantik Delod Pasar Sanur yang menjadi Duta Kota Denpasar pada Rekasedana Kesenian Klasik yang tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Sabtu (2/7) sore. 
Denpasar, (Metrobali.com)
Duta Kota Denpasar kembali memberikan penampilan terbaiknya di ajang Pesta Kesenian Bali XLIV. Kali ini datang dari Sekeha Wayang Wong Griya Jelantik Delod Pasar Sanur yang menjadi Duta Kota Denpasar pada Rekasedana Kesenian Klasik yang tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Sabtu (2/7) sore. Hadir langsung dalam kesempatan tersebut Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana, Kadis Kebudayaan Denpasar, Raka Purwantara, Camat Denpasar Selatan I Made Sumarsana, dan tokoh masyarakat desa setempat.
Sekda Alit Wiradana memberikan apresiasi atas penampilan dan semangat para seniman Wayang Wong Gria Delod Pasar Sanur.
“Tadi kita sudah saksikan bersama penampilan yang begitu apik, detail serta memberikan nuansa yang khas, kesenian klasik ini harus terus kita pertahankan dan jaga eksistensinya,” ujar Alit Wiradana.
Sementara pembina Wayang Wong, I Made Dana menyampaikan bahwa keberadaan Wayang Wong Griya Jelantik Delod Pasar Sanur menjadi sebuah warisan  sejarah  dengan ciri khas dan warna dari tapel Wayang Wong ini belum pernah diganti. Hingga berkesempatan tampil di ajang PKB tahun ini yang mendorong generasi muda untuk memberikan warna dalam pelestarian kesenian klasik ini.
“Penabuh hingga penari dalam pementasan wayang wong kita perkuat dengan memberikan dorongan kepada generasi muda, serta langkah ini juga tidak terlepas dari program Pemkot Denpasar dalam pelestarian kesenian klasik,” ujarnya.
Dijelaskan pula bahwa penampilan pada ajang PKB ini, Wayang Wong Jelantik Delod Pasar Intaran Sanur  membawakan cerita Setubanda. Dimana, cerita ini mengisahkan perjalanan Sri Rama menuju Alengka dengan pasukan wanara pimpinan Kapindra Raja Sugriwa telah sampai di Gunung Mahendra. Sri Rama memerintahkan kepada Sugriwa untuk mengistirahatkan pasukan perang tersebut, karena hari sudah mulai gelap, dan sudah lelah dalam perjalanan ini. Sri Rama termenung, berfikir melihat luas lautan yang membentang menuju  Kerajaan Alengka. Kemudian Sri Rama memerintahkan Nala dan Nila untuk membangun jembatan. Nala dan Nila sangat bangga akan kepercayaan ini, dan segera merancang konstruksi jembatan yang dibantu oleh beribu-ribu kera demi melayani cita-cita Sri Rama.
Di Kerajaan Alengka, Raja Rawana merasa gelisah akan kedatangan dan keberhasilan Sri Rama membangun jembatan, oleh karena itu beliau segera memanggil Detya Seraba untuk menghancurkan jembatan tersebut. Titah Rawana segera dilaksanakan oleh Detya Seraba yang merupakan raksasa berkepala buaya penguasa laut, dengan dalih pembangunan jembatan itu sangat mengusik kehidupannya di tengah lautan. Dengan seluruh pengikutnya Detya Seraba mengobrak-abrik jembatan itu, sehingga pengerjaanya tidak kunjung selesai. (HumasDps).
Baca Juga :
Doa Perdamaian Bergema dari Bajra Sandhi Denpasar