Balinetizen.com, Sydney

 

Amerika Serikat ingin memperluas kerja sama keamanan dengan negara pulau Pasifik Papua Nugini, kata pejabat AS, Selasa (26/4).

Keinginan itu didorong kekhawatiran AS terkait motif China karena membuat pakta keamanan dengan Kepulauan Solomon di dekatnya.

Delegasi AS bertemu Perdana Menteri Papua Nugini James Marape dan ketua keamanannya pekan lalu dan berencana untuk mengadakan diskusi keamanan lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan, kata Wakil Menteri Luar Negeri untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik Daniel Kritenbrink.

“Ada keinginan dari kedua pihak untuk memastikan bahwa kami mengambil langkah konkret guna memperluas kerja sama keamanan kami,” katanya kepada wartawan melalui sambungan telepon.

 

Pada Jumat (22/4), AS mengatakan telah memperingatkan Perdana Menteri Kepulauan Solomon Mannaseh Sogavare bahwa pihaknya memiliki “keprihatinan besar dan menanggapi dengan tepat” terhadap setiap langkah untuk membangun kehadiran militer permanen China.

China mengatakan sebelumnya bahwa perjanjian keamanan yang diteken pekan lalu tidak menimbulkan risiko bagi AS. China telah mengkritik Australia karena menentangnya.

Australia yang jaraknya kurang dari 2.000 kilometer secara historis berperan dalam kebijakan Kepulauan Solomon.

Kritenbrink, bagian dari delegasi Gedung Putih yang berkunjung ke Kepulauan Solomon, Papua Nugini dan Fiji pekan lalu, mengatakan Sogavare sudah menekankan kembali pada pertemuan itu bahwa perjanjian China difokuskan pada kebutuhan keamanan dalam negeri dan tidak akan ada pangkalan militer.

Namun, AS akan memantau perkembangannya karena khawatir akan kurangnya transparansi dan motif China, katanya.

“Mereka sangat tidak jelas karena perjanjian ini belum diteliti,” kata Kritenbrink.

Dia menambahkan kekhawatiran itu juga dirasakan oleh mitra regional, negara-negara pulau Pasifik dan di antara rakyat Kepulauan Solomon.

Baca Juga :
Sebanyak 290 Orang Sembuh Covid-19 di Kota Denpasar, Kasus Aktif 3,64 Persen

Kepulauan Solomon menempati posisi strategis untuk jalur pelayaran dan komunikasi di Pasifik dan tempat pertempuran paling berdarah dalam Perang Dunia (PD) II saat itu yang disoroti delegasi AS dalam kunjungan ke tugu peringatan perang.

China menawarkan untuk membangun kembali pangkalan angkatan laut (AL) di Papua Nugini pada 2018 tetapi pemerintah di sana justru membuat kesepakatan dengan Australia dan AS untuk memperbarui pangkalan AL bekas PD II di Pulau Manus.

Papua Nugini adalah tetangga terdekat Australia di bagian Utara.

“Kami tahu betul bahwa RRC berupaya untuk membangun logistik luar negeri yang lebih kuat dan infrastruktur yang memungkinkan PLA untuk memperkirakan dan mempertahankan kekuatan militer pada jarak yang lebih jauh,” kata Kritenbrink merujuk pada Republik Rakyat China (RRC) dan tentaranya (PLA).

Sumber: Reuters