tersangka bali nine

Jakarta (Metrobali.com)-

Dua warga Australia Andrew Chan dan Myuran Sukumaran yang tertangkap pada 2006 dalam kasus menyelundupan 8,3 kilogram heroin ke Bali saat ini tinggal menunggu eksekusi hukuman mati setelah permohonan grasi ditolak.

Ketegasan Pemerintah Indonesia melakukan eksekusi mati, yang rencananya akan dilaksanakan di Nusakambangan, Jawa Tengah, membuat Pemerintah Australia mengecam.

Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop, mengancam pihaknya akan menggiring opini publik agar warga Australia tidak berwisata ke Indonesia. Hal ini sebagai imbas rencana Pemerintah Indonesia mengeksekusi mati dua gembong narkoba “Bali Nine”.

Bishop meyakini penurunan wisatawan dari negeri kanguru akan segera terjadi usai eksekusi. Soalnya dia menerima banyak informasi bahwa warga Australia ramai menyusun petisi mengecam sikap Indonesia.

Padahal Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menetapkan pariwisata sebagai sektor andalan yang harus didukung oleh semua sektor lain terutama yang terkait langsung terutama infrastruktur dan transportasi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya di Istana Bogor, Senin (16/2), setelah melaksanakan Rapat Terbatas yang dipimpin oleh Presiden Jokowi mengatakan pariwisata ditetapkan sebagai leading sector oleh Presiden.

“Pariwisata dijadikan sebagai ‘leading sector’ ini kabar gembira dan seluruh kementerian lainnya wajib mendukung dan itu ditetapkan oleh Presiden,” katanya.

Ia mencontohkan, jika saat ini ada suatu daerah yang ditetapkan sebagai kawasan strategis pariwisata nasional maka instansi lain wajib mendukung, misalnya Kementerian Pekerjaan Umum harus segera membuka jalan meskipun di wilayah itu bukan termasuk jalan nasional.

Pihaknya sendiri telah menyusun “cetak biru” sektor pariwisata karena ada 88 kawasan strategis pariwisata nasional yang tersebar di seluruh provinsi.

“Fokusnya secara tradisional masih di Bali, Jakarta, dan Batam Kepri, karena tiga daerah itu menyumbangkan 90 persen,” katanya.

Untuk selanjutnya pihaknya akan fokus menggarap sektor pariwisata di lima destinasi unggulan yang lain yakni Bandung, Surabaya, Sumatera (Kualanamu dan Danau Toba), Jawa Tengah, dan Makassar.

Baca Juga :
Indonesia Kaya SDA Seharusnya Tidak Miskin

Sektor Pariwisata kemudian ditargetkan mampu menyumbangkan devisa negara mencapai 12 miliar dolar AS tahun ini dengan target kunjungan wisman sebesar 12 juta orang sampai tutup tahun ini.

Soal ancaman Menlu Bishop, Menteri Arief Yahya merespon ancaman yang dilayangkan Pemerintah Australia untuk memboikot wisata ke Indonesia apabila Pemerintah Indonesia tetap mengeksekusi mati gembong narkotika tersebut.

“Pariwisata itu basisnya ‘people to people’ bukan ‘government to government’ sehingga diharapkan ketika orang tua berantem anaknya masih main bersama, ini diharapkan seperti itu juga,” kata Arief Yahya.

Oleh karena itu, ia berharap hubungan” people to people” termasuk hubungan sosial budaya antara rakyat Indonesia dengan rakyat Australia tetap terjalin baik.

Sejauh ini, pihaknya memantau belum ada pengaruh yang berarti terkait ancaman yang dilayangkan Pemerintah Australia tersebut. Meskipun begitu Arief menyatakan berhati-hati untuk berkomentar karena khawatir memperkeruh keadaan.

“Sebaiknya tidak bilang tidak khawatir karena mereka nanti akan (cenderung) membuktikannya, praktiknya anak-anak akan bermain dengan gembira, bisa dilihat dari angkanya meskipun orang tuanya sedang ngambek. Tidak ada pengaruhnya,” katanya.

Oleh karena itu Arief menyatakan tidak akan mengoreksi target untuk kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) dari Australia atau tetap pada angka 1,2 juta wisman sampai tutup tahun ini.

“Tidak akan ada koreksi target, karena secara statistik tidak turun, tidak ada pengaruhnya. Tapi ini bukan berarti menantang ya,” katanya.

Masuk lima besar Turis asal Australia selama ini masuk dalam lima besar terbanyak yang berkunjung ke Indonesia atau rata-rata sejuta dalam setahun yang berarti hampir 10 persen dari total seluruh wisman yang berkunjung ke Tanah Air tahun lalu yang mencapai 9,4 juta orang.

Baca Juga :
Gubernur Koster dan Duta Besar Negara Uni Eropa Toast Arak Bali

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengaku tak khawatir dengan ancaman pemerintah Australia yang akan memboikot perjalanan wisata warganya ke Indonesia karena tidak membatalkan hukuman mati terhadap dua warganya, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan.

“Saya kira orang-orang Australia akan cukup cerdik menentukan ke mana mereka akan berlibur,” kata Retno.

Retno justru mempertanyakan cara pemerintah pemerintah Australia mencegah warga negaranya untuk berkunjung ke suatu tempat.

“Saya ngak bisa kebayang bagaimana caranya. Jadi sekali lagi rakyat Australia akan cerdik untuk menentukan ke mana mereka akan berlibur,” tegasnya.

Retno menjelaskan bahwa pemerintah akan konsisten untuk melakukan hukuman mati karena tidak ada satu pun yang dilanggar oleh Indonesia dalam hal ini.

“Jadi pesan itu kita sampaikan secara konsisten di semua komunikasi, baik komunikasi melalui telepon maupun surat. Jadi kita paham posisi mereka, mereka juga paham posisi kita mengenai kebijakan-kebjikan yang diambil oleh pemerintah Indonesia,” ungkapnya.

Retno juga mengungkapkan bahwa dirinya sudah melakukan pembicaraan dengan menteri luar negeri Australia berkaitan dengan kedaulatan suatu negara untuk menjalankan penegakan hukumnya.

“Indonesia selalu bersahabat dengan negara mana pun tapi pada sisi lain kita juga mengatakan bahwa ‘law enforcement’ tetap dilakukan,” katanya.

Retno juga mengungkapkan Kementerian Luar Negeri telah menyampaikan ke Presiden Jokowi untuk mendukung penuh peningkatan sektor pariwisata.

“Saya tadi sudah laporkan kepada Presiden, misalnya untuk pelayanan visa, perwakilan-perwakilan kita di luar negeri sebagian sudah memakai online navigation,” katanya.

Retno mencontohkan pelayanan Visa maksimal tiga hari kerja sudah selesai dan melakukan pelayanan yang bersahabat, cepat, tepat, akurat dan akuntabel.

“Jadi kami di garda paling depan siap mendukung promosi wisata Indonesia,” kata Retno.

Baca Juga :
Dolar Jatuh Karena Aksi Ambil Untung

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali optimistis eksekusi mati terhadap dua narapidana berkewarganegaraan Australia tidak memengaruhi pariwisata di Pulau Dewata.

“Australia sudah beberapa kali memberikan peringatan atau imbauan kepada warganya apabila bepergian ke Indonesia termasuk Bali dan itu tidak ada pengaruh signifikan. Sedangkan terkait menjelang eksekusi mati dua narapidana Australia, itu juga tidak berpengaruh signifikan,” kata Ketua GIPI Bali, Ida Bagus Ngurah Wijaya di Denpasar.

Optimisme tersebut diungkapkan menyusul upaya yang gencar dilakukan pemerintah Australia yang menginginkan eksekusi mati terhadap Myuran Sukumaran dan Andrew Chan dibatalkan.

Selain meminta pengampunan dan membatalkan eksekusi mati itu, pemerintah Australia juga meminta warganya untuk mempertimbangkan tempat berlibur bagi warganya termasuk ke Bali mengingat sebagian besar turis dari negeri kanguru itu berlibur ke Pulau Dewata.

“Pariwisata itu urusan manusia sedangkan eksekusi mati tersebut merupakan urusan hukum yang kini melibatkan dua negara. Terkait hal itu, ini murni merupakan penyataan politis. Indonesia juga akan melakukan upaya apabila ada warganya akan dieksekusi mati di suatu negara. Jadi Australia harus menghormati hukum di Indonesia, begitu pula sebaliknya,” katanya.

Sementara itu hingga saat ini, lanjut Ngurah, belum ada keluhan atau pembatalan kunjungan turis dari Australia ke Pulau Dewata.

Turis dari Australia sejak beberapa tahun selalu menduduki posisi teratas jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di Pulau Dewata.

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali menyebutkan selama tahun 2014, jumlah turis Australia yang berkunjung ke Pulau Dewata sebanyak 991.923 orang atau naik 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan total jumlah wisman berwisata di Bali selama 2014 mencapai hampir 3,8 juta orang. AN-MB