Denpasar (Metrobali.com)-

Telah terjadi anomali musim “aneh” di Bali hari-hari ini, di bulan Oktober lazimnya puncak musim kemarau, terjadi banjir bandang di banyak tempat, menelan korban jiwa, harta benda penduduk luluh lantak, fasilitas umum rusak berat, mobilisasi orang dan barang tersumbat dan terhambat.

Tantangan yang dihadapi dalam kondisi lingkungan yang “babak belur” akibat banjir bandang, tindakan afirmasi dalam menanggulangi akibat bencana alam, momentum untuk merubah paragdima pembangunan.

Tindakan Afirmasi

Tindakan afirmasi berupa: bantuan bagi warga yang terdampak: sembako, perbaikan sekolah, tempat suci dan bantuan untuk perbaikan rumah.

Perbaikan segera infrastrukur yang rusak berat, sehingga segera sistem trasportasi bisa berjalan normal, sumbatan pergerakan orang dan barang dapat diminimalkan.

Paragdima Baru Pembangunan, Paradigma lama pembangunan: Developmentalism: bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tidak menghitung biaya lingkungan, cendrung abai pada pemerataan, karena percaya pada teori “tricle down effect”, dampak menetes ke bawah, sehingga pertumbuhan jangka panjang akan memperbaiki pemerataan HARUS DITINGGALKAN, karena tidak terbukti, sehingga lingkungan kehidupan rusak dengan ketimpangan pendapatan yang dalam.

Paragdima baru pembangunan, dengan akronim GRID ( Green, Resilency, Inclusiveness, Development): strategi pembangunan: ramah lingkungan, kebertahanan alam dan kultural, menjamin pemerataan dan keadilan.

Implementasinya dalam konteks pembangunan Bali ke depan, menyebut beberapa di bawah ini.
Pertama, hutan harus diselamatkan, reboisasi diperluas sampai tingkat minimal rasio hutan 30 persen dari kawasan seluruh Bali.

Hutan-hutan penyangga kehidupan: di seputaran Gunung Agung (di Timur), sekitar 100,000 ha, di seputaran Gunung Batukaru (di Barat), di kawasan Alas Penulisan sekitar 40.000 ha dan sekitar Pengejaran sekitar 40,000 ha (di Tengah) harus diselamatkan dan dijaga keasriannnya.
Demikian juga hutan-hutan yang lain: jejer kemiri bukit yang membentang dari Bantiran sampai Tejukala, semua kawasan hutan yang “melindungi” simbolik Bali sebagai Bunga Padma -Padma Bhuwana- dan semua hutan produksi yang berfungsi lindung.

Kedua, DAS (Daerah Aliran sungai dibenahi) untuk memperlancar arus air dari pegunungan menuju laut, untuk meminimalkan sumbatan air yang menimbulkan banjir. Perawatan DAS di Bali tidak terlalu sulit, karena kecuraman/kemiringan sungai pada umumnya tinggi, sehingga secara alami air mengalir deras dari Gunung-Bukit (Ukir) menuju dataran dan kemudian Laut (Segara).

Ketiga, kembali ke pembangunan berbasis kebudayaan – Cultural Based Development – yang merupakan “basic ingridient” dari dinamika peradaban dan kebudayaan Bali, yang bercirikan pemerataan ekonomi, respek pada alam dan keberlanjutan budaya. Kebudayaan menjadi kiblat dari negara-negara yang membangun belakangan seperti Rusia dan China (dengan variasinya, sejalan dengan sejarah peradabannya).

Penulis :

Jro Gde Sudibya, Ketua FPD( Forum Penyadaran Dharma).