Foto: Pengamat pariwisata yang juga Pengurus KONI Bali Bidang Hubungan Luar Negeri dan Sport Tourism, I Dewa Putu Susila.

 

Denpasar (Metrobali.com)-

 

Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia dan dunia terus berbenah, meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi. Bahkan Gubernur  Bali  terpilih periode 2018-2023 Dr. Ir. I Wayan Koster M.M., mencanangkan akan melakukan standarisasi di berbagai aspek untuk menunjang peningkatan kualitas kepariwisataan dan kehidupan masyarakat Bali. Standarisasi ini juga dilakukan dalam upaya mewujudkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

 

Namun menurut pengamat pariwisata yang juga Pengurus KONI Bali Bidang Hubungan Luar Negeri dan Sport Tourism, I Dewa Putu Susila pengelolaan pariwisata Bali dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan belum maksimal. Masih ada berbagai kelemahan. Khususnya dalam aspek keberlanjutan lingkungan.

 

“Belum semua aspek pariwisata berkelanjutan tercapai sesuai indikator capaian. Khususnya pada aspek keberlanjutan lingkungan yang masih menjadi masalah dan lemah. Kerusakan lingkungan ini jadi tantangan tersendiri,” kata Dewa Susila saat ditemui di Istana Taman Jepun, Denpasar, Jumat (10/8/2018).

 

Dijelaskan, pariwisata berkelanjutan (sustainability tourism) meliputi tiga aspek. Yakni enviromental sustainability (keberlanjutan lingkungan), cultural and social sustainability (keberlanjutan budaya dan sosial) serta economic sustainability (keberlanjutan ekonomi). Tiga aspek itu akan terkait dengan prinsip pariwisata berkelanjutan 3P, yakni People, Planet, Prosperity, atau pemberdayaan masyarakat, kelestarian alam, dan peningkatan kesejahteraan.

 

Bagi Dewa Susila, aspek keberlanjutan ekonomi dan sosial budaya sudah cukup terlihat bagus tapi masih perlu terus ditingkatkan. Khusus aspek keberlanjutan lingkungan yang masih jadi masalah. Sebab slama ini pembangunan pariwisata masih kerap mengabaikan pelestarian lingkungan bahkan tidak sedikit yang merusak lingkungan.

 

“Contohnya ada pembangunan hotel yang melanggar sempadan pantai. Kemudian ada pembangunan villa yang juga melabrak jalur hijau. Perlu air juga tidak memerhatikan aspek daya dukung lingkungan,” ujar pria yang memang dikenal kritisi dan juga getol menyuarakan pengembangan sport tourism di Bali itu.

 

Padahal aspek keberlanjutan lingkungan dalam pariwisata berkelanjutan memegang peranan vital. Jika lingkungan rusak dan daya dukung lingkungan tidak lagi memadai, maka secara keseluruhan kualitas destinasi pariwisata itu akan menurun. Keindahan dan kenyamanan juga tentu akan terdegradasi.

 

“Aspek enviromental sustanability masih sangat lemah. Jika itu dibiarkan akan mempengaruhi aspek lainnya baik keberlanjutan ekonomi maupun keberlanjutan sosial budaya,” tegasnya.

 

Pandangan Dewa Susila juga sejalan dengan data Competitiveness Index (indeks daya saing) destinasi pariwisata Indonesia yang terkait dengan pariwisata berkelanjutan. Berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) World Economic Forum (WEF), tahun 2017  environmental sustainability Indonesia masih rendah. Ada di peringkat 131. Kemajuannya hanya sedikit. Sebelumnya environmental sustainability Indonesia bertengger di peringkat 134.

 

Secara keseluruhan yang meliputi tiga aspek pariwisata berkelanjutan Indonesia berada di peringkat 42 pada tahun 2017. Pada 2019 mendatang ditargetkan naik ke peringkat ke-30 dunia.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai peringkat 30 dunia adalah dengan meningkatkan penilaian untuk pilar keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability).

 

Untuk itu, kata Dewa Susila, semua stakeholder harus berkontribusi meningkatkan environmental sustainability.  Aspek pelestarian lingkungan dan keberlanjutan lingkungan juga harus menjadi bagian integral dan tanggung jawab pelaku industri pariwisata dan seluruh elemen masyarakat lainnya.

 

“Termasuk komponen pelestarian lingkungan ini bisa menjadi salah satu pertimbangan penerbitan atau perpanjangan izin usaha pelaku industri pariwisata,” kata pria yang juga maju sebagai bakal caleg DPRD Bali daerah pemilihan (dapil) Tabanan dari Partai NasDem nomor urut dua itu.

 

Pemerintah juga harus menindak tegas setiap pelanggaran dari pelaku industri pariwisata dan industri lainnya yang berpotensi merusak lingkungan. “Tidak boleh ada kompromi apalagi kongkalikong mengorbankan lingkungan untuk investor dan hanya mementingkan aspek ekonomi,” katanya lantas mengingatkan pariwisata berkelanjutan adalah adanya kombinasi dan keseimbangan ketiga komponen baik pelestarian lingkungan, pemberdayaan sosial budaya dan peningkatan ekonomi. Tidak boleh satu komponen meniadakan atau mengorbankan yang lain.

 

Di sisi lain pariwisata sudah menjadi isu global. Indonesia khususnya Bali harus sangat peduli terhadap pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan. Maka pariwisata harus menjadi sektor yang paling kecil menimbulkan kerusakan karena prinsip pembangunan pariwisata adalah sustainable atau berkelanjutan.

 

“Lingkungan yang terjaga merupakan aset bagi pariwisata untuk mendatangkan wisatawan. Lalu menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Ujungnya meningkatkan kesejahteraan sosial dan juga mampu menjaga budaya,” tambah Dewa Susila yang juga Sekretaris Umum (Sekum) Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (Pergatsi) Bali itu.

 

Yang tidak kalah penting, evaluasi terhadap implementasi pariwisata berkelanjutan harus berkala dilakukan.  Acuannya adalah Permen Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan, khususnya bagi pemerintah, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya. Permen ini mengadopsi standar internasional Global Sustainable Tourism Council (GSTC) yang mempertimbangkan tiga aspek utama yaitu aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk saat ini dan masa depan.

 

Di sisi lain, pemerintah pusat juga sudah cukup bagus mendorong pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Salah satunya dengan adanya

penghargaan untuk Indonesia Sustainable Tourism Awards(ISTA)  2017 diberikan sesuai kategori. Termasuk pengelola hotel ramah lingkungan (green hotel), pengelola homestay serta Community Based Tourism (CBT), pengelola destinasi yang dinilai telah berkomitmen menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan (ISTA), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan pemenang sayembara desain restoran Nusantara.

 

Di tahun 2017  sejumlah destinasi wisata di Bali meraih penghargaan bergengsi ini. Misalnya dalam kategori Tata Kelola, Plataran L’Harmonie Buleleng meraih peringkat kedua. Untuk kategori Budaya, Desa Wisata Penglipuran di Bangli dipilih sebagai juaranya. Kemudian untuk kategori Lingkungan, Desa Wisata Pemuteran di Buleleng adalah juaranya. Sementara Juara Umum diraih ITDC Nusa Dua.

 

“Dengan adanya capaian prestasi sejumlah destinasi itu, maka pemerintah daerah harus mampu mendorong seluruh destinasi wisata di Bali dikelola dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan. Hal itu juga penting untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas,” tandas pria yang juga mengabdikan diri meningkatkan kesejahteraan pelaut sebagai Ketua Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Cabang Bali itu.

 

Pewarta : Widana Daud

Editor : Whraspati Radha