Denpasar (Metrobali.com)-

Setelah berkutat selama beberapa hari menyermati karya-karya peserta Denpasar Film Festival 2013, Dewan Kurator memeringkat 69 film dokumenter yang masuk itu.  Berdasarkan pemeringkatan oleh para kurator tersebut, Panitia membuat rekapitulasi dan menetapkan “12 Film Terpilih” untuk diajukan kepada Dewan Juri. Jumlah ini melebihi jumlah yang ditetapkan sebelumnya yakni 10  film, karena berbagai pertimbangan, antara lain karena  beberapa judul film di peringkat atas memiliki nilai kembar. Demikian dipaparkan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Drs. Made Mudra, MSi kepada media saat mengumumkan hasil kurasi karya-karya peserta lomba film dokumenter dalam Denpasar Film Festival (DFF) 2013 di Denpasar,  Kamis (18/7).   

“Karya-karya yang bersaing di Denpasar Film Festival saat ini banyak yang bagus. Mereka bersaing ketat dan itu cukup memusingkan para Kurator kami,” papar Mudra yang didampingi Ketua dan Sekretaris Panitia Peyelenggara Denpasar Film Festival (DFF) 2013, Agung Bawantara dan Maria Ekaristi.

 Adapun ke 12 film terpilih tersebut berturut-turut berdasarkan abjad adalah: Amelia  karya Sigit Purwono (Denpasar), Danau Gulma karyaI Putu Oka Sudarsanadan Agus Wiranata (Denpasar), Di Balik Topeng Bondres karya  Putu Satria Kusuma (Buleleng), Di Batas Kekuasaankarya Nur Fitriah Napiz (Jakarta), Macaca Fascicularis– Di Balik Tabir MonyetEkor Panjang karya  Vicky Hendri Kurniawan (Banyuwangi), Orang Lautkarya Nur Handoyo (Jakarta), Penutur Terakhirkarya Aditya Heru Wardhana (Jakarta), Personakarya George Arif (Jakarta), Pulo Aceh; Surga Yang Terabaikankarya R.A. Karamullah (Banda Aceh), Ragat’e Anak  karya Ucu Agustin (Jakarta), Risalah Van Der Tuuk karya Irwan Wahyudi (Lampung),  dan The Man Comes Around karya Adih Saputra (Tangerang).

 Selanjutnya, ungkap Mudra, oleh panitia ke-12 film terpilih tersebut akan diserahkan kepada Dewan Juri untuk diseleksi lagi menjadi lima film unggulan. Satu dari ke-lima film unggulan tersebut nantinya akan dinobatkan sebagai film terbaik Denpasar Film Festival 2013 yang berhak memboyong Trofi DFF beserta uang tunai sebesar 20 juta rupiah.

 Secara sekilas Agung Bawantara memaparkan ringkasan cerita dari film-film terpilih tersebut. “Amelia” mengangkat kisah nyata dua bayi kembar siam yang dilahirkan dari pasangan miskin, Ketut Suardana dan Nyoman Sukerini, asal desa Busung Biu, Buleleng, Bali.Kedua bayi kembar ini berhasil dipishkan namun  karena salah satu  bayi  menderita hidrocepalus dan kelainan jantung,  hanya satu bayi saja yang  selamat. Saudara kembarannya berpulang sesaat setelah operasi.

 “Danau Gulma”  mengangkat peran Danau Batur sebagai sumber air bersih bagi beberapa kabupaten seperti Buleleng Timur, Karangasem, Bangli, Klungkung, dan Gianyar. Namun danau itu kini dihantui pencemaran dan kemungkinan pendangkalan akibat berkembang pesatnya Eceng Gondok  di situ.

 “Di Balik Topeng Bondres”  memaparkan perjalanan grup topeng bondres “Sanggar Dwi Mekar” Buleleng yang begitu populer.  Kepopulerannya selain membuat pecinta seni gembira  sekaligus membuat cemas. Mereka cemas  topeng bondres justru membuat punahnya Topeng Panca yang merupakan “induk” dari topeng bondres itu sendiri.

 “Di Batas Kekuasaan”  bercerita tentang tiga warga Jakarta yang memiliki hak pilih dengan latar belakang berbeda dalam menyikapi pemilukada DKI Jakarta 2012. Masing-masing berargumen bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik dalam pesta demokrasi ini.

 “Macaca Fascicularis – di Balik Tabir Monyet Ekor Panjang” memaparkan tentang keberadaan monyet ekor panjang yang banyak berguna bagi keseimbangan alam dan kehidupan manusia, namun  tak banyak manusia yang mengerti betapa pentingnya keberadaan mereka.

 “Orang Laut” mengangkat kisah keseharian Tadi, 62 tahun, seorang warga Bajo yang tinggal di  rumah panggung di selat Hoga. Tadi adalah seorang penombak ikan yang setiap hari mengarungi lautan bersama anaknya, La Uda, mengendarai sampan kecil. Keduanya sangat cekatan menghadapi segala hal yang terjadi di lautan. Bahkan, La Uda sanggup menyelam dan menombak ikan tanpa alat bantu apa pun.

Sementara istri Tadi adalah seorang sandro atau dukun suku Bajo yang membantu ritual memandikan bayi di laut. Dulu suku Bajo punya tradisi melemparkan bayi yang baru lahir ke laut. Tapi kini tradisi tersebut sudah berubah. Bayi cukup dimandikan dengan air laut.

 “Penutur Terakhir” mengisahkan tentang seorang gadis yang berusaha mendokumentasikan kosa kata bahasa Ibo, salah satu bahasa daerah di Maluku Utara, yang terancam punah.  Saat ini hanya tersisa empat orang penutur Bahasa Ibo.  Mereka semua berusia  di atas 60 tahun. Bila mereka meninggal maka bahasa Ibo pun lenyap dari muka bumi.  

 “Persona” berkisah tentang Rita, seorang aktris teater senior  di Teater Koma, Jakarta. Film ini mengikuti kehidupan Rita, di panggung dan di luar panggung selama enam tahun, sejak tahun 2006.

 “Pulo Aceh; Surga yang Terabaikan” mengisahkan tentang ironi sebuah kampung indah di perairan Samudera Hindia di wilayah Nangroe Aceh Darrussalam. Di kampung yang cantik itu sarana pendidikan dan kesehatan sangat memprihatinkan. Juga hal-hal lainnya yang menyakup kepentingan hidup masyarakat setempat. Hidup dengan segala kesulitan, membuat Meulingge terasa sebagai Surga yang Terabaikan.

 “Ragat’e Anak” menuturkan kisah Nur dan Mira yang berjuang untuk memberi masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka. Keduanya bekerja sebagai pemecah batu. Namun, penghasilan dari pekerjaan yang mereka lakukan sepanjang siang itu tak cukup untuk membiaya hidup mereka, maka pada malam hari keduanya bekerja sebagai pekerja seks komersial di sebuah area prostitusi liar di Kuburan Cina, Gunung Bolo.

 “The Man Comes Around” bercerita tentang Anti Tank, sebuah kelompok warga Yogyakarta yang menekuni street art sebagai ekspresi dari kepedulian mereka pada negaranya.  Anti Tank sangat gencar mengutarakan opininya mengkritik Pemerintah dengan menempatkan poster-poster mereka di ruang-ruang publik. Mereka tak gentar menghadapi berbagai hambatan, berupa ancaman dan intimidasi.  

 “Risalah Van der Tuuk”  berkisah tentang upaya penyelamatan bahasa-bahasa Nusantara yang seyogyanya dilakukan untuk kepentingan bahasa-bahasa itu sendiri, sebagaimana dipesankan dalam  surat H.N. van der Tuuk kepada P.J. Veth, 14 April 1867. 

 Seperti telah banyak diberitakan, para Kurator Denpasar Film Festival 2013 adalah Erick EST, Soma Helmi, dan  Putu Kusuma Wijaya. Mereka adalah sineas-sineas muda yang memiliki reputasi internasional. Sedangkan Dewan Juri terdiri dari Dr. Lawrence Blair, Slamet Rahardjo Djarot, Rio Helmi, Prof. Dr. I Made Bandem, dan I Wayan Juniarta.RED-MB

Baca Juga :
Wagub Sudikerta Apresiasi Langka Pendampingan BI Kepada Petani Bawang di Buleleng