Bupati Beri Kuliah Umum di Universitas Ngurah Rai

Mangupura (Metrobali.com)-
Bupati Badung A.A. Gde Agung memberi kuliah umum pada perkuliahan perdana mahasiswa Pascasarjana Universitas Ngurah Rai tahun Akademik 2015/2016 di Kampus setempat, Sabtu (28/2) lalu. Dalam kuliah umumnya, Bupati Gde Agung memaparkan dua buah materi yaitu Tata Kelola Pemerintahan Dalam Era Reformasi dan Kepemimpinan Transformasional Untuk Kemajuan Pembangunan Daerah.
Bupati Gde Agung menekankan bahwa tata kelola pemerintahan merupakan suatu cara kerja, perangkat kerja/aparatur, perangkat peraturan yang saling terkait dalam satu kesatuan sistem yang difungsikan untuk mengelola potensi sumberdaya daerah guna mencapai tujuan dari fungsi-fungsi pemerintahan yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sesuai tuntutan era reformasi, maka Pemkab Badung telah menjalankan upaya untuk mereformasi diri, membenahi tata kelola pemerintahan daerah secara berkelanjutan.

Berdasarkan kearifan lokal Tri Hita Karana, Pemkab Badung mengadopsi prinsip-prinsip good governance yang selanjutnya dijabarkan kedalam visi dan misi daerah. Visi Badung adalah “Melangkah bersama membangun badung yang shanti dan jagadhita berlandaskan Tri Hita Karana” dengan 9 misi yang mencerminkan falsafah Tri Hita Karana.

“Dalam upaya mewujudkan visi dan mengimplementasikan misi tersebut, Pemkab Badung merumuskan “Lima Prinsip Dasar Pembangunan Kabupaten Badung yang Berkelanjutan” sebagai hasil jalinan konsepsi antara falsafah “Tri Hita Karana” dengan isu global “Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)” untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, kebijakan strategis yang dilakukan Pemkab Badung sebagai wujud reformasi tata kelola pemerintahan meliputi; perluasan akses pendidikan, kesehatan, peningkatan kualitas infrastruktur publik, pengadaan barang dan jasa berbasis elektronik, layanan perizinan satu atap, pemberian insentif pajak, pengendalian alih fungsi lahan dan perluasan perlindungan sosial. Dari berbagai kebijakan strategis tersebut, Badung mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,41 di tahun 2014, selain itu tingkat pengangguran terbuka tahun 2014 sebesar 0,48% dan tingkat kemiskinan 2,46%.

Baca Juga :
Keluarga Korban Ancam Gugat Praperadilan Jika Kasus Penyerobotan Tanah Oleh Aparat Desa Dihentikan

Mengenai APBD Badung tahun 2015 ditarget sebesar 3,5 trilyun lebih, Pendapatan Daerah 3,2 trilyun lebih, PAD 2,5 trilyun lebih. Sementara perbandingan prosentase belanja publik dan belanja aparatur tahun 2015 dimana belanja publik sebesar 66,44% dan belanja aparatur 33,56%. Dari besaran APBD tahun 2015 tersebut alokasi untuk sektor pendidikan yang paling besar yakni 764 M lebih (21,66%), disusul sektor kesehatan 12,38%. Mengenai Indeks Pembangunan Manusia Badung tahun 2013 sebesar 76,37, sedangkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja pemerintah (AKIP) Badung tahun 2013 mendapat nilai 69,12 dengan kategori B Plus.

Selain mengenai tata kelola pemerintahan, Bupati Gde Agung juga memberikan materi tentang Kepemimpinan Transformasional untuk Kemajuan Pembangunan Daerah. Bupati menerangkan terdapat lima tingkat kepemimpinan yang merupakan kombinasi antara kerendahan hati dan kemauan yang kuat. Kelima tingkat kepemimpinan tersebut diantaranya “leader” yaitu membangun kehebatan dalam memimpin melalui kombinasi paradoks dan kerendahan hati dengan frofesional will. “Effective leader” berkomitmen dan memiliki visi yang kuat mendorong kelompok untuk bekerja dengan standar kinerja yang tinggi. “Competent manager” mengatur anggota dan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien.

“Contibuting team member” memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan, bekerja secara efektif dengan anggota tim lainnya dan “Hughly capable individual” memberikan kontribusi produktif melalui bakat, pengetahuan, keterampilan dan good work habits. Ditambahkan Bupati bahwa terdapat empat karakteristik yang harus dimiliki pemimpin yaitu inovasi, kemampuan eksekusi, kewirausahaan dan kepemimpinan. “Menjadi pemimpin, memiliki inovasi saja tentu tidak cukup, karena pemimpin juga membutuhkan kemampuan mengeksekusi agar inovasi dapat menjadi suatu karya nyata,” pungkasnya. RED-MB