SOSOK pria sederhana yang tampak masih sehat bugar pada usia “senjanya” itu, sejak anak-anak sangat akrab dengan kehidupan seni dan budaya yang berkembang dalam lingkungan sekitarnya.

Aktivitas kehidupan yang digelutinya tidak bisa dipisahkan dari seni, keadaan itu mengantarkan Drs I Made Taro (74) menjadi seniman serba bisa, terutama permainan tradisional di kalangan anak-anak.

Pria kelahiran Karangasem 16 April 1939 yang mengabdikan diri sebagai guru Sekolah menengah umum di Kota Denpasar itu mempunyai kesenangan menulis cerita, pencipta lagu dan melestarikan permainan tradisional.

Sosok Made Taro kini menjadi nominasi salah seorang penerima penghargaan pengabdi seni dari Pemerintah Provinsi Bali terkait pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke XXXV 2013 yang akan digelar 15 Juni mendatang.

Kasi Perfilman dan Perizin pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Dauh yang juga panitia PKB menjelaskan, Pemerintah Provinsi Bali melakukan seleksi terhadap seniman berprestasi dari delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini.

Tim yang melakukan seleksi tersebut beranggotakan utusan dari instansi terkait dalam bidang seni dan budaya. Masing-masing pemerintah kabupaten/kota di Bali mengusulkan sejumlah senimannya yang dinilai mempunyai prestasi dan pengabdian dalam bidang seni dan budaya yang menonjol pada masanya.

“Tim tingkat provinsi menyeleksi mana-nama yang dikirim oleh masing-masing kabupaten/kota, didasarkan atas prestasi, dedikasi, dan pengalaman dalam bidang memajukan seni budaya di Bali, khususnya di daerah masing-masing,” ujar Wayan Dauh.

Sosok Made Taro lewat Sanggar Kukuruyuk dan pasraman atau mirip pesantren yang dirintisnya di kawasan Suwung Kangin, Kota Denpasar sejak tahun 1973 atau 40 tahun yang silam melatih dan mengasuh sekitar 5.000 anak-anak.

Anak-anak seusia sekolah dasar itu menekuni aneka jenis permainan tradisional yang dikolaborasikan dengan rindik, instrumen gamelan yang terbuat dari bahan bambu.

Baca Juga :
Bupati Tabanan Apresiasi Sinergi TNI dan Masyarakat Dalam Pembangunan Pompa Hydram di Desa Tangguntiti

Bali sedikitnya memiliki 200 jenis permainan tradisional yang biasa dilakoni oleh anak-anak pra sekolah maupun seusia Sekolah Dasar (SD).

Dari jumlah itu 81 jenis diantaranya berhasil dikemas dalam bentuk seni dan dipentaskan dalam memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB), aktivitas tahunan seniman di Pulau Dewata.

Suami dari Ni Wayan Wati yang sering dipercaya sebagai koordinator pementasan permainan anak-anak memeriahkan PKB itu menjelaskan, dar 81 jenis permainan yang sudah diperkenalkan itu, beberapa diantaranya bersifat ulangan karena sebelumnya sudah pernah ditampilkan kabupaten lainnya.

Pengulangan itu akibat tidak adanya komunikasi antarkabupaten/kota, meskipun permainan tradisional antara satu kota dengan kabupaten lainnya berbeda, namun dari segi materi sama.

Permainan tradisional bagi anak-anak asuhan ayah dari empat putra dan putri juga tampil mengisi acara “Plalian” yang disiarkan TVRI Stasiun Denpasar secara berkesinambungan.

I Made Taro, pensiunan guru SMU Negeri II Denpasar kiprahnya dalam bidang seni menulis 30 buku tentang permainan tradisional dan lagu yang sangat disenangi oleh anak-anak.

Selain itu menggali dan melestarikan lagu daerah Bali bernuansa anak-anak sekitar 225 judul, disamping mendapat kepercayaan untuk menatar para guru-guru bidang studi Bahasa Daerah Bali tentang cerita dan permainan tradisional.

Demikian pula sering mendapat kepercayaan sebagai pembicara seminar yang berkaitan dengan permainan tradisional di Bali, nasional antara lain ke Jakarta, Padang dan Surabaya.

Tampil sebagai pembicara dalam kegiatan internasional antara lain di Australia, Afrika Selatan dan Singapura.

Buat Rindik Sosok Made Taro yang aktif menciptakan kreasi baru untuk mengiringi permainan anak-anak itu juga memiliki keahlian membuat rindik, alat musik tradisional Bali yang terbuat dari bahan bambu.

Perangkat musik tradisional Bali dari bahan bambu itu khusus untuk mengiringi permainan anak-anak atau biasa juga digunakan untuk mengiringi tari Joged, sejenis tari pergaulan untuk muda-mudi.

Baca Juga :
KPK tahan empat tersangka suap Bupati Purbalingga

Ayah dari Gede Tarmada, Made Termeda, Nyoman Tardama dan Ketut Tarmadi itu tak henti-hentinya memberikan inspirasi dalam menciptakan karya baru bermutu, yakni membuat berbagai jenis rindik, yang memiliki suara merdu sanggup untuk mengiringi berbagai jenis tari maupun permainan tradisional.

Berkat dedikasi dan pengabdiannya terhadap penggalian, pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali itu mengantongi sejumlah penghargaan antara lain dari Presiden RI tahun 2009 dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2008.  * Ketut Sutika