Denpasar (Metrobali.com)-

Tidak dipungkiri salah satu menu kuliner yang masih menjadi pavorit atau primadona hingga sekarang adalah Babi Guling. Selain rasanya mampu mengundang selera bagi yang menikmati proses pembuatannyapun menjadi daya tarik. Hal ini terlihat jelas ketika panitia Denfest menggelar lomba masak Babi Guling yang digelar kemarin di halaman barat Kantor Walikota Denpasar, Kamis (29/12).

Dengan diikuti 12 peserta wakil dari masing-masing Desa Pekraman di Kota Denpasar, kedua belas pesera sejak pagi hari sudah tampak sibuk mempersiapkan semua peralatannya. Seperti; bahan-bahan untuk bumbu, talenan, golok/blakas, penguligan, serabut kelapa, kipas, pego, kobokan dan semua peralatan yang ada kaitannya dengan proses pembuatan.

Berdasarkan kreteria yang telah ditentukan panitia, berat babi guling yang akan dimasak telah ditentukan yaitu berkisar antara 8 hingga 10 kg. Dan semua proses lomba harus dikerjakan ditempat itu pula mulai dari meracik menu, ngerames, lilit sate, mengisi bumbu guling hingga proses pemanggangan dan hanya satu yang diperbolehkan panitia yaitu babi yang dibawa sudah dalam keadaan bersih.

Dengan waktu 3 jam yang diberikan panitia, setelah ada aba-aba tanda dimulai, masing-masing peserta mulai sibuk dengan peralatannya masing-masing. Bagi yang sudah terbiasa menggarap babi guling tentu yang pertama dilakukan adalah meracik bumbu guling, sate maupun lawar baru kemudian mengisi bumbu di perut guling setelah itu dilanjutkan proses pemanggangan.

Dari 12 peserta yang terlibat tak satupun tampak canggung dalam pengerjaannya semua tampak terbiasa bahkan ada peserta sambil bersiul dan bernyanyi-nyanyi kecil. Ini membuktikan bahwa semua dilakukan penuh perasaan gembira dan tradisi ngelawar bagi umat Hindu secara tidak langsung membawa dampak positif bagi masyarakat dalam melestarikan budayanya.

Baca Juga :
Pemerintah Gerak Cepat Tangani Insiden Penyerangan Tolikara

Yang paling seru dari lomba ini adalah ketika peserta mulai proses memanggang, karena bahan untuk memanggang menggunakan serabut kelapa bisa ditebak asappun mengepul memenuhi areal lomba. Tak ayal peserta maupun penonton akhirnya bercucuran air mata disinilah kira-kira serunya.

Setelah berjalan kurang lebih 4 jam akhirnya yang dinanti-nantipun tiba yaitu pengumuman para pemenang, para juri akhirnya memutuskan Desa Pekraman Kesiman dengan nomor urut 2 keluar sebagai juara I posisi berikutnya Ds. Pedungan, Ds. Pagan dan juara pavorit jatuh pada peserta nomor 7 dari Ds. Penatih.

Menurut Parwata salah seorang juri, lomba kali ini secara kualitas jauh berkurang dibanding tahun lalu. Cita-rasa yang ditampilkan seperti lawar, ares maupun guling menurun dibandingkan tahun lalu disamping kematangan babi guling yang belum merata dan ini berdampak pada tekstur daging. Kedepan Suparta berharap agar peserta yang dilibatkan bisa lebih banyak lagi, ujarnya. (Sdn.Hms.Dps.).