Ilustrasi

 

Denpasar, (Metrobali.com)

Upakara Parisudha Gumi Diperlukan, akan tetapi kita dan pemerintah daerah Bali tidak Bisa Menutup Mata terhadap Kenyataan Alam Bali yang terus Mengalami Pengrusakan.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Yayasan Kuturan Dharma Budaya, yang mensosialisasikan keteladan kepemimpinan Mpu Kuturan Raja Kertha, Jumat 8 Desember 2023.

Menurut Jro Gde Sudibya, pihaknya bersetuju dengan upakara Parisudha Gumi (penyucian alam semesta), sudah tentu dengan sejumlah persyaratan.

Dikatakan, upakara ini harus SUKLA, dilandasi dengan niat tulus, suci dan tanpa pamrih, bukan dikesankan ada motif yang berseberangan dengan sikap “nuking tuwas”.

“Perlu diwaspadai bersama, upakara “Parisudha Gumi”, semata-mata upaya menutupi kegagalan Kita menyelamatkan alam lingkungan Bali, yang dirusak dan atau mengalami pengrusakan, terutama oleh kebijakan pembangunan pro investor, merusak lingkungan dan menekan budaya,” kata Sudibya.

Menurutnya, atau, jangan-jangan upakara yang tidak lagi SUKLA ini, sebatas pelarian dari kegagalan dalam menyelamatkan alam Bali.
Mesti dihindari bersama Kita (mekupuk baca: Bahasa Bali), tetapi dalam faktanya lingkungan di sekitar Kita mengalami degradasi berkelanjutan dan kemudian rusak.

Dikatakan, dalam ketidakpastian politik di hari-hari ini, pangkal penyebabnya sudah Kita sama-sama tahu, PEMIMPIN YANG MELANGGAR ETIKA (tilar ring sesana,bahasa Jawa Kuno/Kawi), semestinya pemimpin di Bali, menjadi pemberi suri teladan, role model, dalam sistem etik dengan nilai: kejujuran, kemampuan mengendalikan diri, tenggang rasa, rendah pamrih, kerelaan berkorban buat rakyat. (Adi Putra).