Foto: Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer bersama tokoh milenial Bali Agung Bagus Arsadhana Linggih mensosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan di Denpasar, Senin 28 Maret 2022 yang diikuti generasi milenial dari berbagai daerah di Bali.

Denpasar (Metrobali.com)-

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer terus membumikan dan mensosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan di kalangan generasi milenial sebagai upaya penguatan karakter anak bangsa dan calon-calon pemimpin ke depan.

Mengangkat tema “Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan sebagai Karakter Milenial Dalam Mewujudkan Ekonomi Kreatif yang Berkeadilan” kali ini sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dilakukan di Warung Madu Sedana, Sanur, Denpasar, Senin 28 Maret 2022 yang diikuti generasi milenial dari berbagai daerah di Bali.

Selain Demer, pembicara lainnya adalah tokoh milenial Bali Agung Bagus Arsadhana Linggih. Acara dipandu moderator Ketua DPD Partai Golkar Kota Denpasar Wayan Mariyana Wandhira yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar.

Adapun Empat Pilar Kebangsaan yang disosialisasikan yakni Pancasila sebagai Dasar Ideologi Negara, UUD Tahun 1945 sebagai konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Demer yang merupakan Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali ini mengungkapkan tema “Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan sebagai Karakter Milenial Dalam Mewujudkan Ekonomi Kreatif yang Berkeadilan” relevan diangkat dengan kondisi kekinian dimana pemerintah mendorong penguatan ekonomi kreatif yang para pelakunya banyak juga dari generasi milenial.

Dikatakan di era digital ini Indonesia mempunyai kesempatan yang luar biasa karena punya sumber daya alam dan sumber daya manusia belum lagi ada bonus demografi atau penduduk usia produktif lebih banyak.  “Sekarang ini kaum milenial, gen Z hampir mencapai 35 persen dari penduduk Indonesia dimana mereka dikenal dengan kreativitasnya. Oleh karena itu maka kita perlu lebih menggejot semangat mereka dalam bingkai Empat Pilar agar tetap memegang Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI,” tutur Demer.

“Empat pilar itu mesti kita ingatkan selalu karena kekuatan kita ada disana, kekuatan sebagai negara Indonesia, kalau kita terpecah-pecah kita tidak ada artinya. Kita punya sumber daya alam yang hebat, di bawah tanah, di laut, di udara, jadi potensi ini kita rangkaian bersama karena adanya ke-Indonesiaan kita,” papar Anggota DPR RI empat periode ini.

Sementara itu saat ditanya ekonomi kreatif yang berkeadilan maksudnya seperti apa, Demer menegaskan ekonomi kreatif haruslah bersifat inklusif. Artinya semua orang termasuk generasi mileial punya kesempatan yang sama mendapatkan kesejahteraan dari menggarap peluang ekonomi kreatif dengan 17 subsektor yang ada. Beberapa diantaranya seperti kuliner, kerajinan, fesyen, pengembangan aplikasi dan game, film dan lainnya.

“Kreativitas-kreativitas ini hanya terpendam di masyarakat dan tidak bisa jadi komoditas ekonomi, hanya segelintir orang yang menikmati ini.  Untuk itu negara hadir mencoba membantu dari yang kecil sampai menengah. Tujuan bernegara adalah pemerintah melakukan pemerataan dan keadilan. Keadilan yang dimaksud adalah nantinya terus mendorong kreativitas anak muda, kreativitas milenial agar bisa eksis di internasional, itu harapan kita,” tutur Demer.

Sementara itu tokoh milenial Bali Agung Bagus Arsadhana Linggih mengungkapkan generasi milenial punya peran besar dan strategis dalam ekonomi kreatif. Mereka adalah motor penggerak ekonomi kreatif dengan berbagai kreativitas dan inovasi yang out of the box.

“Ekonomi kreatif di Bali, anak muda yang banyak beperan karena kreativitas timbul dari anak-anak muda. Saya sendiri dari pengalaman saya, kreativitas timbul melalui hal-hal sehari-hari yang saya lakukan. Ada karya kreativitas yang saya lakukan baik untuk Bali dan negara kita,” tutur tokoh milenial yang akrab disapa Arsa ini.

Kini Arsa yang merupakan putra dari Demer ini tengah berkarya menggarap sebuah film. Intinya menceritakan perjuangan seorang mahasiswa asal Bali yang kuliah negeri Paman Sam Amerika Serikat sambil berjualan kuliner Indonesia termasuk Bali. Diharapkan film ini bisa mengangkat kuliner Bali serta Indonesia umumnya dan juga bisa membantu pemulihan ekonomi Bali.

“Timbul semangat saya membuat karya dimana kita bisa menonjolkan kebudayaan dan kuliner Indonesia. Karya yang saya buat sebuah film yang lokasi syutingnya di  dua tempat Bali dan Los Angeles. Pemeran utamanya dari Bali menempuh pendidikan di Amerika. Dia buat UMKM, food truk menjual dan menonjolkan masakan Indonesia dan sangat disukai di AS. Karya film ini saya harap bisa membantu pemulihan ekonomi Bali secara keseluruhannya,” papar Arsa.

Di sisi lain Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini disambut antusias generasi milenial Bali. Mereka juga aktif bertanya dan berdiskusi dengan para narasumber. (wid)