Foto: Founder sekaligus Rektor Primakara University, I Made Artana, S.Kom., M.M., saat acara Media Gathering Primakara University, di Grya Bimasakti Jalan Melati, Denpasar, Rabu (9/8/2023).

Denpasar (Metrobali.com)-

Founder sekaligus Rektor Primakara University I Made Artana, S.Kom., M.M., mengungkapkan Indonesia khususnya juga Bali krisis dan darurat programmer. Hal ini tercermin dari banyaknya perusahaan yang membuka lowongan kerja untuk para programmer. Artana menyadari bahwa ribuan mahasiswa IT, termasuk di Bali, telah ditamatkan setiap tahunnya, namun yang memiliki kompensi programing tidak banyak. Inilah yang menjadi concern Primakara saat ini.

“Kita tahu dari mana? Misalkan darurat gitu ya, lowongan yang masuk banyak banget terkait dengan programmer, tetapi kemampuan kita memenuhi yang tidak bisa. Memang banyak mahasiswa IT, termasuk di Bali, barangkali ribuan yang ditamatkan setiap tahun, tetapi yang memiliki kompetensi programing itu tidak banyak. Nah ini yang juga yang menjadi concern nya Primakara sekarang,” ungkap Artana dalam acara Media Gathering Primakara University, di Grya Bimasakti Jalan Melati, Denpasar, Rabu (9/8/2023).

 

Artana kemudian menceritakan bahwa dirinya adalah seorang programmer. Oleh karena itu ia tahu dan paham dengan detail apa yang menjadi kebutuhan dan apa yang menjadi hambatan dari orang yang belajar programing. Persoalan inilah yang nantinya akan diselesaikan oleh Primakara sehingga bisa melahirkan talenta-talenta yang tentunya dibutuhkan pasar saat ini.

“Saya basic nya adalah memang programmer. Usaha saya yang pertama dulu adalah perusahaan software. Jadi perusahaan yang jual jual program. Jadi kalau saya boleh mengklaim saya tahu detail apa yang menjadi kebutuhan dan kemudian apa yang menjadi obstacle atau hambatan orang belajar programing. Nah ini pun yang kemudian kita coba selesaikan di Primakara melahirkan talenta yang sedang dibutuhkan oleh market,” tutur sosok visioner lulusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang sukses membangun bisnis IT di Bali sejak 1999 melalui beberapa perusahaan miliknya.

Artana juga menjelaskan bahwa banyak mahasiswa yang memiliki kemampuan programing yang bagus sudah direkrut sebelum tamat kuliah. Jadi mereka memilih meninggalkan kuliah nya dan bekerja. Inilah yang menjadi PR Primakara saat ini.

“Nah sekarang justru mahasiswa yang memiliki kemampuan programing yang bagus itu, di kuliahnya kadang-kadang kemudian jadi ditinggalkan, karena apa? Sudah direkrut sebelum tamat. Jadi kalau mereka enggak usah nunggu tamat kuliah, tapi ini menjadi PR kita di kampus karena ukuran kampus kesuksesan itu di antaranya adalah mampu menamatkan mahasiswa dengan baik,” ungkapnya.

Selain itu yang menyebabkan Indonesia darurat programmer adalah adanya banyak lowongan sebagai programmer di luar negeri yang sistem kerjanya secara remote. Artinya bekerja dari rumah dengan gajih dolar. “Jadi anak-anaknya nggak perlu ke luar negeri, bekerja dari sini saja, mereka interview dan lain sebagainya, itu mereka dipekerjakan. Itu dari permukaan kesannya bagus. Tetapi efeknya apa? Industri dalam negeri semakin kekurangan talenta,” katanya.

“Anak-anak kita ini itu dipekerjakan dari luar, misalkan beberapa anak Primakara dipekerjakan di perusahaan dari New Zealand. Itu menguntungkan kedua belah pihak, baik si anak maupun perusahaan yang merekrut. Si anak itu dapat gaji dollar tanpa perlu ke luar negeri. Bagi perusahaan yang ada di luar negeri itu mereka bayar jauh lebih murah, ketimbang anaknya dibawa ke luar negeri,” sambung Artana.

“Kalau misalkan di bawa ke New Zealand menurut saya, paling tidaknya itu $3.000 sampai $4.000 gaji setiap bulan. Tapi dengan bekerja remote ini mereka dibayar $1.000 sampai $1.500 itu tidak gede bagi kita. Coba kalau $1.000 itu berapa? 15 juta,” ujarnya lebih lanjut.

“Dia bekerja di sini dengan kost dengan biaya hidup di sini. Karena anak-anak itu tiba-tiba langsung senang gitu. Lebih bagus daripada digaji $3.000, tapi kita harus ke luar negeri. Nah itu dampak positifnya anak kita bisa kerja, tetapi dampak negatifnya semakin susah ketemu dengan programmer yang bagus, karena tadi itu sudah sebagian terserap oleh lowongan-lowongan dari luar negeri,” papar Artana, figur Ketua Umum HIPMI Bali Digital yang telah berhasil menyabet beberapa penghargaan dan menjadi Juara 1 Penggerak Wirausaha Muda Berprestasi Tingkat Nasional pada tahun 2017 ini.

Artana menuturkan darurat programmer bahkan sudah dirasakan di dalam lingkungan kampus sendiri. Ia menceritakan betapa susahnya merayu anak programing untuk bekerja di kampus. “Langka banget. Coba cari sekarang perusahaan yang butuh programmer, gampang tidak mereka nyari? susah. Kami di kampus pun merayu anak untuk kerja di kampus di programing itu kadang susah. Maslah macam-macam. Satu salary. Tetapi ada yang lebih penting, mereka ingin bekerja remote. Sementara kita kerjanya masih…kebayang ya?,” ungkapnya.

Ia kemudian menceritakan salah satu mahasiswa yang mundur dari kuliahnya karena sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan di New Zealand dengan sistem kerja remote. “Nah itu salah satu programmer yang undur diri dari kampus dan mereka kerja di perusahaan New Zealand, walaupun tetap bantu kita di rumah. Jadi generasinya berubah. Kalau kita, generasi kita paling suka bekerja di mana? di kantor, di bank, pakai dasi, necis gitu,” sebut Artana.

Ditambahkannya bahwa saat ini banyak programmer- programmer asal India yang bekerja di Jakarta. Faktor ini juga yang menyebabkan Indonesia darurat programmer. “Jadi kita darurat programmer di Indonesia, bukan hanya di Bali. Makanya teman-teman di Jakarta itu banyak sekali programmer dari India. Ya dari India banyak sekali. Maklum karena di India itu apa jumlah penduduknya satu setengah miliar. Dan banyak perguruan tinggi di sana. Mulai dari yang paling bagus sampai paling jelek itu menunya lengkap di India,” urainya.

“Perusahaan-perusahaan terkenal ada di India. Orang-orang IT top itu banyak dari India saat ini. CEO-CEO perusahaan dunia banyak dari India. CEO nya Microsoft, CEO nya Google. CEO nya Apple, hampir semua orang India saat ini,” imbuhnya.

Artana mengatakan untuk mengatasi darurat programmer di Indonesia, khususnya di Bali, salah satu hal yang dilakukan di Primakara adalah menyediakan beasiswa programing. Jadi beasiswa ini ditawarkan bagi anak-anak SMA yang sudah belajar programing.

“Dalam programmer itu salah satu biar ladangnya subur, talentanya harus cukup. Makanya itu kami terus mencoba. Makanya salah satunya tadi ada beasiswa programing di kita. Kalau tahun ini mungkin ada belasan orang yang ambil beasiswa itu. Beasiswa programing itu apa? Anak-anak yang dari SMA sudah belajar programing, kami tawarkan beasiswa,” pungkas pengusaha asal Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung ini.

Untuk diketahui Primakara University memiliki dua fakultas, yaitu Fakultas Teknologi Informasi dan Desain, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Pada Fakultas Teknologi Informasi dan Desain memiliki 4 program studi (prodi) yakni Prodi S1 Informatika, Prodi S1 Sistem Informasi, Prodi S1 Sistem Informasi Akuntansi, dan Prodi S1 Desain Komunikasi Visual.

Sedangkan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, terdapat 3 prodi. Yaitu Prodi S1 Bisnis Digital, Prodi S1 Manajemen, dan Prodi S1 Akuntansi. Karena kampus IT manajemennya nanti berbau IT juga namanya manajemen bisnis teknologi informasi.

Kampus yang kerap dikunjungi para pejabat dan sejumlah menteri ini punya alasan mengapa lulusan SMA atau sederajat harus memilih kuliah di Primakara University. Pertama, lanjut Made Artana karena kampus ini terjamin kualitasnya serta tersertifikasi 2 standar internasional, ISO 9001:2015 untuk penjaminan mutu, dan ISO 21001:2018 untuk pengelolaan perguruan tinggi. “Kampus Primakara ini juga terakreditasi B dengan kualifikasi sangat baik,” tegasnya kembali.

Alasan kedua, sambung Made Artana, kuliah di Primakara University akan membuat lebih percaya diri karena Primakara University telah dinobatkan sebagai Kampus IT dan Bisnis Terbaik 2020 Bali dan Nusra serta menjadi Kampus Terinovatif 2021 se-Bali dan Nusra.

Alasan ketiga, kata Made Artana, Primakara punya kepastian karier yang cemerlang karena 94,80% lulusannya bekerja secara layak, gajinya di atas 1,2 kali UMR. 77,75% lulusan Primakara bekerja sesuai bidang studi, 69,20% sudah bekerja sebelum wisuda, dan 19,05% lulusan Primakara menjadi pengusaha digital (technopreneur).

“Kalau dilihat kampus Primakara itu tampilannya gak kayak kampus karena memang kita rancang kita buat seperti gaya anak muda sehingga mahasiswa tidak malas datang ke kampus tapi justru menjadikan kampus Primakara tak hanya tempat belajar namun jadi tempat nongkrong yang edukatif,” terang Made Artana.

Begitu lulus, masa tunggu alumni untuk bekerja dan diterima di dunia usaha dan dunia industri itu kurang dari tiga bulan. Tak heran, banyak lulusan Primakara yang bekerja pada posisi yang bagus, dan tak sedikit pula lulusannya menjadi pengusaha digital.

Sejumlah industri pun mengakui lulusan Primakara memiliki keahlian yang sesuai dengan kebutuhan industri atau perusahaan, mampu melakukan pengembangan software dengan sangat baik, dan mampu mengerjakan tiap proyek sesuai yang diharapkan perusahaan. (wid)