JUMAT  (12/10) malam kemarin merupakan hari yang sangat bahagia bagi Gusti Putu Gede Wedhasmara. Pasalnya pencipta lagu Himna Asosiasi Advokat Indonesai (AAI) ini mendapat apresiasi positif dari Dewan Pengurus Pusat AAI pada acara Musyawarah Nasional Luar Biasa (Musnaslub) AAI  yang digelar di hotel Aston Denpasar. Malam itu, putra Bali ini mendapat penghargaan dari AAI atas lagu Himna AAI yang diciptakan tahun 2005 dan dinyanyikan pertama kali pada Munas AAI tahun 2005 di Kuta.

Wedhasmara adalah pencipta lagi Himna AAI tahun 2005. Awalnya, salah seorang anggota AAI Bali Ketut Ngastawa meminta kepada Wedhasmara  menciptakan lagu Himna AAI sekitar bulan Juni 2005. Lagu tersebut, bakal dikumandangkan pada saat Munas AAI di Kuta tahun 2005.

Menurut Ngastawa, atas  karya emas Wedhasmara itu, akhirnya lagu Himna AAI itu kini wajib dinyanyikan pada acara acara resmi AAI. ‘’Kami bersyukur, bahwa karya emas warga Bali diterima di kalangan praktisi hukum di seluruh Indonesia,’’ katanya.

Sementara itu, Wedhasmara mengungkapan kepada Metro Bali, bahwa karya karya lagu anak bangsa ini ke depan harus terus dilindungi secara yurudis, ekonomi, maupun sosial.

‘’Jangan sampai membuat kecewa para pencipta lagu. Perhatikan royalty mereka. Begitu pula, para penegak hukum harus memberikan bantuan hukum bagi para pencipta lagu yang merasa hak-haknya dirampas,’’ kata Wedhasmara.

Mengapreasiasi permintaan Wedhasmara agar para pencipta lagu diperjuangkan hak-hak royaltynya Ngastawa mengatakan sangat mendukung. ‘Ini harus mendapat apresiasi positif dari semua pihak, termasuk kepada anggota AAI, ’’ katanya.

Profile Wedhasmara

Menyebut sederet lagu pop Indonesia legendaris seperti “Senja di Batas Kota”, “Bunga Flamboyan”, “Kau Selalu di Hatiku”, dan “Berpisah di St. Carolus”, berarti harus menyebut pula penciptanya, Wedhasmara. Seniman low profile pencipta lagu Bali “Kaden Saja” yang amat populer ini bernama lengkap I Gusti Putu Gede Wedhasmara.

Baca Juga :
Isi Soal UN SD Kurang, Diundur Satu Jam

Ia sempat “kurang dikenal” di Bali lantaran namanya telanjur mencuat di tingkat nasional. Kalangan seniman atau musisi Bali pun nyaris tidak mengakrabinya karena selama ini kesenimanan Wedhasmara tumbuh dan besar di luar Bali. Di tengah iklim musik pop Indonesia sedang merangkak tahun 1960-an, lagu-lagu Wedhasmara memang banyak diminati penyanyi maupun produser. Beberapa lagunya telah “membesarkan” nama sejumlah penyanyi angkatan 1970-an seperti Erni Djohan, Lilis Suryani, Tetty Kadi, Deasy Arisandi, sampai Titiek Sandhora. Hampir sebagian besar lagu Wedhasmara kini jadi lagu legendaris. Beberapa lagunya direkam secara berulang dan dinyanyikan penyanyi berbeda-beda, dari Yuni Shara hingga Rani. Berikut petikan wawancara Bali Post dengan Wedhasmara yang juga sempat menulis skenario sekaligus pemain di film “Dewi Malam” bersama aktor Roy Marten pada 1970-an ini.

Wedhasmara mengaku bahwa masyarakat belum sepenuhnya mencintai lagu-lagu Pop Bali. ‘’Kalau bisa usahakan lagu pop Bali ini diperhatikan oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan oleh media atau golongan tertentu saja. Karena, lagu pop Bali sama juga dengan lagu nasional yang penggemarnya ada anak-anak, dewasa, maupun orang tua.

Saya berencana akan membuat istana musik, museum musik, atau pusat dokumentasi musik di rumah sendiri. Saya banyak mengumpulkan piringan hitam, lagu-lagu, potret-potret berbagai jenis musik dan musisi dari seluruh Indonesia. Dengan koleksi saya seperti itu, rasanya sangat tepat jika saya menjadikan itu semua sebagai dokumentasi informatif terkait sejarah musik Indonesia umumnya. Mengapa saya membangun di rumah, karena bagi saya rumah saya adalah bagian dari sejarah tersebut. Saya memiliki banyak koleksi, hanya saja saya belum teratur menyimpannya. Saya ingin koleksi ini menjadi sarana informasi bagi generasi mendatang. Mereka harus tahu sejarah musik Indonesia umumnya dan Bali khususnya. Di samping musik, saya juga mendokumentasikan beragam hal, ada sejarah Badung, dan sebagainya. Saya juga akan menerbitkan buku biografi saya. Khusus soal buku biografi ini, proposalnya sudah saya ajukan ke Wali Kota Denpasar.

Baca Juga :
Pemprov Bali Berencana Berikan Kredit Bagi TKI

 

 

BIODATA

Nama                :  I Gusti Putu Gede Wedhasmara
Lahir                 :  Denpasar, 10 September 1932
Istri                  :  Nengah Landri Sudimara (Jero Kesuma), alm.
Anak                 :  Tiga pria dan dua wanita
Pendidikan        :  SR dan SMP di Denpasar
SMA St. Thomas di Yogyakarta

Pekerjaan         :  NV GIEB Denpasar (1954-1956)
Jawatan Pertanian Jakarta (1956-1963)
Bidang Rekaman Musik/Studio di Jakarta

Alamat              :  Puri/Jero Batan Moning, Br. Gerenceng
Jl. Sutomo No. 2 Denpasar
Telepon (0361) 410958

***

 

Pengalaman di Grup Musik:

Orkes Gabungan Denpasar
Orkes Keroncong Denpasar
Kwartet Mulyana/Suteja Yogyakarta
Orkes Keroncong pimp. Sukimin Yogyakarta
Orkes M. Sagi Melayu Ria Bluntas
Band Zaenal Combo pimp. Zaenal Arifin
Grup Remaco pimp. A. Rianto (alm.)


Ciptaan Lagu:

Kau Selalu di Hatiku
Senja di Batas Kota
Berpisah di St. Carolus
Bunga Flamboyan
Semalam di Kualalumpur
Kelopak Cinta
Masa Kecilku
Kembalilah Sayang
Di Teras Pertamina
Mirip Wajahnya
Ada Saja Gara-garanya
Jakarta di Waktu Malam
Dirgahayu Bunga Karno
Layang Putus Talinya (bersama Iskandar)
Senja di Wajah Ayu (bersama Isbandi)
Imbauan Pantai
Aku Ingin Bebas
Pesta Kenangan
Lalu Lintas
Relakan
Berselancar di Pantai Kuta
Seiring Sejalan
Kr. Malam Kenangan
Kr. Kekasihku
Kr. Bintang Pujaan
St Tak Percaya
Kaden Saje
Janger
Selikur Galungan
Tanah Lot, Jero Batanmoning
Tampak Siring
Galang Bulan
Di Bali Nuju Galungan
Leng Tiyang Puk

(**/SUT-MB)