Denpasar (Metrobali.com) 

 

Kelaparan terjadi di seluruh dunia seiring dengan berkembangnya virus COVID-19 dari awal 2020. Menurut analisis World Food Program, sebanyak 41 juta orang mengalami kelaparan. Selama bertahun-tahun, kelaparan di dunia terus meningkat, terlebih di negara-negara berkembang dengan tingginya tingkat kemiskinan. Pada saat yang bersamaan, kekeringan dan banjir terjadi di sebagian besar wilayah yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

Pemanasan global terus meningkat dan melaju begitu cepat, hingga melampaui kemampuan negara-negara untuk merespon masalah ini. Terlebih ketika dunia sedang menghadapi pandemi. Seperti Siklon Tropis Seroja yang melanda Indonesia, tepatnya Nusa Tenggara Timur pada 2021 silam. Direktur Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengungkapkan, “Ini adalah sesuatu yang perlu kita sadari bersama; bahwa global warming harus segera dimitigasi. Siklon Tropis bisa saja menjadi fenomena rutin tiap tahun dan akan semakin berbahaya.”

Meskipun bencana bertubi-tubi hadir dan pandemi masih saja menghantui, proyek pembangunan terus berlangsung, bahkan merambas areal konservasi. Di Bali, proyek Tol Gilimanuk-Mengwi berlangsung di tengah pandemi dan mengambil kawasan pertanian, hutan lindung, hingga Taman Nasional Bali Barat. Kemudian di wilayah lainnya, seperti Sumatera, Kalimantan, hingga Papua telah menjadi target pengembangan food estate yang menjadi bagian dari agenda strategis nasional. Menurut WRI Indonesia, food estate sudah berulang kali diupayakan, namun kerap mengalami kegagalan karena tidak berhasil mengefektifkan penggunaan lahan. Program ini pun telah berlangsung dari masa pemerintahan Orde Baru. Selain tidak efektif, food estate juga mengancam keberlangsungan biodiversitas bumi dan lingkungan.

Padahal ada alternatif yang dapat dilakukan untuk menanggulangi krisis pangan dan iklim, yaitu dengan food forest. Konsep ini yang diterapkan IDEP sebagai salah satu respon terhadap krisis lingkungan yang terjadi saat ini. “Dengan pendekatan Permakultur, proyek food forest ini sedang kami kerjakan modelnya secara khusus di Banjar Bukit Sari, Desa Sumberklampok, Buleleng,” ungkap Edward Angimoy, Koordinator Pengambangan Sumber Daya dari IDEP Foundation di Kubu Kopi Denpasar, Senin (9/5/2025).

Baca Juga :
KJRI: Tidak ada korban WNI di Arab Saudi

Food forest menawarkan bentuk yang berkelanjutan; berorientasi ekologi dan berpihak pada masyarakat. Ketika masyarakat memiliki kendali atas sarana produksi dan lahan, makan kedaulatan pangan tentu dapat dicapai. Edward juga menambahkan, “kedaulatan pangan penting karena warga berdaulat untuk menentukan produksi, distribusi, dan konsumsi pangan secara lokal, mandiri, dan berkelanjutan. Tujuannya jelas, agar warga terhindar dari krisis pangan.”

Mewujudkan kedaulatan pangan adalah capaian yang diupayakan IDEP selama hampir 23 tahun. Melalui pendekatan permakultur, IDEP mulai melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk menjadi lebih tangguh dan mandiri. “Selama kurun waktu tersebut, IDEP mencoba untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya model yang dapat memberikan gambaran nyata bagi masyarakat tentang manfaat menjadi tangguh dan bagaimana menuju ke situ,” kata Edward dalam Konferensi Pers IDEP yang diadakan pada 9 Mei 2022 di Kubu Kopi, Denpasar.

Model-model menuju masyarakat tangguh yang ditampilkan IDEP ini pun dirangkum dalam suatu rangkaian kegiatan yang berlangsung selama sepekan. Pekan Masyarakat Tangguh akan menjadi wahana IDEP dan berbagai pihak dalam menampilkan model-model masyarakat tangguh yang juga dapat direplikasi sesuai dengan kebutuhan kondisi lokal masing-masing wilayah.

Selama sepekan, akan ada berbagai kegiatan, diantaranya: Seri Webinar: Permakultur Indonesia yang dilaksanakan mulai dari Selasa, 10 Mei 2022 dengan tema Model Masyarakat Tangguh Bencana; Kamis, 11 Mei 2022 membahas tentang Perancangan Arsitektur dan Teknologi Tepat Guna untuk Masyarakat Tangguh; Jumat, 12 Mei 2022 webinar dengan tema Prinsip Permakultur dalam Pertanian Berkelanjutan untuk Kedaulatan Pangan; dan terakhir pada Sabtu, 14 Mei 2022 akan bertopik ‘Merawat Pengetahuan Lokal, Merawat Relasi dengan Alam’.

Selain itu, IDEP juga akan melakukan penanaman pohon bersama warga di lokasi food forest, tepatnya di Sumberklampok-wilayah yang berdekatan dengan hutan lindung. Selanjutnya akan pada Pasar Rakyat yang berlangsung secara daring-di seluruh media sosial IDEP-dan luring-Kulidan Kitchen & Space. Pasar Rakyat akan menjadi etalase produk-produk petani dampingan IDEP dan mitra–UKM & industri rumah tangga-yang menerapkan komponen-komponen permakultur.

Baca Juga :
Arjaya, Sarjana dan dan Sumantri Dipecat dari PDIP

Kemudian akan ada pameran yang menampilkan dokumentasi perjalanan IDEP selama 23 tahun. Pameran ini akan berada di ruang daring dan luring, sehingga siapa saja bisa melihat proses dan dinamika IDEP selama ini.

Puncak dalam Pekan Masyarakat Tangguh ini juga akan diisi dengan rangkaian lokakarya, diantaranya: Pembibitan Tanaman Sayur; Pengolahan Buah Menjadi Selai Buah; Pengolahan Kompos Skala Rumah Tangga; Pembuatan Pewarna Alami; dan Pengolahan Limbah Plastik Menjadi Ecobricks. Kegiatan ini pun diharapkan menjadi berkelanjutan, menginspirasi, dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Puncak yang berlangsung pada Minggu, 15 Mei 2022 ini juga akan diisi dengan presentasi karya proyek sosial dari komunitas dan pelajar yang terpilah dari proses seleksi sayembara yang berlangsung selama Pekan Masyarakat Tangguh. Lalu, akan ada Bedah Buku sekaligus Soft-Launching Buku IDEP bertajuk Permakultur di Wilayah Tropis. Kemudian sesi diskusi dilanjutkan dengan Pemutaran Film Lokawana yang akan membahas tentang krisis lingkungan di Bali. Puncak rangkaian acara pun diakhiri dengan hiburan dari musisi dan seniman yang mendukung kegiatan-kegiatan yang berorientasi lingkungan dan masyarakat.

Selain IDEP, akan ada berbagai komunitas, public figure, seniman, organisasi, dan masih banyak lagi yang akan melengkapi visi menuju masyarakat tangguh di Indonesia. Segala rangkaian ini juga “bertujuan untuk menghimpun masyarakat dan menginisiasi Jejaring Nasional Permakultur Indonesia,” ungkap Sri Handayani, Koordinator Pendukung dari IDEP Foundation. Ia pun menambahkan bahwa, “IDEP juga melibatkan berbagai mitra untuk mempererat silaturahmi dan berbagi pengalaman dengan masyarakat dampingan, kolega, jaringan, pendukung, hingga relawan.”

Pekan Masyarakat Tangguh yang akan berlangsung dari 9 Mei hingga 15 Mei 2022 adalah sebuah awal dan bentuk dari eksperimentasi IDEP dan komunitas lainnya untuk menuju masyarakat tangguh. “Pekan Masyarakat Tangguh ini diharapkan dapat menjadi penghubung antara warga, organisasi sipil, pemerintah, institusi pendidikan, sektor swasta, dan semua pihak yang punya harapan sama, yakni menjadi Masyarakat Tangguh bersama-sama, sebab jejaring adalah kunci memperluas gerakan bahwa Masyarakat Tangguh itu bukan mustahil untuk dilakukan bersama-sama,” tutup Edward Angimoy. (hd)

Baca Juga :
Ketua Satgas Doni Monardo Terpapar Covid-19, Masyarakat Diminta Hindari Makan Bersama