Ilustrasi

 

Denpasar, (Metrobali.com)

Jika dilakukan kilas balik dalam menapaki Tahun Baru Saka 1945, Bali setelah ekonomi pariwisatanya hampir mati suri hampir tiga tahun akibat pandemi, dihadapkan pada tantangan yang pada dasarnya tidak ringan, menyebut beberapa:

Pertama, proyek infrastruktur berlabel pemugaran Besakih dengan anggaran negara Rp.950 M, telah menodai spiritualisme Besakih, akibat gedung “jangkung” berfungsi komersiil, “menghempang”, menghalangi “tetuek kayun” dari Pura Dalem Puri simbolik Pradana dan Pura Penataran Agung simbolik Purusha, Tuhan itu sendiri, ekspresi simbol Tuhan “sane mecihna sakeng Giri Toh Langkir”.Bentang ruang dari Dalem Puri sampai Pura Penataran Agung, ruang kesucian semestinya bebas dari kegiatan komersiil terlebih-lebih dalam nuansa ekonomi kapitalistik sekuler.¬†Perubahan kontur Besakih, diyakini akan berdampak serius bagi Bali ke depan.

Kedua, politik segregasi Dresta Bali VS Non Dresta Bali, tanpa landasan teologi, sosiologi agama dan filosofi kehidupan yang jelas, kalau tidak mau dikatakan ngawur, melahirkan wacana tidak produktif dan tidak bermartabat, menimbulkan segregasi pada masyarakat dari sisi suku dan keyakinan agama, tergolong minoritas dalam masyarakat multi kultur negara bangsa Indonesia. Wacana tidak produktif dan punya kecendrungan membodohi, menguras energi masyarakat yang sedang berbenah secara ekonomi untuk kembali pulih pasca krisis akibat pandemi, dan menyiapkan ancang-ancang menghadapi dinamika perubahan yang semakin sulit dipetakan.

Ketiga, demokrasi yang mengalami regresi, penurunan kualitas, yang berakibat ide-ide kreatif dan inovatif di setiap sisi kehidupan: politik, ekonomi, kultural tidak lahir, bisa karena: rasa takut, bermain aman, “ngekoh”, budaya “milu-milu tuwung” dan “suryak siu”, yang kemudian menafikan, meminggirkan dan mematikan potensi sumber daya yang ada. Tanpa harus menjadi terjebak ke fanatisme sempit, pihak luar memanfaatkan kesempatan ekonomi yang ada, mereka yang akan menikmati hasilnya, karena kita bertengkar satu sama lainnya, seperti pribahasa Bali yang begitu populer: “ngerebutin balung tanpa isi”.

Di sinilah kebesaran (greatness) kebudayaan Bali akan diuji, apakah “terjun bebas” atau mencoba meniti untuk bangkit pasca pandemi yang menyakitkan.

Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kebudayaan Bali.