SEBUAH patung Kumbakarna tinggi lima meter, sentuhan seniman I Wayan Nyungkal asal Desa Tegallalang, Kabupaten Gianyar, menjadi salah satu hiasan halaman Taman Budaya Denpasar, tempat berlangsungnya aktivitas seniman selama pelaksanaan Pesta Kesenian Bali XXXV tahun 2013.

Karya seni yang melambangkan kesetiaan kepada Nusa dan Bangsa Indonesia itu, merupakan salah satu elemen taman yang penataannya dilakukan secara apik, disamping tujuh panggung pementasan, beberapa di antaranya yang baru saja direnovasi sehingga sanggup menampung seluruh aktivitas seniman di Pulau Dewata, Nusantara maupun seniman mancanegara.

Taman Budaya Denpasar (TBD) tempat berlangsungnya PKB selama 35 tahun berturut-turut itu, digagas budayawan, Prof Dr Ida Bagus Mantra (alm), yang juga mantan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan mantan gubernur Bali.

Taman Budaya yang berlokasi di jantung kota Denpasar dibangun di atas lahan seluas 6,5 hektare dilengkapi sejumlah fasilitas yang dibangun dan berfungsi sejak 1978 bertepatan dengan digelarnya PKB yang pertama.

Selama 35 kali pelaksanaan PKB, aktivitas seni tahun yang digelar secara berkesinambungan seluruhnya mengambil lokasi di kawasan Taman Budaya, tutur Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Ketut Suastika.

Taman Budaya yang kini menjadi tempat bergengsi, karena empat grup kesenian dari India, Timor Leste, Jepang dan Amerika disamping sejumlah tim kesenian Indonesia juga ikut memeriahkan PKB.

Demikian pula 334 grup kesenian terbaik yang didukung sekitar 15.000 seniman dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali dengan jadual yang tersusun sedemikian rupa pentas selama sebulan PKB berlangsung, 15 Juni-13 Juli 2013.

PKB yang kali ini mengangkat tema “Taksu: Membangkitkan daya kreativitas dan jati diri” telah dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di panggung Ardha Candra Taman Budaya Denpasar, Sabtu, 15 Juni 2013.

PKB selain pementasan juga diisi dengan berbagai jenis perlombaan, pameran industri kecil kerajinan rumah tangga, dan sarasehan yang keseluruhannya berlangsung di kawasan Taman Budaya, kecuali pawai budaya mengawali pembukaan PKB dilaksanakan di sekitar Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandi Renon Denpasar.

PKB telah menjadi kebanggaan masyarakat Bali untuk menunjukkan kemampuan dan kebolehan para seniman dalam menggali, melestarikan dan mengembangkan seni budaya setempat.

TBD yang dilengkapi panggung terbuka Ardha Candra berkapasitas 8.000-10.000 penonton, dan enam panggung pementasan lainnya dengan kapasitas lebih kecil yang selama ini selalu padat selama sebulan penuh PKB berlangsung.

Bangun stand permanen Gubernur Made Mangku Pastika ketika meninjau persiapan PKB sebelum dibuka kepala negara mengusulkan, beberapa bagian stan pameran industri kerajinan rumah tangga di arena PKB Taman Budaya Denpasar dibangun secara permanen.

Usulan itu atas dasar bongkar pasang selama ini sehingga cukup repot dan kumuh, disamping biayanya tinggi. Untuk itu beberapa tempat yang betul-betul setiap tahun digunakan dibangun permanen sehingga saat PKB tinggal didekorasi.

Penataan Taman Budaya yang semakin baik dan rapi menjelang pelaksanaan aktivitas seni tahunan Pulau Dewata itu belum sepenuhnya bisa memberikan kepuasan. “Saya masih belum puas, kita harus berpikir lebih jauh lagi ke depan. Saya ingin arena ini betul-betul bisa bermanfaat untuk para seniman seluruh Bali sepanjang tahun. Bukan hanya setahun sekali dalam sebulan, sayang jika begitu,” ujar Gubernur Pastika.

Mantan Kapolda Bali itu memandang Taman Budaya sebagai aset yang besar sehingga harapannya para seniman dapat mengisi arena tahunan pelaksanaan PKB itu dengan kegiatan yang benar-benar bisa melestarikan dan mengembangkan budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ketut Suastika menambahkan, total stan pameran PKB kali ini sebanyak 260 buah menampung para perajin dari sembilan kabupaten kota di daerah ini maupun sejumlah daerah di Indonesia.

Pementasan panggung Guru besar Universitas Udayana Prof Dr I Nyoman Darma Putra yang juga pengamat pariwisata dan seni budaya Bali menambahkan, pendirian Taman Budaya merupakan bentuk pengembangan seni budaya Bali untuk kepentingan pementasan panggung (staged culture).

Terobosan yang dilakukan hampir setengah abad yang lalu dinilai sangat cemerlang, di tengah kondisi sekarang sangat sulit mencari ruang untuk dijadikan panggung mementaskan kesenian Bali.

“Dulu, pentas kesenian drama gong, joged, bisa dilakukan di halaman luar pura, di bale banjar, di bawah pohon atau di ladang kering yang menanti air untuk ditanami padi. Kini, ruang-ruang terbuka yang bebas seperti itu sudah tidak ada lagi, sungguh sulit mencari panggung pementasan,” ujar Darma Putra, alumnus S-3 University of Queensland Australia.

Oleh sebab itu adanya fasilitas Taman Budaya Denpasar yang kini dijadikan lokasi pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB), aktivitas seni tahunan di Pulau Dewata secara berkesinambungan setiap tahun, merupakan antisipasi atas kian sulitnya mencari panggung kesenian di Kota Denpasar dan sekitarnya.

Almarhum Prof Mantra yang dipercaya menjadi Gubenur Bali (1978-1988) mempunyai inisiatif mendirikan taman budaya atau gedung kesenian di tingkat kabupaten sebagai “art centre mini”.

Sementara Art Centre Denpasar menjadi arena PKB dan gedung kesenian di tiap kabupaten menjadi pelaksanaan pesta seni di tingkat kabupaten atau gedung pertunjukan kesenian lainnya pada hari-hari tertentu.

Pembangunan Art Centre Denpasar dan gedung kesenian di kabupaten adalah gagasan yang cemerlang dalam penyelarasan perkembangan budaya jalanan (street culture) dan budaya yang dipentaskan di panggung (staged culture).

Namun dalam perkembangannya banyak gedung kesenian di kabupaten gagal meneruskan fungsinya sebagai bagian dari budaya panggung, akibat kombninasi antara komitmen pemerintah dan masyarakat luntur, tidak ada dana untuk biaya merawatnya, disamping lokasinya di jalan utama yang tidak cocok lagi untuk sebuah panggung pementasan, tutur Darma Putra. Ketut Sutika/MB