Harapkan Sosialisasikan Bahaya HIV/AIDS sampai Prajurit Lapangan

pelatihan peer leader

Denpasar (Metrobali.com)-

Pelatihan peer leader (pemimpin kelompok) HIV-AIDS dilingkup TNI sangat penting untuk dilaksanakan karena tupoksi TNI sebagai garda terdepan pertahanan bangsa dan negara sehingga diperlukan prajurit yang tangguh, kuat sehat jasmani dan rohani. Namun dalam pemberian informasi tentang bahaya HIV-AIDS masih terkendala oleh ketersediaan penyuluh. Oleh karena itu dibentuklah peer leader atau pemimpin kelompok sesama prajurit untuk meneruskan estafet informasi tentang bahaya HIV-AIDS pada sasaran terjauh yaitu para prajurit dilapangan. Demikian sambutan Wakil Gubernur Bali selaku Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali, Ketut Sudikerta pada pembukaan pelatihan peer leader HIV-AIDS TNI AD Kodam IX Udaya yang diselenggarakan di Ruang Aula Kompi A Yonif 900 Raider, Kuta, Senin (11/1).

  Sudikerta yang juga ketua Komis Penanggulangan Aids daerah Ball lebuh kanjut mangatakan bahwa kasus HIV-AIDS terus mengalami peningkatan. Jumlah kumulatif yang tercatat berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bali per Oktober 2015 sejak ditemukan tahun 1987 sudah mencapai total kasus 12.727 dengan rincian jumlah laki-laki 7.951 orang dan perempuan 4.776 orang. Sedangkan dari jumlah total kasus tersebut, yang sudah terjangkit HIV sudah mencapai 7.058 kasus dan AIDS 5.669 kasus dengan dimana  12.115 masih hidup dan 612 sudah meninggal. Dari total kasus yang berhasil diungkap, sebaran kasus sudah meluas keseluruh kabupaten kota di Bali dengan rincian paling banyak terdapat pada Kota Denpasar dengan jumlah kasus 4.976 disusl oleh Kabupaten Buleleng sebanyak 2.203 dan Badung sebanyak 1.998. Kasus terbanyak menyasar pada masyrakat usia produktif yaitu antara usia 15-49 tahun dari tingkat anak SMP, SMA sampai angkatan kerja baik swasta maupun PNS bahkan TNI dan Polri pun tidak luput dari serangan HIV-AIDS. Sudikerta juga menjelaskan cara penularan terbanyak masih melalui seksual dan penggunaan jarum suntik yang tercemar HIV. Namum demikian penularan dari Ibu yang terjangkit HIV ke bayinya juga menjadi trend di Bali pada saat ini terutama di Desa. Untuk itu, perlu diketahui bahwa pencegahan lebih penting daripada pengobatan. Oleh karena itu sangap penting sosialisasi dan pembentukan Peer Leader TNI AD untuk melindungi anggota dan keluarganya dari ancaman HIV-AIDS. Sehingga selanjutnya tupoksi yang diemban oleh seorang prajurit dapat terlaksana sesuai dengan garis komando. “Saya sangat mendorong upaya ini terus ditingkatkan dan diperluas cakupannya,” ujar Sudikerta.

Baca Juga :
Pemberdayaan Dadia, Adat dan Desa dalam Menghadapi MEA

 Sementara itu,dalam  sambutannya Pangdam IX Udayana yang dibacakan oleh Kabintaldam IX Udayana, Kol. I Made Sukarwa menyampaikan pelatihan peer leader HIV-AIDS TNI AD akan diselenggarakn selama 3 hari yang diikuti oleh 40 orang prajurit. Prajurit TNI merupakan bagian dari masyarakat dan bergaul di tengah masyarakat umum, tentunya penyebaran HIV-AIDS di lingkungan TNI tidak mustahil akan mendekati kondisi yang sama dengan yang terjadi di masyarakat umum lainnya. Dengan melatih para prajurit pada lini paling bawah untuk dapat memahami penyakit HIV-AIDS sehingga dapat menyampaikan informasi yang benar kepada teman di tingkat satuan atau masyarakat di lingkungannya tentang HIV-AIDS. Penanggulangan HIV-AIDS dibidang kesehatan saja tentu tidak akan optimal dikarenakan penyakit tersebut sudah terjangkit hingga kehidupan sosial masyarakat. Dalam pelatihan akan dibekali tentang cara penanggulangan HIV-AIDS serta cara memberikan informasi kepada rekan di tingkat satuan serta lingkungan masyarakat. Untuk itu, melalui pelatihan Peerl Leader diharapkan dapat meningkatkan kesadaran TNI AD dapat ikut serta mencegah penularan HIV dan penanggulangan AIDS yang sangat diutamakan agar mencapai hasil yang optimal. AD-MB