Denpasar (Metrobali.com)-

Badan Pusat Statistik memperkirakan produksi jagung di Bali selama empat bulan terakhir (Subround III), September–Desember 2013, turun sebanyak 511 ton pipilan kering atau 6,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Secara keseluruhan pada tahun 2013 produksi diperkirakan turun dibanding tahun sebelumnya akibat berkurangnya luas panen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali I Gede Suarsa di Denpasar, Minggu (15/12).

Ia mengatakan bahwa realisasi produksi jagung selama empat bulan pertama periode Januari–April 2013 (Subround I) mencapai 45.105 ton biji kering, berkurang sebanyak 3.010 ton (6,26 persen) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Demikian pula, produksi Mei–Agustus 2013 (Subround II) tercatat mengalami penurunan sebesar 398 ton (6,89 persen).

Dengan demikian, kata I Gede Suarsa, total produksi jagung di Bali selama 2013 diperkirakan akan mengalami penurunan sebanyak 3.918 ton (6,33 persen) dibandingkan tahun sebelumnya.

Berkurangnya produksi tersebut akibat terjadi penurunan luas panen 2.482 hektare (11,81 persen) dibanding tahun sebelumnya, di samping berkurangnya curah huja.

Demikian pula, produksi tahun 2012 menurun sebanyak 2.944 ton pipilan kering atau 4,56 persen dibanding tahun sebelumnya.

Menurunnya produksi jagung tersebut selain faktor teknis juga akibat banyak tanaman jagung yang dipanen muda untuk jagung bakar dan rebus, terutama di objek-objek wisata.

Kabupaten yang paling besar memberikan kontribusi terhadap produksi jagung di Bali adalah Kabupaten Buleleng sebesar 39,99 persen, menyusul Karangasem 24,66 persen dan Klungkung 14,38 persen.

Selain itu, Kabupaten Bangli memberikan andil 13,27 persen serta produksi terendah terjadi di Kabupaten Jembrana, Badung, dan Kota Denpasar, ujar Gede Suarsa. AN-MB

Baca Juga :
Pemerintah diharap hidupkan wisata Toraja