Keterangan foto: Wagub Cok Ace saat menghadiri peluncuran buku ‘Melangkah Tanpa Lelah’ Tjokorda Raka Sukawati, penemu teknik konstruksi jalan layang Sosrobahu di Aula Kampus Pasca Sarjana Universitas Udayana, Rabu (15/12/2021)/MB

Denpasar (Metrobali.com) –

Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang akrab disapa Cok Ace mengapresiasi peluncuran buku biografi mendiang Tjokorda Raka Sukawati, tokoh penemu teknik kontruksi jalan layang Sosrobahu. Ia berharap, buku yang memuat perjalanan hidup salah satu putra terbaik Bali ini mampu menginspirasi masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Hal tersebut diungkapkan Wagub Cok Ace saat menghadiri peluncuran buku ‘Melangkah Tanpa Lelah’ Tjokorda Raka Sukawati, penemu teknik konstruksi jalan layang Sosrobahu di Aula Kampus Pasca Sarjana Universitas Udayana, Rabu (15/12/2021).

Menurut Wagub Cok Ace, mendiang Tjok. Raka Sukawati merupakan salah satu putra terbaik yang tak hanya mengharumkan nama Puri Ubud, namun telah menjadi kebanggaan bangsa. Teknik Sosrobahu yang menjadi temuannya tidak saja dikenal dan digunakan di tanah air, namun sudah diterapkan di negara lain seperti Filipina. Guru Besar ISI Denpasar ini menuturkan, secara personal ia sangat dekat dengan sosok mendiang yang sudah dianggapnya sebagai seorang kakak. Bagi Cok Ace, mendiang adalah partner diskusi yang sangat cerdas serta dikenal ulet dan tekun. “Sebagai sosok seorang kakak, beliau selalu mendorong adik dan keluarga agar terus belajar dan belajar. Karena menurut beliau, hanya dengan belajar kita bisa mengubah nasib,” ucapnya.

Kenangan yang tak bisa dilupakan oleh Wagub Cok Ace adalah manakala ia mengikuti ujian terbuka saat menempuh program doktor. Saat itu, ia sama sekali tak menduga bakal mendapat pertanyaan dari mendiang Tjok.Raka Sukawati yang saat ini hadir sebagai undangan keluarga. “Saya kaget dan tak menduga beliau bertanya. Yang beliau tanyakan waktu itu adalah teori perubahan dan saya menjawabnya dengan baik. Setelah ujian selesai, beliau merangkul saya, menyampaikan apresiasi dan berpesan kepada saya agar terus belajar. Itu momen yang tak bisa saya lupakan,” ujarnya terharu. Cok Ace menambahkan, mendiang adalah sosok luar biasa yang tak melihat sesorang karena embel-embel ‘tjokorda’, tapi melihat seseorang dari kemauan untuk belajar.

Wagub Cok Ace juga mengenang mendiang sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah. “Jika belum mendapat jawaban, beliau akan terus mencari. Tak hanya berdiskusi dengan orang sekitar, tapi juga berusaha mencari jawaban dari binatang dan pohon. Itu menurut saya luar biasa,” tambahnya. Kegigihan dan pantang menyerah untuk mencari tahu itulah yang mengantarkan mendiang pada penemuan teknik Sosrobahu. Menurut Cok Ace, temuan itu bermula dari aktivitas Tjok. Raka Sukawati mengotak atik sebuah kendaraan dan saat mendongkrak, pada titik tertentu tiba-tiba kendaraan itu berputar. “Bagi kita itu mungkin hal yang biasa, tapi tidak bagi mendiang yang menjadi penasaran dan terus mencari jawaban. Beliau terus bertanya, kenapa bisa berputar. Beliau membayangkan, jika jawabannya ditemukan, maka akan menjadi sebuah teori yang bisa diaplikasikan pada pembuatan jalan dan akan memberi banyak manfaat,” tuturnya.

Yang menarik, ujar Cok Ace, jawaban itu justru mendiang temukan pada saat merenung di sebuah pura. Diceritakan olah Wagub Cok Ace, saat itu ada piodalan di sebuah pura di Ubud dan ia yang memegang kunci gedong tempat menyimpan pengadeg Ida Betara. Entah kenapa, kunci itu tertinggal di Denpasar hingga membuat prosesi upacara agak terhambat karena harus menunggu kunci gedong. “Karena beliau adalah tak bisa menyia-nyiakan waktu, selama menunggu itulah rupanya beliau merenung, terus berpikir dan berhitung tentang tekanan hidrolik. Beberapa hari kemudian, beliau mengatakan kepada saya bahwa putaran itu terjadi pada tekanan hidrolik 73. Angka itu kemudian diuji di laboratorium hingga akhirnya ditemukanlah teknik Sosrobahu. Itulah beliau yang saya kenal, tak akan berhenti sebelum mendapat jawaban yang pas,” urainya.

Berdasarkan apa yang ia ketahui secara langsung, menurutnya, buku ini memberi gambaran yang riil tentang sosok mendiang Prof. Raka Sukawati yang layak menjadi panutan dan menjadi inspirasi. Sementara itu, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud yang juga Koordinator Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana menilai, mendiang Tjokorda Raka Sukawati adalah sosok yang senang belajar. Menempuh pendidikan S1 di ITB dan S3 di UGM menjadikan Tjokorda Raka Sukawati layak menjadi inspirasi generasi penerus untuk terus mengisi diri dengan ilmu pengetahuan, bekerja keras serta mengabdi tanpa akhir. “Tjokorda Raka Sukawati adalah seorang pemberani yang memegang teguh prinsip, tidak takut dengan perdebatan, dan berani menyampaikan pemikiran dan gagasannya secara terbuka,” ujar Ari Dwipayana.

Pandangan tentang sosok Tjokorda Raka Sukawati juga disampaikan langsung oleh Tjokorda Gde Abinanda Sukawati, salah satu putra mendiang. Pria yang dikenal sebagai desainer dan akrab disapa Cok Abi ini menyebut mendiang sebagai sosok ayah yang sangat demokratis. Meski beberapa kali ia tak menuruti keinginan sang ayah terkait pilihan dalam pendidikan, namun Tjokorda Raka Sukawati tetap mendukung penuh sang anak. Hingga suatu ketika, mendiang sangat bangga dengan sang anak yang dikenal sebagai salah satu desainer kenamaan Bali. “Saya selalu ingat pesan yang beliau sampaikan, bahwa apapun ilmu pengetahuan yang kamu pilih untuk masa depanmu, ingat untuk selalu fokus, disiplin dalam hal apapun itu, senantiasa berusaha memberi yang terbaik dan selalu mencintai apapun profesimu,” pungkasnya.

Acara peluncuran buku ditandai dengan penyerahan buku oleh Cok Abi kepada Wagub Cok Ace, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho dan sejumlah tamu undangan. Peluncuran buku juga diisi dengan diskusi yang menampilkan sejumlah narasumber antara lain Popo Danes dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana Ir. I Ketut Sudarsana. Peluncuran buku dihadiri oleh keluarga besar Puri Agung Ubud. RED-MB