Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Perdebatan Seputar Watersport di Danau Batur

Metro Bali
single-image

Ilustrasi Watersport di Danua Batur

Kabupaten Bangli adalah satu kabupaten yang masih banyak menghadapi tantangan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Satu diantara indikatornya menurut data biro pusat statistik (BPS) adalah kabupaten Bangli masuk kategori daerah 4 yaitu daerah yang memiliki pendapatan domestik regional bruto (PDRB) perkapita dan angka partisipasi sekolah (APS) lebih rendah daripada rata-rata propinsi Bali.

Menurut data BPS, tingkat pengangguran, konsumsi, pembukaan lapangan kerja juga terlihat kabupaten Bangli tertinggal dari kabupaten/kota lain di propinsi Bali. Terkait pembukaan lapangan kerja, pertumbuhan sektor usaha yang berimbas kepada tingkat pengangguran, kabupaten Bangli juga masih dalam posisi bawah. Indikator perbankan kabupaten/kota-bank umum dari Bank Indonesia yang didasarkan pada kajian ekonomi dan keuangan Regional (KEKR) propinsi menunjukkan kabupaten Bangli masih berada di tingkat terbawah. Artinya pembukaan lapangan kerja dan pertumbuhan sektor usaha terkait dengan tingkat pengajuan kredit perbankan.

Bila ditelisik lebih jauh sektor pertanian masih menjadi satu sektor andalan masyarakat di kabupaten Bangli. Namun berbagai tantangan seperti fluktuasi harga jual hasil produksi pertanian, bahan pendukung seperti pupuk menjadi kendala tersendiri. Satu sektor lain yang sangat potensial dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat Bangli adalah pariwisata. Ini tentu sesuai dengan semangat pemerintahan Jokowi untuk menggenjot sektor non-migas dan non sumber daya alam ekstraktif seperti batubara dan itu adalah sektor pariwisata. Dalam konteks Bali pembangunan sektor pariwisata telah menjadi skala prioritas sejak dulu dan menjadi sektor andalan untuk pendapatan asli daerah (PAD).

Namun kesenjangan pembangunan berbagai sektor dan terutama sektor pariwisata telah menjadi isu tersendiri di Bali. Penumpukan destinasi wisata di wilayah Bali Selatan menjadi salah satu faktor penyebab berbagai persoalan diantaranya adalah kemacetan, urbanisasi dan ketimpangan pendapatan. Sejak lama isu pemerataan pembangunan antara Bali Selatan dengan Bali Timur, Bali Barat, Bali Tengah-Utara telah menjadi perbincangan. Pemerintahan Bali saat ini yang dipimpin oleh duet Gubernur I Wayan Koster dan Wakil Gubernur Cok Ace juga mempunyai perhatian besar terhadap isu ini. Tak heran di setahun pemerintahannya telah membuat terobosan dengan pembangunan jalur short cut dari Denpasar ke Singaraja. Ini tentu sejalan dengan kebijakan pemerintahan Jokowi yang memprioritaskan perbaikan dan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah di Indonesia.

Baca Juga :
Bupati Purwakarta: Video syur oknum guru coreng dunia pendidikan

Pemerintah kabupaten Bangli dengan sumber daya alam yang terbatas tentu harus bersinergi dalam membangun daerahnya dengan pemerintahan kabupaten/kota lain dan pemerintah propinsi Bali dan tentu saja pemerintah pusat. Berbagai usaha-usaha pembangunan terus perlu digenjot bahu membahu dengan masyarakat setempat. Sinergi antar berbagai pemangku kepentingan ini mutlak dibutuhkan demi kelancaran pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sementara berbagai inisiatif masyarakat lokal tentu harus didukung penuh oleh berbagai elemen yang lain termasuk pemerintahan. Namun tantangan tentu saja menghampar di depan mata, diantaranya sikap kritis yang seharusnya bisa menjadi vitamin bagi perbaikan ke arah yang lebih baik. Namun seringkali dalam era yang serba bebas kini, sikap nyinyir dan cenderung menjatuhkan pihak lain sering mengemuka tanpa memberikan solusi yang konstruktif.

Tantangan soal pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tersebut salah satunya terjadi saat diluncurkannya sebuah fasilitas wahana permainan baru di Danau Batur, Kintamani, kabupaten Bangli. Usaha Watersport di danau Batur yang didirikan oleh seorang pengusaha lokal Kintamani tersebut mengundang perdebatan di kalangan masyarakat maya (netizen). Perdebatan tersebut bermula dari postingan seorang turis yang sepertinya tinggal di Bali dalam sebuah komunitas maya bernama Ubud Community. Intinya sang turis tersebut mengkritisi dibukanya sarana watersport di danau Batur yang dia anggap bisa merusak keindahan alam Bali dan dia menambahkan komentar bernada tanya ketiadaan visi jangka panjang dan upaya melestarikan lingkungan dan budaya Bali.

Postingan turis tersebut mendapat komentar yang cukup banyak di grup facebook bernama Ubud Community tersebut. Komentar bernada kritikan dan masukan secara umum bervariasi dari yang bernada tanya secara kritis hingga yang cenderung nyinyir mempertanyakan dibukanya watersport di danau Batur. Para netizen yang berkomentar terdiri dari warga asing dan warga lokal dengan sudut pandang pertanyaan yang umumnya berbeda. Warga asing lebih banyak mempertanyakan dan terkadang bernada retoris (tidak membutuhkan jawaban) soal dampak keberadaan watersport di danau Batur yang berpotensi merusak kelestarian alam.

Baca Juga :
Din Nilai Pengamanan KAA Tidak Berlebihan

Pertanyaan yang lebih konstruktif juga muncul misalnya karena sudah beroperasi apakah pengelola bisa menjaga keamanan baik untuk wisatawan maupun kemungkinan efeknya terhadap alam danau Batur. Sementara warga lokal umumnya berkomentar langsung menyayangkan keberadaan watersport. Warga lokal juga sebagian besar menghubungkan dibukanya watersport di danau dengan kemungkinan berimbas pada sektor penghidupan masyarakat sekitar danau Batur seperti memancing maupun keramba ikan mujair. Sementara warga asing yang mendukung berargumen bahwa dibukanya wahana permainan baru di danau Batur akan semakin meningkatkan kunjungan wisatawan serta meningkatkan lapangan kerja. Soal kelestarian alam mereka memandang tentu pihak pengelola serta pemerintah telah memikirkan bagaimana bisa tetap membuka usaha sekaligus menjaga kelestarian danau Batur. Sementara warga lokal melihat bahwa terbukanya wahana baru bisa membuka lapangan kerja buat mereka sehingga tidak perlu mencari pekerjaan ke destinasi wisata di wilayah selatan Bali.

Postingan di grup facebook lokal Bangli juga terjadi perdebatan soal dibukanya wahana watersport di danau Batur yang dibuat oleh Toya Devasya Natural Hot Spring. Grup itu bernama Bangkitnya Bangli yang merangkum netizen asal Bangli serta dari latarbelakang beragam. Dari grup tersebut terbaca bahwa anggotanya membincangkan berbagai persoalan dan contoh sukses segala hal di kabupaten Bangli, mulai soal pembangunan hingga misalnya contoh sukses putra kabupaten Bangli.

Terkait dibukanya sarana permainan watersport di danau Batur juga memunculkan perdebatan pro dan kontra. Argumen yang dimunculkan juga mulai dari pihak yang kontra bertanya apakah dampak pembukaan watersport menguntungkan atau merugikan masyarakat hingga. Pihak yang mendukung berargumen pembukaan watersport di danau Batur bisa meningkatkan kunjungan wisatawan serta mampu membuka lapangan kerja sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat.

Sejauh ini tanggapan dari pihak pengelola watersport di danau Batur yaitu Toya Devasya Watersport telah muncul di laman resmi media sosial mereka. Dari penjelasan mereka terbaca bahwa filosofi Tri Hita Karana telah menjadi landasan dalam usaha mereka termasuk pembukaan wahana watersport di danau Batur. Turunannya tentu pihak mereka berkomitmen menjaga kelestarian alam danau Batur dan kawasan Geopark Batur. Meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Geopark Batur sehingga bisa menambah lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pihak Toya Devasya Natural Hot Spring juga menyatakan terimakasih dan apresiasinya atas berbagai masukan baik yang mendukung maupun mengkritisi sarana watersport mereka di danau Batur.

Baca Juga :
Ikan Lemuru Langka, Produksi Ikan Kalengan Indonesia 45 Juta Ton Per Tahun

Pihak Toya Devasya Natural Hot Spring juga menyatakan bahwa mereka berani membuka sarana watersport di danau Batur setelah mendapatkan ijin dari pihak berwenang baik di pusat maupun pemda Bangli. Mereka berkeyakinan keluarnya surat ijin operasi tersebut tentu saja telah melewati proses yang panjang dan pihak pemberi ijin telah melakukan kajian yang mendalam termasuk soal kelestarian lingkungan danau Batur. Bahkan pihak Toya Devasya Natural Hot Spring mengajak pihak-pihak terkait untuk melakukan kajian tersendiri akan lingkungan danau Batur dan berkomitmen untuk menutup watersport mereka bila nantinya dibuktikan secara ilmiah sarana mereka mencemari lingkungan danau Batur diatas ambang batas yang bisa ditoleransi.

Perdebatan seputar dibukanya sarana watersport di danau Batur oleh Toya Devasya Natural Hot Spring ini tentu bagus untuk pendidikan masyarakat dan sektor wisata di kabupaten Bangli dan Bali secara umum. Pihak-pihak pemangku kepentingan tentunya harus terbuka atas berbagai saran dan masukan demi pembangunan sektor pariwisata di kabupaten Bangli dan Bali sehingga nantinya mampu memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan catatan masukan yang diberikan bersifat konstruktif tanpa tendensi menghakimi pihak-pihak tertentu. Nantinya muara semuanya adalah seperti dilandasi oleh filosofi Tri Hita Karana yaitu menjaga kelestarian lingkungan, memberikan kemanfaatan bagi masyarakat (manusia) dan tentu saja tidak lupa bersyukur kepada sang pencipta yang telah memberikan segalanya.   (BD)

Editor : Hana Sutiawati

 

 

 

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.