Jembrana (Metrobali.com)- Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Jembrana di Jalan Udayana, Senin (29/8/2022) didatangi sejumlah warga dari Desa Perancak, Kecamatan Jembrana.
Ketut Sudi Ardiata, salah seorang warga mengatakan maksud kedatanganya untuk mempertanyakan kasus dugaan penyalahgunaan dana BUMdes Sari Sedana Desa Perancak. Karena sudah tiga bulan belum ada perkembangan.
“Dilanjutkan atau tidak biar jelas prosesnya. Kami melihat banyak kejanggalan di Bundes ini namun berusaha ditutupi” jelasnya.
Menantunya Komang Ratna memang sempat bekerja di BUMDes dan tidak pernah memakai dana. Namun ia diminta ikut mengembalikan dana. “Jelas tidak mau urunan mengembalikan dana karena tidak memakai dana. Jika benar Ratna pakai uang itu tidak ada bukti, baik memakai uang ataupun minjam. Malah kok pengurus membuat pernyataan urunan pengembalian dana dengan mencicil. Apakah boleh seperti itu” ungkapnya.
Dikatakan dana yang diduga disalahgunakan mencapai hampir Rp.300 juta.
Sementara itu, Kasi Intel Kejari Jembrana Wuryanto didampingi anggota Pasek Arsa mengatakan bahwa kasus tersebut masih dalam proses. Bahkan kini ditingkatkan kepenyelidikan.
“Kami sudah memeriksa dua orang. Memang ada indikasi penyimpangan dana” ujarnya
Menurut mereka lanjutnya, dana yang dipakai sekitar Rp 290 juta. Meskipun sudah ada pernyataan pengembalian dana namun realisasinya belum, pernyataan itu bukan berarti menghentikan proses penyelidikan.
Pasek Arsa menambahkan BUMDes Sari Sedana berdiri sejak tahun 2010. Dan desa memberikan dana untuk pengembangan BUMDes.
Kemudian dari usaha yang  dijalankan kata Pasek, terjadi selisih anggaran yang belum bisa dipertanggungjawabkan. Dan saat dilakukan pemeriksaan dan pengawasan secara intern ada selisih Rp.282.150.000.
Pengurus menduga kebocoran terjadi pada unit perdagangan yakni jual beli beras, telor, pulsa serta lainnya. “Itu diduga untuk kepentingan pribadi. Modusnya perlu ditelusuri” ujarnya.
Di RAT awalnya tidak muncul dan setelah RAT, pengurus melapor secara pribadi ke perbekel bahwa ada selisih dana sehingga dilakukan upaya-upaya penyelesaian. “Sampai perhari ini kami masih mengumpulkan data dan dilakukan penyelidikan” tutup Pasek. (Komang Tole)