Denpasar (Metrobali.com)-

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengajak masyarakat untuk merenungkan substansi Nyepi dengan baik dalam memperingati datangnya Tahun Baru Caka itu pada 12 Maret 2013.
“Nyepi dalam Agama Hindu merupakan waktu yang disiapkan Tuhan untuk melakukan kontemplasi diri, merenungkan apa yang diperbuat, yang baik dan yang buruk. Sekaligus diberi kesempatan untuk merencanakan masa depan kita karena memasuki tahun baru,” katanya di Denpasar, Jumat (8/3).

Konteks Nyepi, kata dia, sebagai tekad untuk memperbanyak kebaikan. Tetapi sayangnya seringkali orang tidak memahami konteks ini dengan benar.

“Akibatnya, seringkali hal-hal yang seharusnya tidak boleh terjadi pada Nyepi malah terjadi, misalnya ada konflik banjar, saling serang dan sebagainya,” ujarnya.

Mantan Kapolda Bali ini mengatakan Nyepi bukanlah sekadar tidak menyalakan api. Namun media yang mengingatkan umat Hindu agar tidak menyalakan hawa nafsu, marah, benci, dan dendam. Sifat buruk itu harus ditekan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi manusia yang baik.

“Ada yang berjudi dari pagi sampai malam pada Nyepi itu sungguh keliru, karena seharusnya menjadi momen untuk kontemplasi diri,” katanya.

Di sisi lain, terkait dengan pengarakan ogoh-ogoh (boneka raksasa) sehari sebelum Nyepi, pihaknya tidak melarang karena itu selain bersifat simbolik sekaligus cermin kreativitas dan inovasi.

“Tetapi tolong diingatkan maknanya yang merupakan simbol kejahatan yang harus ditinggalkan dalam menghadapi Nyepi,” ucapnya.

Pastika berharap saat pengarakan ogoh-ogoh jangan sampai timbul konflik dan jangan sampai meminum minuman beralkohol. INT-MB

Baca Juga :
Pesan Ketum IWO ke Seluruh Anggota di Indonesia, Tetap Jaga Spirit IWO Menjaga Peradaban dan Kemanusiaan