Atma Dhyana : Kontemplasi pada Diri Sejati Menghindari Kekerasan dan Radikalisme

Metro Bali
single-image

 

Oleh I Ketut Puspa Adnyana
Kekerasan dan radikalisme menjadi momok ketakutan beberapa hari ini dalam masyarakat. Dunia ini terus berdinamika dan bergerak adalah karena menuju keseimbangan.
Keseimbangan ini terganggu karena pergerakan yang mengandung kekerasan. Orang orang sekarang sedang sibuk mencari sumber kekerasan, sumber radikalisme. Ajaran Hindu dengan tepat menujuk penyebab penyebabnya yaitu terkait dengan kelalaian dalam mengontrol diri sejati.
Bila semua unsur unsur yang bergerak dalam keadaan seimbang tumbuh harmoni. Harmoni mendatangkan rasa damai bebas dari ancaman dan bencana dari apapun. Cita cita pada unit terkecil adalah membangun keluarga Sukinah Bhawanthu, sebagai salah satu bentuk harmoni. Sebuah keluarga yang berhasil melahirkan keturunan suputra. Suputra adalah cikal cikal bakal terwujudnya harmoni. Bila semua manusia baik dan seluruh ciptaan alam semesta dalam keadaan ideal yang disebut Satya Yuga, kehidupan menjadi damai. Sikap dan prilaku berkesusilaan mengalami puncaknya pada masa ini.
Akan tetapi sekarang ini kita berada pada zaman Kaliyuga dalam Manwantara ke 7. Artinya Kaliyuga yang ketujuh. Kenapa dekslinasi dan inklinasi kehidupan terus berlangsung? Berdasarkan ajaran Weda kita menemukan ajaran yang langsung menyentuh diri sejati (Atman). Kesadaran Atman inilah yang membuat perputaran zaman, salah satunya, karena ada selalu pergerakan yang diberi kehidupam dengan adanya Atman pada sang Badan.
Hidup ditunjukkan oleh pergerakannya. Ada 10 konsepsi dalam ajaran Weda yang terkait dengan perlunya memahami Atma, yaitu: atma dhyana [aatma dhyaan], atma jnani [aatma j^naani], atma nishta [aatma nisht], atma prajna [aatma pruj^naa], atma sakti [aatma sh^ukti], atma siddhi [aatma siddhi], atma vichara [aatma vichaar], atma vidya [aatma vidya], atmasakshatkara [aatmasakshatkara ], dan atmanusandhana [aatmunusundhun]. Kali ini kita berdiskusi tentang atma dhyana [aatma dhyaan].
ATMA DHYANA: Kontemplasi diri sejati.
Secara fisik manusia terdiri atas darah dan daging (panca mahabhuta) yang membentuk struktur dan morphologi tubuh atau Badan. Manusia memiliki struktur dan bentuk badan fisik yang sempurna, yang juga dilengkapi dengan sifat dan karakter yang bersifat batiniah, paling utama manah dan budi. Ini terjadi akibat bertemunya purusha dan prakriti dalam proses garbhawana, yang melahirkan Triguna, yang terdiri atas: (1) sifak dan prilaku sempurna dan damai (satwa); (2) sikap dan prilaku yang riang dan gembira mengejar shringara (rajas), dan (3) sikap dan prilaku apatis, bodoh dan malas serta loba yang mengejar kama (tamas). Dominasi salah satu sikap dan prilaku guna ini akan menentukan apakah seseorang akan menghasilkan subhakarma atau asubhakarma.
Ketiga guna ini dapat dibangun ketika seseorang mampu melakukan evaluasi terhadap dirinya. Menyadari pernedaan antara ketiga sifat ini dan menjalankannya. Pertimbangan pertimbangan ini menjadi tugas manah dan budhi. Kemampuan untuk melakukan evaluasi diri ini disebut dengan Dhyana. Suatu situasi dimana seseorang mampu fokus pada sebuah obyek. Bila fokus evaluasi itu dilakukan terhadap sang diri sejati atau jiwatman inilah yang disebut Atma Dhyana. SIngkatnya Atma Dhyana adalah komtemplasi diri sejati atau “mulat sarire”.
Mokshartam-Jagadhitha dapat dicapai oleh hanya sedikit orang. Orang orang itu pastilah mereka yang membudayakan dalam kehidupan sehari harinya melakukan komtemplasi diri (Atma Dhyana). Tidak ada persoalan yang ditimbulkan oleh orang orang yang memiliki kesadaran. Namun untuk mencapai dhyana orang harus tekun dan disiplin (yoga) dalam kehidupannya dan terus berlatih. Bila kesadaran akan Atma Dhyana ini sudah menjadi pola hidup manusia, kehidupan nampaknya akan mencapai keseimbangannya itulah yang kita sebut “Jagadhita”. Mokshartham sepertinya sulit dihampiri bila orang orang melakukan penyangkalan penyangkalan terhadap kebenaran (dharma), melakukan kekerasan dan bersikap radikal. Kekerasan variannya sangat beragam mulai terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Radikalisme tumbuh pada diri seseorang apabila mereka tidak mampu melakukan komtemplasi. Dunia akan damai dan sejahtera, yang menjadi idaman setiap orang dan ciptaan lainnya, salah satunya, karena tekun dalam atma dhyana.
Semoga semua mahluk berbahagia. ***
Bagikan :
Baca Juga :
Pindahkan Napi LP Kerobokan, Petugas Nyaris Kena Tusuk

Leave a Comment

Your email address will not be published.