La Nyalla tolak kongres PSSI 2 November sekalipun terpilih ketua umum

Metro Bali
single-image

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) La Nyalla Mahmud Mattalitti berpose untuk pemotretan usai wawancara khusus untuk Kantor Berita Antara di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (16/10/2019). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/ama. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Jakarta (Metrobali.com) –
Calon ketua umum PSSI periode 2019-2023 La Nyalla Mattalitti menegaskan bahwa ia menolak kongres pemilihan Komite Eksekutif PSSI 2019-2023 pada 2 November 2019 sekalipun nantinya dia yang terpilih menjadi ketua umum.

“Kongres itu bermasalah. Kalaupun saya terpilih, saya tetap akan menolak karena kongresnya tidak benar. Untuk apa saya terima,” ujar La Nyalla kepada Antara di Jakarta Sabtu.

Pria yang juga menjabat Ketua DPD RI periode 2019-2024 itu pun memastikan bahwa dirinya tidak akan menghadiri kongres pemilihan PSSI pada 2 November 2019.

Namun, La Nyalla tidak menyatakan mundur dari pencalonan ketua umum PSSI. Dia hanya tidak mau menjadi ketua umum jika terpilih dalam kongres 2 November 2019.

“Kalau saya bilang jangan libatkan saya di kongres 2 November 2019, otomatis saya bilang jangan pilih saya. Biar saja voter memilih orang lain, tidak apa-apa,” kata laki-laki berusia 60 tahun itu.

La Nyalla Mattalitti menolak kongres pemilihan Exco PSSI 2019-2023 pada 2 November 2019 dengan alasan utama, kegiatan itu melibatkan pemilik suara (voter) tahun 2018.

Idealnya, lanjut La Nyalla, Exco PSSI 2019-2023 dipilih oleh voter tahun 2019. Akan tetapi, voter tahun 2019 ini baru diketahui di akhir musim kompetisi atau bulan Desember 2019.

Kongres PSSI pada 2 November 2019 diikuti oleh 86 voter PSSI yang terlibat dalam kongres luar biasa (KLB) PSSI pada Juli 2019. Voter tersebut terdiri atas 34 asosiasi provinsi (Asprov), 18 klub Liga 1, 16 klub Liga 2, 16 klub Liga 3, Asosiasi Futsal dan Asosiasi Sepak bola wanita.

Baca Juga :
Anggota KPU Jembrana Seluruhnya Baru

Yang dipermasalahkan La Nyalla adalah voter dari klub-klub yang komposisinya berganti sesuai dengan promosi-degradasi.

“Voter baru tahun 2019 itu baru terlihat di akhir kompetisi nanti di bulan Desember 2019. Ini nantinya bisa bermasalah karena voter baru mungkin saja mempermasalahkan kepemimpinan terpilih. Nanti pasti ada KLB lagi, ribut lagi. Kapan selesainya permasalahan PSSI ini,” tutur dia.

Ketua Umum PSSI tahun 2015 itu pun meminta PSSI untuk menggelar kongres pemilihan sesuai dengan kesepakatan awal bersama FIFA-AFC yakni 25 Januari 2020.

Keputusan kongres pemilihan Exco PSSI 2019-2023, yakni satu ketua umum, dua wakil ketua umum dan 12 anggota Exco, dipercepat menjadi 2 November 2019 dikeluarkan dalam KLB PSSI pada akhir Juli 2019 di Jakarta. Ketika itu, pelaksana tugas Ketua Umum PSSI Iwan Budianto mengatakan bahwa percepatan diusulkan oleh sebagian voter.

PSSI menyurati FIFA soal perubahan itu. Pada Agustus 2019, FIFA membuat surat balasan yang menyebut bahwa mereka “sangat merekomendasikan PSSI tetap kepada peta jalan yang sudah disepakati dan menunda pemilihan sesuai dengan rencana yaitu bulan Januari 2020 kecuali ada alasan valid terkait hal itu, yang tidak disebutkan dalam surat anda”.

Akan tetapi, PSSI bertahan dengan tanggal 2 November 2019 dan kembali mengirimkan pemberitahuan ke FIFA. FIFA pun pada akhirnya setuju dan bahkan bersama AFC memastikan kehadiran di acara tersebut. (Antara)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.