Harapan pedagang kaki lima Senayan untuk presiden

Metro Bali
single-image

Aqso (kiri) menyajikan sepiring ketupat sayur saat berjualan di Jalan Gerbang Pemuda samping jalan layak Ladogi saat acara pelantikan presiden dan wakil presiden, Minggu (20/10/2019). ANTARA/Laily Rahmawaty/am.

Ya semoga bapak presiden lebih memperhatikan nasib pedagang kupat sayur seperti saya ini,” kata Aqso (56) pedagang ketupat sayur

 

Jakarta (Metrobali.com) –
Harapan dan doa atas pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, disampaikan sejumlah pedagang kaki lima di kawasan Senayan agar lebih pemerintahan ke depan lebih pro kepada rakyat kecil, khususnya para pedagang kecil pengais rezeki di jalanan.

“Ya semoga bapak presiden lebih memperhatikan nasib pedagang kupat sayur seperti saya ini,” kata Aqso (56) pedagang ketupat sayur saat ditemui di bawah Jalan Gerbang Pemuda depan Jalan Layang Ladogi, Minggu.

Aqso mengatakan nasib pedagang kecil seperti dia, sehari-hari berjualan di pinggir jalan harus berhadapan dengan petugas ketentraman dan ketertiban (Trantib) yang siap menyita gerobak miliknya.

Selama 35 tahun sebagai penjual ketupat sayur, Aqso sudah kehilangan 15 gerobak dan 10 gotongan ketupat sayur karena diamankan oleh Trantib.

Sehari-hari Aqso berjualan ketupat sayur di kawasan Sudirman, pembelinya merupakan pekerja kantoran yang sudah menjadi pelanggan.

Setiap ada acara atau peristiwa di sekitar Senayan, Aqso selalu mendatangi lokasi tersebut dengan mendorong gerobaknya dari Sudirman. Harapannya cuma satu, bisa banyak yang laku.

“Kalau ada acara ini biasanya lebih ramai yang beli, makanya kita datang ke mari (Senayan),” kata bapak enam orang putri tersebut.

Seperti demontrasi yang terjadi selama 24 dan 25 September, pelantikan anggota dewan tanggal 1 Oktober, Aqso dan pedagang lainnya berlomba-lomba mencari rezeki. Banyak pedagang yang datang ke gedung Parlemen Senayan.

Baca Juga :
Angin Kencang, Pelabuhan Gilimanuk Ditutup

Bedanya kalau jualan hari-hari dapat penghasilan sekitar Rp200 ribu, saat ada kejadian atau ada kegiatan pengaman pedagang bisa bawa pulang uang Rp600 ribu.

“Kadang suka dikasih info sama anggota (polisi) juga, kan saya langganannya kebanyakan polisi,” kata Aqso.

​​​​​​

Sejumlah pedagang memanfaatkan momen di pelantikan Presiden dan Wakil Presisen terpilih di gedung Parlemen Senayan, untuk berjualan di pinggir Jalan Gerbang Pemuda, samping Jalan Layang Ladogi saat acara pelantikan presiden dan wakil presiden, Minggu (20/10/2019) (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Selain acara demo atau kegiatan penting lainnya, Aqso dan teman-teman pedagang memanfaatkan momen seperti pertandingan sepakbola di GBK untuk bisa berjualan. Bahkan rela jauh-jauh ke Monas untuk penghasilan yang lebih baik.

Menurut Aqso, nasib pedagang kecil seperti dirinya hanya bisa berjualan di pinggir jalan, untuk menyewa tempat, mereka jelas tidak mampu.

Aqso juga pernah beberapa kali menyewa tempat di dalam GBK saat ada pertandingan Tim Nasional maupun Persija. Untuk berjualan pedagang diharuskan membayar uang sewa Rp1 juta.

“Gimana saya mau sewa, setiap kali saya sewa uang yang saya dapat cuma Rp800 ribu sampai Rp900 ribu,” kata Aqso.

Aqso menyebutkan, pedagang yang bisa menyewa tempat di GBK hanya pedagang bermodal, tidak pedagang seperti dirinya.

Harapan senada juga disampaikan Syaifudin (55), pria asal Kuningan penjual es cendol yang biasa mangkal di Cawang.

“Harapan saya presiden terpilih bisa ciptakan rakyat adil makmur, aman dan sejahtera, jualan jangan digaruk, kasih ruang buat pedagang kecil,” kata Syaifudin. (Antara)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.